Archive | May, 2012

Mengenal Kembali Subak

Mengenal Kembali Subak

Posted on 23 May 2012 by edisusanta

Tanggal 20 Juni 2012 Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuwan, dan Budaya, (UNESCO) mengakui budaya Subak dari Bali sebagai bagian dari warisan dunia. Penetapan Subak sebagai bagian dari warisan dunia berlangsung di Saint Petersburg, Rusia  bertepatan dengan 40 tahun Konvensi Warisan Budaya Dunia. Konvensi yang dimulai pada tahun 1972

Subak adalah organisasi petani di Bali yang bersifat sosio agraris religius ekonomis dan dinamis yang mempunyai wilayah tertentu dan kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Landasan Religius/keagamaan yang melandasi subak adalah agama hindu yang bertujuan moksartham jagadhita ya ca iti dharma yakni menuju kesejahteraan lahir dan bathin sosial budaya dengan prinsip desa kala patra dan desa mawa cara yakni penyesuaian dengan situasi serta kondisi setempat. Mengenai kala yang berarti waktu dapat dipandang dari tiga dimensi yaitu dahulu, sekarang dan yang akan datang (atita, nagata wartamana)

Subak Desa Blimbing Pupuan, Tabanan

Subak Desa Blimbing Pupuan, Tabanan, Oleh Nyoman Martawan

Subak memiliki falsafah Tri Hita Karana. Tri berarti tiga, hita berarti kebahagiaan dan karana memiliki arti penyebab. Tri hita karana berarti tiga penyebab kebahagiaan. Yang terdiri dari:

  1. Parhyangan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan ,
  2. Pawongan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan
  3. Palemahan yakni hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya.

Secara garis besar subak memiliki fungsi antara lain:

  1. Mengatur pembagian air dgn sistem temuku, temuku sendiri ada bebera jenis antara lain : temuku aya yaitu pembagian air di hulu, temuku gede yakni ukuran pembagian air untuk bagian bagian wilayah persubakan, temuku penasan yaitu ukuran pembagian air yang langsung kepetakan petakan sawah, yang jumlah petani sawah +/- 10 bagian. Dan temuku penyacah yaitu ukuran pembagian air untuk perorangan dimana air yang diatur tersebut melalui : aungan(terowongan), empelan (empangan), telabah(selokan/parit)
  2. Memelihara bangunan bangunan pengairan disertai pengamanannya sehingga dapat dihindari kehilangan air pada saluran saluran air.
  3. Mengatur tata guna tanah dengan sistem terasering sehingga lahan tanah yang tadinya bergunung gunung menjadi hamparan sawah atau sengkedan yang berundak undak yang dapat menopang longsornya tanah.
  4. Mengatur pola tanam yakni kerta masa yaitu wilayah subak ditanami padi semuanya, karena air mencukupi, gegadon yaitu pergiliran tanaman padi dengan palawija karena pergantian pemakaian air sesama subak di sekitarnya.
  5. Menggalang persatuan organisasi subak dengan termufakatinya segala hak dan kewajibannya serta atas pelanggarannya dikenakan upaya pemulihan sesuai dengan hukum adat setempat(perarem, sima, awig awig) sebagai konsekuensi otonomi yang dimiliki oleh subak.
  6. Penata gunaan air tradisional.
  7. Pola tanam, adanya sistem kerta masa yaitu menekan/memutus siklus hidup hama dan penyakit tanaman, sekaligus menghindari bertanam padi secara tulak sumur yakni tidak serempaknya penanaman.
  8. Usaha tani terpadu seperti kolam air deras, mina padi, peternakan itik dan sapi dengan sistem tumpang sari yakni padi di tengah dan mina dipinggir petakan sawah serta sayur mayur di pematang petakan sawah

Organisasi subak terdiri dari:

Anggota subak atau biasa disebut krama subak adalah mereka yang memiliki dan atau menggarap sawah dan mendapatkan air. Krama subak di bagi menjadi 3 macam antara lain:

a. Krama aktif yaitu krama pekaseh, sekaa yeh atau sekaa subak.
b. Krama pasif yakni krama yang mengganti kewajibannya dengan uang atau natura yang disebut pengohot atau pengampel
c. Krama luput yaitu anggota yang tidak aktif dalam segala kegiatan subak karena tugasnya seperti bendesa adat dan atau
kepala desa.

