Categorized | Kabar Anyar, Pendidikan

Tags |

Pendidikan di Persimpangan Jalan

Posted on 18 April 2012 by dwitanaya

Mungkin ini juga menjadi beban pikiran banyak orang lainnya saat ini. Pendidikan di Indonesia, di tengah pencanangan program wajib belajar, berada di titik persimpangan, kalau boleh saya tulis selebay mungkin, satu jalan mengarah ke jalan terjal tanpa pegangan yang kuat disaat jalan yang lagi satu mengarah ke jalan buntu,kalau kurang sreg disebut jurang kematian.

Lho masak separah itu? Saya sederhana saja berpikirnya. Ada beberapa patokan yang saya gunakan; kualitas pendidik, kurikulum dan biaya tentu.

Kualitas Pendidik

Dalam dunia pendidikan di belahan dunia manapun, kualitas pendidik bagi saya menjadi poin krusial. Masalahnya sebenarnya sederhana tapi rumit.

Di saat melimpahnya lulusan segar dari universitas, sekolah tinggi atau akademi yang pastinya membutuhkan sandaran hidup yang bernama dunia kerja, dunia kerja ternyata tidak cukup menampung semuanya. Sederhana bukan? Tapi solusinya tentu tidak sesederhana membuka facebook. Bekerja di jalur swasta tentu menarik, tapi jumlah yang bisa diserap perusahaan tidaklah sebanyak arus lulusan tiap tahunnya. Selain itu, bekerja di perusahaan swasta memiliki resiko yang jelas untuk sebagian besar orang.

Dipecat ditengah jalan , gaji kecil dan tidak adanya jaminan sosial dan hari tua yang cukup ( walau banyak perusahaan swasta yang sudah memiliki good will soal hal–hal tersebut diatas). Dilema itulah yang akhirnya menjadikan pekerjaan sebagai abdi praja atau kerennya disebut PNS menjadi pilihan yang sangat logis bagi sebagian besar masyarakat.

Selain menjadi PNS biasa, solusi yang menjanjikan adalah menjadi GURU. Bedanya guru dengan PNS biasa apa sih? Beda bos. Menjadi guru berarti peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih dibandingkan PNS lainnya. Tersebutlah sebuah program yang bernama sertifikasi. Guru bersertifikasi mendapatkan penghasilan yang berlipat dibandingkan PNS dengan grade setara pada umumnya. Lho, lulusan Universitas kan tidak bisa menjadi guru?

Nah, situasi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh beberapa universitas. Maka dibukalah sebuah jalur pengesahan seorang sarjana boleh atau sah menjadi seorang guru atau pengajar. AKTA 4 namanya. Akta 4 adalah pendidikan untuk guru yang non kependidikan. Kalau tidak salah, pendidikan akta 4 cuma setahun saja. Jadi jauh lebih menguntungkan dibandingkan mengulang kuliah di sekolah keguruan hanya untuk mengejar ijin mengajar.

Lalu apa masalahnya?? Bagi saya masalahnya sederhana saja. Seorang yang tidak dari awal berkeinginan menjadi pendidik, kemudian karena terpaksa menjadi pendidik, hasilnya tidak akan sebagus yang diharapkan. Lagian, mindsetnya sudah uang dan uang. Menjadi guru bagi saya adalah pekerjaan mulia. Ok, mencari uang itu adalah kebutuhan hidup yang tidak bisa dinafikan. Tapi dengan menjadi guru, bagi saya memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dengan seorang negosiator yang sedang membebaskan tawanan perang. Pemahaman inilah yang dulu membuat saya mundur dari cita cita jadi guru. Saya merasa tidak mampu.

Memang, tidak fair mengatakan lulusan Akta 4 ini adalah biang kerok bobroknya pendidikan. Ini hanya satu hal saja. Poin besarnya adalah di masa sekarang, menjadi guru bukanlah seorang pahlawan tanpa tanda jasa seperti yang dulu pernah kita diajarkan. Tidak adil kalau saya menuduh secara generalisasi begitu, tapi faktanya silakan tanyakan kepada tetangga atau teman yang memiliki anak sedang bersekolah.

Memang, masih ada guru guru yang dengan sepenuh hati mencintai pekerjaan dan anak didiknya. Mendidik melebihi jatah jam mengajarkan, memonitor secara serius anak didiknya. Menuntun dan bukan menyalahkan anak didik yang salah. Itu penting bagi saya. Nah, berap abanyak sih guru yang mau begitu?

