Men Wahyu, si Pebisnis Sayur

Aktifitas masyarakat di banjar Bengkel Gede, desa Bengkel pagi itu sedikit berbeda dari biasanya. Sawah yang sebelumnya tampak menguning kini telah dipanen. Sebagian sawah masih tertutup dengan tumpukan jerami dan sebagian lagi terlihat hijau berisi sayuran.

Sebuah mobil terbuka berwana hitam penuh berisi sayur terlihat parkir dipinggir jalan. Sang pemilik mobil terlihat ikut membantu rekannya bekerja di sawah.

Ternyata pagi itu penduduk desa sedang memanen sayur hijau dibeberapa pematang sawah. Aktifitas ini berlangsung setelah sebelumnya mereka memanen padi. Hal ini selalu dilakukan untuk menjaga kondisi tanah agar tetap subur dan berharap mendapatkan hasil panen yang baik pada musim tanam berikutnya

Saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai aktifitas baru ini. Saya katakan baru karena sebelumnya jarang sekali penduduk desa menanam sayur hijau dengan serempak seperti ini. Biasanya sehabis panen, lahan yang mereka punya hanya dikontrakan kepada para pebisnis semangka.  Biasanya jika panen semangka tiba, truk-truk pengangkut semangka tersebut berjejer dipinggir jalan yang memang dekat sawah.

Kebetulan di depan rumah, Men Wahyu dan suaminya sedang mengikat sayur hijau yang siap jual dan ditumpuk dipinggir jalan sembari menanti saudagar yang akan mengangkut seluruh hasil panennya untuk kemudian dijual di Peken Badung. Dari obrolan singkat saya dengan Men Wahyu, ternyata hasil dari berbisnis sayur ini lumayan menjanjikan.

Siklus hidup sayur hijau ini kurang lebih 28 hari. Dengan membeli lima kaleng bibit, sudah cukup untuk lahan sekitar 10 are. Total biaya yang dikeluarkan untuk 10 are ini sekitar Rp 500.000 sudah termasuk bibit dan pupuk. Dan hasil panennya bisa berkisar antara 2jt – 4jt untuk lahan 10 are. Sayur hijau ini dijual per kilo. Satu kali panen, untuk lahan 10 are tersebut bisa menghasilkan sekitar 2,5 ton sayur.

“Satu kilo harganya sekarang cuma Rp 1000. Kalau dulu satu kilo bisa mencapai Rp 3000. Ya lumayanlah untuk mengisi lahan yang kosong sebelum nanti menanam padi lagi. Ini pekerjaan yang paling gampang dilakukan dan hasilnya lumayan,” tutur Men Wahyu.

Bisa dibilang jika panen berhasil, setiap kepala keluarga bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar . Apalagi kalau misalnya setiap pebisnis sayur ini dibekali dengan kemampuan menjual. Pikir saya saat itu. Karena selama ini sayur mereka hanya di drop dipengepul, kemudian merekalah yang akan membantu memasarkan ke pasar-pasar traditional.

Karena saya melihat penghasilan yang lumayan menjanjikan, kemudian saya bertanya mengapa kok tidak setiap bulan saja menanam sayur, kan perputaran uang bisa menjadi lebih cepat. “Proses penanaman yang kedua setelah panen agak memakan waktu dan biaya sedikit besar. Tanah harus digemburkan lagi agar sayu nanti tumbuhnya tidak rusak,” kata suami Men Wahyu

Seluruh ikatan sayur akhirnya terkumpul didepan rumah mereka dan siap untuk diangkut kedalam mobil pembeli. Sambil menunggu pembeli datang, Men Wahyu dan suaminya yang umurnya masih muda pun siap-siap untuk pulang. Seikat sayur hijau pun akhirnya diberikan kepada saya gratis.

Mereka yang masih muda ini tidak takut turun ke sawah. Bukannya karena tidak ada pekerjaan lain, sang suami adalah seorang PNS. Ini mereka lakukan karena memang pekerjaan turun ke sawah adalah sebuah kepuasan bagi mereka. “Kalau sore hari belum dapat ke sawah, kepala saya bisa sakit. Cuma di sawah hiburan saya untuk menghilangkan stress,” tutur Men Wahyu lagi.

Bisakah aktifitas ini akan diturunkan ke generasi moderen berikutnya? Tanya saya dalam hati. Tentu akan sangat susah jika lahan pertanian di Tabanan semakin banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan dan penginapan.