Mebalih Tipi

Mebalih Tipi yuk,,, demikian kenangan saya waktu masa kecil di era tahun 70-an. Ketika itu paman saya mengajak saya jalan-jalan menuju kantor Kecamatan Tabanan mebalih TIPI. Saya pun belum mengerti bagaimana bentuk TIPI, dan tidak mengerti mebalih TIPI itu seperti apa? Saya pun berangkat dengan penasaran.

Sesampai di depan kantor Camat (Areal Taman Kota Sekarang), saya hanya melihat kerumunan orang berdiri di jendela rumah dinas disebelahnya. Karena saya masih kecil, saya pun tidak bisa melihat kedalam. Terhalang oleh orang-orang dewasa yang menghadap ke dalam. Saya hanya bisa melihat beberapa lukisan didinding. Beberapa menit saya mengira lukisan-lukisan itulah TIPI yang di tonton orang.

Bebarapa saat kemudian, saya bisa melihat kedalam rumah lebih jelas. Terlihat benda berbentuk kotak dengan layar kaca menyala. Ada gambar orang bergerak-gerak, hitam putih. “Ohh”, saya baru sadar, ternyata TIPI itu sebuah kotak kecil yang ada layar kacanya. Ada gambar orang bergerak tanpa saya mengerti apa yang di dibicarakan karena suaranya tidak terdengar sampai diluar. Itulah pengalaman pertama kali saya melihat TIPI.

Menjelang Piala Dunia Sepak Bola di Argentina Tahun 1978 bapak saya membeli TIPI hitam putih, sejak itu saya sudah bisa menonton TIPI dirumah. Kala itu, ada harapan besar terhadap siaran TIPI, walau hanya TVRI yang sebagian besar siaran pedesaan dan pembangunan di era “Bapak Pembangunan”. Kala itu, setiap warga hafal betul dengan program siaran dari awal hingga akhir, dengan iringan lagu penutup “Rayuan Pulau Kelapa”- karangan Ismail Marzuki; ”Tanah airku Indonesia Negeri elok amat kucinta dan seterusnya…” Hampir 27 tahun sejak tahun 1962 warga Indonesia hanya menonton satu saluran TV.

Sejak tahun 1900-an era TVRI mulai diimbangi dengan hadirnya TV Swasta dengan hadirnya RCTI dan SCTV. Kini abad ke-21 teknologi TIPI berkembang pesat, mulai dari satelit dan dan prangkat teknisnya. Mulai dari iklan sampai senitronnya. Masyarakat pun dimanjakan dengan berbagai pilihan isi siaran. Ada yang “tuntunan” ada juga yang juga “tontonan”. Ada yang “hiburan” ada yang “mengaburkan”. Ada yang “Narsis” ada juga yang “Miris”. Masyarakat pun tidak bisa hafal lagi dengan mata acara TV, bahkan tidak sempat lagi menonton TV. Bahkan yang menyedikan, bayak siaran TV yang tidak sesuai lagi dengan realitas dan budaya Nusantara.

Pesatnya perkembangan stasiun dan siaran TV, ternyata oleh sebagian orang mulai menjenuhkan juga. Seperti komentar sahabat saya. Ia bilang, “Sekarang warga di desanya sudah mulai “meng-gudang-kan” TV –nya. Saat ini, warga kampungnya lebih memilih nongkrong di leneng-leneng dan balai bengong sebagai “media”. Karena semua media TV mastrubasi asik memuaskan dirinya sendiri, “ tulisnya dalam SMS.

Saya pun bisa memahami perasaan sahabat saya itu. Saya pun merenungi kegelisahannya. “Memang saat ini masyarakat harus kritis dan bijaksana menonoton siaran TV, bermanfaat atau tidak, benar atau tidak semua berpulang kembali pada Pemirsanya”. (**) made nurbawa.

foto diambil dari http://blog.mysanantonio.com