Prajuru/pengurus subak terdiri dari:

  1. Pekaseh/kelian subak (kepala subak)
  2. Pangliman/petajuh (wakil kepala subak)
  3. Peyarikan/juru tulis (sekretaris )
  4. Petengen/juru raksa (bendahara)
  5. Saya/juru arah/juru uduh /juru tibak /kasinoman (urusan pemberitahuan atau pengumuman)
  6. Pemangku (urusan keagamaan)

Sekaa dalam subak:

  • Sekaa numbeg yaitu kelompok dalam hal pengolahan tanah
  • Sekaa jelinjingan kelompok dalam hal pengolahan air
  • Sekaa sambang yaitu kelompok yg memiliki tugas dalam hal pengawasan air, dari pencuriaan, penangkap atau penghalau binatang perusak tanaman seperti burung maupun tikus
  • Sekaa memulih/nandur yaitu kelompok yang bertugas dalam hal penanaman bibit padi
  • Sekaa mejukut yaitu kelompok yang bertugas menyiangi padi
  • Sekaa manyi adalah kelompok yang bertugas menuai/memotong/mengetam padi
  • Sekaa bleseng yaitu kelompok yang memiliki tugas mengangkut ikatan padi yang telah diketam dari sawah kelumbung

Sebagai organisasi yang bersifat otonom dalam mengurus rumah tangganya sendiri subak dapat menetapkan aturan yang dikenal dengan istilah awig awig, sima, perarem dan sebagainya. Dalam awig awig dimuat ketentuan ketentuan pokok, isi pokok awig awig mengatur mengenai parhyangan, pawongan dan pelemahan sedangkan ketentuan yang lebih detail dimuat dalam pararem sebagai pelaksana awig awig subak. Awig awig memuat hak dan kewajiban serta sanksi atas pelanggaran hak dan kewajiban. Sanksi merupakan pemulihan terhadap pelanggaran yang terjadi yang berbentuk sistem pamidanda antara lain

Dosa berupa pelanggaran yang dilakukan oleh krama subak oleh karena pengenaanya diakibatkan oleh suatu kewajiban misalnya tidak ngayah(gotong royong), sangkepan subak dsb. Pengecualian terhadap pelanggaran diatas dapat dilakukan dengan ketentuan/alasan sakit, meyadnya/melaksanakan kegiatan keagamaan, bepergian/melakukan tugas negara. Tidak dapat hadir atau melaksanakan kewajiban dimaksud dapat mengganti dengan uang/nosa atau sasalahan yang jumlahnya disesuaikan dengan pararem atau kesepakatan anggota subak.

Denda merupakan kejahatan sebagaimana dalam hukum pidana, yang pada hakekatnya perbuatan tersebut pada awal mulanya sudah dilarang, misalnya, mencuri:peralatan disawah, air, padi dsb, tidak membayar urunan(iuran) tidak mau gotong royong dll, melanggar larangan larangan seperti penanaman secara tulak sumur, serta ketentuan pergiliran tanaman.

Upacara yang diselenggarakan oleh anggota subak:

  1. Mapag toya yaitu upacara saat pemasukan air
  2. Ngendagin yaitu upacara saat mulai melakukan pencangkulan pertama
  3. Pengawiwit yaitu upacara dikala mulai menabur benih
  4. Nandur yaitu upacara saat penanaman padi
  5. Neduh yaitu upacara untuk mencegah timbulnya penyakit tanaman
  6. Mecaru yaitu upacara untuk menolak hama
  7. Nyaetin yaitu upacara menjelang panen yang di lakukan dengan ngadegang dewa nini/dewa padi
  8. Mantenin yaitu upacara dikala padi disimpan di lumbung
  9. Ngusaba merupakan upacara dewa yadnya di pura subak, yang dilakukan secara periodik yakni 6 bulan kalender bali/saka atau setahun sekali
  10. Merainan upacara yang dilakukan tiap hari yang dilakukan oleh pemangku pura subak/bedugul masing masing

