Terselip Makna Mistis Dibalik Estetika Ogoh-Ogoh Tabanan

Ogoh-ogoh selain memiliki nilai estetika yang unik, juga tersimpan makna mistis di dalamnya.

Ogoh-ogoh, begitu yang disebut oleh masyarakat Bali tentang simbolis dari raksasa jahat berbadan besar dengan rupa menyeramkan ini. Sebenarnya ogoh-ogoh punya satu fungsi pokok yang menjadi dasar penciptaannya yaitu pengusiran roh jahat di lingkungan alam semesta agar terbebas dari segala mara bahaya.

Ogoh-ogoh tidak hanya disegani oleh kaula muda, dari anak kecil sampai orang dewasa pun tertarik pada ogoh-ogoh. Taukah anda, ogoh-ogoh punya sisi mistis tersendiri? Di era sekarang, ogoh-ogoh lebih dominan di fungsikan untuk perlombaan karya seni yang menggali kreativitas anak muda di Bali atau sekedar untuk arak-arakan penghibur masyarakat sehingga seringkali fungsi magisnya tersingkirkan.

Penuturan singkat di dapat dari I Komang Wijaya, salah satu Sekaa Truna Truni (STT) Dharma Sentana. Menurutnya, nyepi tanpa ogoh-ogoh tidaklah semarak dan meriah. Disamping itu ogoh-ogoh bisa menjadi media kreativitas anak muda sehingga aspirasi seninya tersalurkan dengan positif. “Jika ada saat-saat tertentu ogoh-ogoh tidak boleh dibuat karena suatu upacara besar umat hindu, sekha truna disini akan mengikuti anjuran tersebut, karena kami membuat ogoh-ogoh bukan untuk ajang urak-urakan anak muda tapi memperhatikan juga etika dan fungsi religinya,” tuturnya.

Jero Mangku atau sebut saja Pekak Mangku Jana yang sempat saya temui di Bakisan (masih termasuk areal Tabanan) menuturkan opininya mengenai perkembangan fungsi ogoh-ogoh di era sekarang. Menurutnya, ogoh-ogoh semestinya dikembalikan lagi ke fungsi dasarnya, seni dan kreativitas boleh-boleh saja dituangkan dalam ogoh-ogoh, tapi tidak menghilangkan makna religinya. “Sebenarnya sebelum ogoh-ogoh diarak mengelilingi desa, terlebih dahulu harus dilakukan upacara pasupati,” tutur Pekak Mangku. Apa sih yang dimaksud pasupati itu?

 

Pasupati itu sejenis upacara pemberkatan ogoh-ogoh yang sudah rampung dibuat agar memiliki kekuatan magis positif untuk mengusir roh jahat yang diistilahkan “Bhuta Kala”. Ogoh-ogoh yang telah rampung kemudian di arak ramai-ramai diiringi STT yang membawa obor di depannya.

Hal itu semakin menorehkan kesan bahwa ogoh-ogoh adalah simbolis diaraknya atau kalahnya roh jahat bhuta kala untuk kemudian di bakar di setra atau perempatan desa. Pembakaran ini mempunyai maksud dilebur dan dimusnahkannya roh bhuta kala baik di alam semesta dan yang terpenting pada diri sendiri. Sederhananya, arakan ogoh-ogoh bermakna menangnya “Dharma” melawan “Adharma”.

Di tengah sesi pembakaran, biasanya ada saja orang yang tedun (kesurupan). Hal ini lumrah terjadi, karena roh bhuta kala yang kasat mata tersebut bisa saja merasuki jiwa setiap orang. Namun hal ini segera di atasi dengan pemberian tirta oleh pemangku setempat.

Namun akhir-akhir ini sering kali saya temui di beberapa daerah, ogoh-ogoh itu hanya di fungsikan untuk arak-arakan penglipur lara masyarakat serta ajang seru-seruan anak muda. Atau bahkan di pajang di pinggir jalan sebagai pameran. Hal ini boleh-boleh saja, tapi terkesan menghilangkan kesan magis ogoh-ogoh itu sendiri.

Masyarakat hendaknya memperhatikan nilai magisnya. Ogoh-ogoh dicetuskan dengan suatu makna yang positif bagi alam semesta. Jadi masyarakat tak boleh salah pengertian, karena ogoh-ogoh disamping dilihat dari nilai estetikanya juga harus diperhatika fungsi atau makna mistis yang terselip di dalamnya.

keterangan: Ogoh-ogoh di Baturiti dipotret 22 Maret 2012. Ogoh-ogoh ini dilengkapi dengan lampu-lampu dengan menambahkan jenset, oleh Martawan