Museum Rekor Indonesia di Tabanan, Haruskah?

Sebelumnya saya ucapkan selamat buat rekan – rekan yang telah bekerja keras dalam mengusahakan kegiatan pencapaian Rekor yang dicatat oleh Museum Rekor Indonesia kemarin di Tabanan. Saya ingin berbagi sedikit pandangan saya mengenai pencapaian yang tentunya ini tidak mudah dilakukan baik secara fisik, mental dan dana.

Kita harus apresiasi teman – teman kita dilapangan yang saya yakin sudah menghabiskan banyak sekali waktu, pikiran dan tenaga untuk mengusahakan kegiatan ini berjalan sesuai dengan standard dari pemecahan rekor tersebut. Ini memerlukan energi dan persiapan yang luar biasa.

Seandainya kegiatan seperti ini memang bisa dilakukan secara kontinue dan sedikit lebih terarah, saya yakin dampaknya akan sangat bagus. Misalnya saja, nanti dibuatkan kegiatan yang bisa dicatat di MURI untuk membajak sawah dengan tenaga tradisonal (SAPI), secara serentak di satu subak, atau malah di satu kecamatan. Menurut saya nilainya lebih bermanfaat. Bukan berarti tari pendet masal tidak memiliki nilai, namun nilainya kurang untuk jangka panjang. Setelah acara tersebut selesai, lalu apa selanjutnya? Kalau saja membajak sawah tersebut bisa masuk rekor MURI, setelah kegiatan tersebut, para petani akhirnya memiliki satu ekor sapi yang bisa dipergunakan untuk kelanjutan hidupnya.

Di satu sisi, seperti yang pernah saya post sebelumnya, pencapaian rekor muri adalah salah satu usaha yang bagus untuk meningkatkan branding / pencintraan external kabupaten Tabanan. Namun ingatkah kita akan cerita ada mobil ambulance Rumah Sakit Tabanan yang berlalu begitu saja walaupun melihat orang yang memerlukan pertolongan karena terkena musibah? Pada saat itu saya mengatakan bahwa, yang paling penting dalam usaha melakukan pencitraan sebuah brand / produk atau jasa adalah bagaimana kita bisa membangun internal branding yang baik. Jika sistem di internal, baik itu sistem komunikasi, tata cara dan sistem managemen yang lainnya sudah ditata dengan baik, maka secara otomatis, pencitraan keluar / eksternal branding akan secara otomatis terbentuk, kemudian tinggal dikuatkan saja dalam sebuah iklan atau kegiatan lainnya.

Masalah internal yang terjadi saat ini sangat banyak menurut saya dari kacamata rakyat biasa. Seandainya hal tersebut bisa diselesaikan terlebih dahulu dengan sekala prioritas, baru kemudian diikuti dengan melakukan pencitraan external, maka sorak sorai masyarakat pun akan tersenyum dengan lebar.

WB