Jaringan irigasi dalam subak jika diurut dari sumber air terdiri dari:

  1.  Empelan/empangan
  2. Buka/bungas (in take)
  3. Aungan/terowongan
  4. Telabah aya(gede) : saluran utama
  5. Temuku aya(gede) : bangunan pembagi utama
  6. Telabah tempek (munduk/dahanan/kanca) saluran cabang
  7. Telabah carik : saluran ranting
  8. Telabah panyacah(tali kunda) dibeberapa tempat dikenal dengan istilah
    - Penasan untuk 10 bagian
    - Panca untuk 5 orang
    - Pamijian untuk sendiri/1 orang

Distribusi atau pembagian air dalam subak sampai kepetakan sawah, dibagi sesuai dengan jumlah/ayahan/pembagian benih (wit). Satu ayahan = satu wit tenah yakni bibit seberat +/- 25 kg, memperoleh air satu unit=tektek=kecoran adalah satu satuan pembagian air yang dihitung berdasarkan jumlah ayahan(tenahan). Satu tektek = 4 jari tangan, umumnya diterapkan untuk pembagian air ke petakan sawah.

Comments (0)

Sagung Wah, Perwujudan Icon Kota Tabanan

Sagung Wah, Perwujudan Icon Kota Tabanan

Posted on 22 May 2012 by Wahya Biantara

Setelah penantian yang panjang, patung Sagung Wah pun akhirnya berdiri tegak tepat di area catus pata (perempatan) depan Gedung Maria.

Nyoman Nuarta, Sagung Wah Tabanan

Nyoman Nuarta, oleh Nengah Januartha

Patung yang terbuat dari perunggu ini kini berdiri tegak di jantung Kota Tabanan. Sebuah karya dari Putra Tabanan, Nyoman Nuarta seorang pelopor gerakan seni rupa baru pada tahun 1976. Kabarnya Nuarta memberikan patung yang berharga miliaran rupiah ini secara cuma-cuma kepada pemerintah daerah Tabanan, sebagai wujud cintanya terhadap tanah kelahirannya.

Patung Sagung Wah yang lama pun dibongkar. Sebelumnya pada tahun 1990an telah dibuat patung Sagung Wah yang sangat bagus oleh pemerintah daerah. Tampak seorang perempuan berdiri diatas tandu dengan empat orang pendamping, mengangkat sebilah keris, sebagai salah satu bentuk perlawanan beliau kepada penjajah saat itu. Tahun 2010 kemudian patung Sagung Wah ini kembali dipercantik.

Sagung Wah Tabanan

6 November 2010, oleh Agus Very

Patung Sagung Wah yang lama ini berlokasi tepat disebelah utara pintu gerbang Gedung Maria menghadap ke timur. Memang lokasi patung Sagung Wah yang lama ini tidak begitu menarik perhatian pengguna jalan.

Kini patung perunggu buah karya Nyoman Nuarta pun terletak di tengah-tengah jantung kota, yang tentunya akan menarik perhatian semua mata baik yang datang dari arah utara ataupun selatan.

Namun konsep patung yang baru ini berubah total. Jika sebelumnya Sagung Wah berada diatas tandu dan membawa sebilah keris, pada patung yang baru ini Sagung Wah berdiri diatas punggung burung Garuda, dengan sebilah keris di tangan kanan dan Tri Sula di tangan kiri.

Akhirnya pada tanggal 20 Mei 2012, patung Sagung Wah ini pun diresmikan dan dilakukan upacara pemlaspan. Seluruh lapisan masyarakat pun hadir termasuk sang maestro yang langsung datang dari Bandung, tempat ia tinggal saat ini.

Berikut ini adalah beberapa foto pada saat upacara peresmian, yang diambil oleh teman-teman dari Tabanan Photographer Forum

 

Sagung Wah, adalah sebuah icon yang tepat untuk mengkomunikasikan bahwa penguasa di Tabanan pada saat ini adalah seorang perempuan pertama di Tabanan bahkan di Bali yang memegang jabatan tertinggi di Pemerintah Daerah Tingkat II. Hal itu kemudian diperkuat dengan sejarah hidup Sagung Wah yang begitu heroik.