Minggu lalu, saya bertemu mantan guru smp. Pasangan suami istri yang menjadi idola saya dulu. Mereka ini dua guru yang disegani siswa. Pintar mengajar, tegas dan disiplin. Dan alangkah kagetnya saya ketika beliau berdua bilang, betapa mereka selalu berusaha mencari tahu kabar tentang saya selama 14 tahun terakhir ini. Ingin saya menangis. Beliau lah sosok guru yang ideal bagi saya.

Kurikulum

Jujur, saya tidak paham apalagi ahli soal satu ini. Lagi lagi, saya berpikir sederhana saja. Sebuah kurikulum adalah GBHN (garis besar haluan Negara)nya pendidikan. Jadi itu harus dibuat dengan visi yang jauh dan dalam. Sebuah kurikulum tidak boleh terlalu sering dirubah, karena itu akan berimbas pada kebingungan pendidik dalam mengajar dan biaya karena buku dan LKS mesti dirubah atau diganti juga. Artinya tidak ada cerita meminjamkan buku kepada adik kelas seperti yang dulu saya alami.

Soal visi malah lebih penting lagi. Saya adalah korban pendidikan SMA. Ya, SMA, bukan SMK. SMA. Jenjang pendidikan yang sangat ambigu bagi saya. Tamatan SMA di Indonesia mengalami sebuah penolakan massal dan menyakitkan di dunia kerja. Jarang ada perusahaan yang mau menerima lulusan SMA. Kalau ada, gaji tidak memadai. Ya wajar saja. Lulusan SMA tidak familiar dengan dunia kerja. Berbeda dengan lulusan SMK yang mendapat pengalaman praktek selama masa sekolah. Silakan bandingkan di lingkungan anda saja.  Mana yang lebih gampang mencari kerja ; lulusan SMA yg tidak kuliah atau SMK?

Ya memang kalau mau mencari kedokteran misalnya, mesti lewat jalur SMA. Tapi pernahkan wawasan ini diberikan kepada anak didik, jarang.

Minimal, kalau memang SMA itu perlu, revolusi pendidikan SMA harus dilakukan dengan lebih serius, tidak melulu soal mengejar standar SSN atau RSBI apalagi SBI.

Biaya

Saya sangat kaget sewaktu tahu kalau standar biaya pendidikan sekarang yang sangat sangat tinggi dibandingkan dengan 14 tahun lalu disaat saya baru masuk SMA. Biaya pendidikan sekarang bagi saya berlebihan. Sederhana lagi saya berpikir, standar gaji 14 tahun lalu kira kira Rp 500.000 sampai dengan Rp 750.000. Biaya SPP SMA saya waktu itu Rp 25.000.

Tahun 2012, standar UMR di Bali terbesar tidak lebih dari 1,3 juta. SPP SMA saat ini rata rata Rp 150.000 bahkan ada yang menyentuh angka Rp 350.000 di sebuah sekolah favorit yang dulu menjadi sekolah saya. Kalau sekarang saya baru masuk SMA, dipastikan orang tua saya tidak mampu menyekolahkan saya di sekolah favorit itu. Sangat memberatkan bukan? Itu belum dihitung harga buku yang makin mahal dan terlalu seringnya buku diganti tiap tahun.

Entah mana yang salah. Apakah masyarakat yang salah karena tidak mampu mendapatkan penghasilan yang lebih baik??

Saya tidak tahu.

 

Tabanan. 18042012

 

  • jaya

    Menurut saya seperti halnya menangani korupsi.., permasalahan pendidikan pun mesti disikapi secara sistemik! Tidak hanya dipandang sepotong2 yg selama ini dititik beratkan pada guru dan sekolah. Sertifikasi guru pun bukan satu2nya solusi! Pendidikan tidak hanya oleh guru, tapi yang terpenting adalah oleh keluarga dan masyarakat sekitar! Kedua orang tua saya adalah guru d sekolah swasta. Saya pun terbiasa mendengar sharing bgmn mereka menangani murid yg bermasalah di sekolah umumnya bermasalah juga di keluarga mereka. Juga cerita bgmn sertifikasi mengharuskan mereka untuk meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Karena secara tdk langsung mereka sering kena sindiran “bapak-ibuk ne masih saja seperti guru2 kebanyakan mengidap TBC!!!! alias “Tidak Bisa Computer” wkwkwkwkw.. :)

  • Wahya Biantara

    Pendidikan alternatif informal seperti taman belajar akasa itu perlu diperpabanyak, untuk memberikan ruang bagi mereka yang ingin mengasah soft skill atau hard skill mereka

  • http://kotakotak.net gustulang

    IMO, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Usaha-usaha mendorong partisipasi masyarakat dlm pendidikan harus terus didorong. Bukan hanya sebagai pendukung dana/anggaran tapi juga penguat kurikulum.

    Orang tua siswa perlu mendapat pendidikan dan orientasi singkat mengenai proses pendidikan yg sedang dialami anaknya. Sehingga peran orang tua dlm pendidikan manjadi lebih optimal.

    Mengenai penyelarasan dengan dunia kerja, saya lebih sepakat dgn pola pembekalan/pelatihan. bagi saya pendidikan lebih dari sekedar untuk mendapat kerja. Pendidikan adalah soal pola pikir dan karakter.

    Konsep kelas beranda yang coba dikembangkan bersama, merupakan salah satu upaya memperkaya proses pendidikan. Semoga kawa-kawan talov bisa memberi masukan terhadap konsep dan pelaksanaan kelas beranda.

    Kapan kita diskusi soal pendidikan di Tabanan?? *nyiapin slide presentasi

  • http://inapendit.wordpress.com Ina

    setuju …. kalau sekolah formal malah gak bisa ngasi apa-apa buat anak-anak. Kenapa gak kita aja yang ngasi mereka apa yang kita punya. Segala ilmu apapun berharga buat dibagi ke mereka. Dan sistem belajar sekarang tidak se “fun” jaman aku SD dulu. So marilah kembali lagi ke sistem belajar itu menyenangkan!!!!!!! dan please be focus on what the kids needs. Lihat keinginan dan kemampuan anak. Kalau mereka berminat di komputer ya tidak usah dipaksa belajar matematika yang njelimet. Matematika cukup yang dasar dan praktis aja. Kecuali memang minat Matematika baru kasi yang njelimet. so … Mari berubah untuk maju!!

  • http://www.pesonanegeri.com Yandi

    Pendidikan di negeri kita memang hal yang pelik seperti disampaikan penulis, dan selalu ujung-ujungnya adalah masalah finansial. Sekolah negeri pun seolah menjadi tak berkutik menyelamatkan anak bangsa dengan berbagai bentuk pembiayaan-pembiayaan yang seharusnya bisa diminimalisir. Sudah sekolah, masih ada les tambahan pula..dibisniskan pula, sebenarnya sekolah itu apaan sih? Hanya kejar ijazah? Bisa segala ilmu matematika,fisika,dsb? Garis haluan pendidikan di atas kertas dengan prakteknya mungkin sangat jauh berbeda.

    Di sisi lain pemerintah kurang menekankan / mengelola rakyat agar memiliki cadangan finansial (kita sangat terbelakang dlm urusan tata kelola finansial); alih-alih pemerintah memberikan suatu guidance kepada masyarakatnya justru tidak berkutik manakala pendidikan sangat carut marut.Negeri lain, pemerintah akan menetapkan batas dana yang dikunci untuk masa depan individunya (asuransi).

    Adanya pendidikan-pendidikan di luar jalur formal (baca:sekolah) yang dikelola oleh pemuda-pemuda seperti Akasa patut mendapat apresiasi; dan bukan tidak mungkin homeschooling adalah pilihan yang akan menjadi pilihan terbaik untuk anak-anak bangsa dan itu dimulai di kota Pelangi ini. Sehingga anak-anak tidak kehilangan dunianya, dan juga tetap dalam koridor pengawasan serta mendapatkan nutrisi ilmu yang lebih layak. Tanpa mengurangi hormat terhadap tenaga pendidik, mungkin saatnya untuk lebih kreatif dan kami paham kesulitan-kesulitan yang menghadang langkah para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Tanpa Bapak/Ibu Guru saya pun juga bukan siapa-siapa.

    Semangat berjuang, selamat berkarya.. just in my humble opinion saja buat mengisi waktu sore hari ini.

    Surabaya,18/Apr/2012 #disela senggangnya kantor

  • http://vmancer.com manik agra

    Saya juga tidak tahu…

  • http://www.roeangphotoworks.com dwitanaya

    ayo buat unit unit kecil macam akasa.kelas beranda is cool.