Comments (3)

Jangan Biarkan Lulu Menyerbu Hulu

Jangan Biarkan Lulu Menyerbu Hulu

Posted on 21 May 2012 by Made Nurbawa

Lulu (sampah) sekarang sudah menjadi masalah yang meresahkan. Terutama sampah plastik. Got, telabah, dan tukad dipastikan tidak bebas lagi dari sampah plastik. Plastik tidak mudah hancur dalam tanah sehingga mencemari tanah dan lingkungan.

foto diambil dari yellowcoconut.multiply.com

Saat ini pola hidup dan konsumsi rumah tangga merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap adanya timbulan sampah plastik. Rumah tangga adalah produsen sampah terbesar. Diperkirakan rata-rata produksi sampah per orang per hari sekitar 1 liter (satu ember kecil). Dan sekitar 10% nya merupakan sampah anorganik seperti plastik, karet, botol, dan lain-lain.

“Jika dicermati akhir-akhir ini aktivitas upacara dan persembahyangan pun sudah berpotensi menimbulkan timbulan sampah plastik. Mulai dari plastik pembungkus dupa, pembungkus canang, makanan, minuman, dan lain sebagainya”

Pemandangan yang lumrah kita temui saat atau sehabis piodalan atau puja wali di beberapa Pura, timbulan dan timbunan sampah plastik pasti terjadi dalam jumlah yang semakin mencemaskan saja. Kondisi ini sudah saatnya menjadi perhatian serius bagi bagi Krama Bali, Pemedek dan atau Pengemong Pura.

Secara spirit dan filosofi sosiologis serta geografis (tata ruang), Pura di Bali merupakan “Hulu” atau “Sumber” atau “Pusat”. Bisa juga bermakna “Guru” atau yang “Tertinggi” (gunung) atau yang “Tersuci”. Jadi Pura atau tempat-tempat suci lainnya merupakan kawasan yang “diyakini suci”. Dengan kata lain, Pura di bangun di kawasan hulu yang diyakini suci oleh orang Bali.

“Jika demikian halnya maka aktivitas yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dikawasan hulu, sudah saatnya harus dikurangi dan dihentikan!” Salah satunya dengan jalan mengurangi penggunaan bahan upakara/persembahyangan dari bahan plastik. Kalaupun terpaksa menggunakan bahan dari plastik, maka setiap pemedek sudah sewajibnya membawa kembali plastik itu pulang ke rumah dan dibuang ditempat yang  benar.

“Prajuru Desa/Pura pun diharapkan selalu memberi petunjuk dan mengingatkan pemedek, kemana, dimana dan bagaimana seharusnya sampah plastik dikelola di kawasan suci dan atau tempat suci”.

“Dumun yening wenten Piodalan krama pemedek di Bali sampun biase makte tipat, entil, saur nyuh mekaput don biyu. Canang lan Gebogan pun mewadah Sok Kasi”. Ternyata dulu perlengkapan upacara dan makanan berasal/dibuat dari bahan-bahan organik (bahan alami yang mudah terurai).  Karenanya timbulan sampah plastik pun tidak terjadi seperti saat ini.

Apa yang dilakukan oleh tetua (leluhur) kita dulu ternyata dilandasi oleh kesadaran dan keyakinan untuk hidup sederhana agar dapat menjaga dan saling hidup menghidupi bersama alam.

Sehingga Hulu tetap memberi spirit kesucian, air dan sungai pun tetap mengalir bersih dan layak minum, flora dan fauna pun hidup saling melengkapi. “Dan tentunya tidak perlu membuang uang rakyat (APBD) untuk mengurus sampah plastik dan atau sibuk membuat Perda. Apalagi harus mengangkat dan menggaji puluhan tenaga kerbersihan untuk melaksanakan peraturan dan aturan yang berlaku”.

Hakekat Upacara, Upakara dan adat Bali sesungguhnya merupakan rangkuman tuntunan hidup bagi umat manusia dalam mengelola alam yang seimbang. Maka, akan sangat disayangkan jika tuntunan itu berubah menjadi “tontonan” belaka, atau “wewalihan” semata hanya demi konsumsi Pariwisata Budaya.

“Menghormati kesucian Hulu sama hartinya hormat kepada Guru. Hilangnya Hulu atau Guru berarti hilangnya tuntunan hidup alias “Paling” (bingung). Yening kenten,  ngiring mangkin sareng-sareng mewali, Eling lan Ngelingan Ngulati Bali yang Wali !”. “Jangan biarkan lulu menyerbu Hulu!”(MN).

Comments (0)

Perpustakaan Daerah, Riwayatmu Kini

Perpustakaan Daerah, Riwayatmu Kini

Posted on 19 May 2012 by edisusanta

Rasanya telah lebih dari 2 tahun sejak kunjungan terakhir, sebenarnya maksud awal adalah untuk memenuhi undangan perekaman data untuk program e-KTP di kantor kecamatan Tabanan, tetapi dengan banyaknya antrean ditambah cukup lamanya proses perekaman data, berkunjung ke perpustakaan daerah kabupaten Tabanan menjadi pilihan untuk mengisi waktu sambil menunggu giliran.

Perpustakaan Daerah Tabanan

Letaknya disebuah gedung tepat disudut bagian belakang tetapi masih dalam kompleks kantor bupati kabupaten Tabanan. Jika tidak ada papan penunjuk nama, mungkin tidak banyak yang menduga bahwa bagunan tersebut adalah sebuah perpustakaan.
Untuk mencapainya pengunjung harus menaiki barisan anak tangga karena perpustakaan daerah Tabanan terletak dilantai 2.

Continue Reading

Comments (0)

Made Talop: Pajegan Moderen

Made Talop: Pajegan Moderen

Posted on 14 May 2012 by jayanegara

Pajegan atau Gebogan adalah sarana umat Hindu untuk mengaturkan sembah kepada Tuhan, sebagai bentuk rasa syukur telah diberikan kehidupan dan rejeki yang cukup bagi tiap umat. Isi dari pajegan tersebut biasanya berupa buah-buahan yang berasal dari hasil alam didaerah sekitar, atau hasil dari kebun sendiri. Jika isi gebogan itu roti, roti tersebut pun biasanya bahan bakunya berasal dari alam.

Namun pada saat ini, siring dengan kebiasaan masyarakat yang ingin segala sesuatunya instant, maka isi dari pajegan itupun berubah. Tidak lagi berupa hasil alam yang dipakai, melainkan apa yang mereka dapat beli secara cepat di warung atau supermaket. Buah-buahan misalnya. Kebanyakan buah yang dipakai untuk mengisi pajegan tersebut adalah buah impor. Bahkan ada yang mengisinya dengan minuman berenergi yang mereka beli dari supermarket.

Pada hakekatnya, jika setiap umat mau menggunakan hasil alam lokal untuk mengisi pajegan ini, maka bisa dirasakan dampak dari perputaran ekonomi masyarakat sekitar yang luar biasa.

Ilustrasi oleh: Jaya Negara

Comments (0)

Made Talop: Update Status Facebook di Sawah

Made Talop: Update Status Facebook di Sawah

Posted on 11 May 2012 by jayanegara

Sebuah mimpi seorang Made Talop. Walaupun jaman sudah moderen, namun dia masih ingin menikmati pemandangan hamparan sawah yang indah, dan mengabarkan berita disekitarnya kepada teman-temanya.

Comments (0)

Pindekan, Budaya Pertanian yang Mendekatkan Interaksi Warga Desa

Pindekan, Budaya Pertanian yang Mendekatkan Interaksi Warga Desa

Posted on 11 May 2012 by Made Nurbawa

Pindekan atau baling-baling, merupakan salah satu “permainan atau hiburan rakyat” yang sangat digemari oleh masyarakat desa. Pindekan tradisional banyak dibuat dari bilah bambu atau kayu. Ada yang besar ada yang kecil.

Anak-anak desa juga gemar membuat pindekan dari kulit buah dapdap. Kulit buat dapdap yang sudah tua ditusuk dengan lidi, lalu dibawa berlari oleh anak-anak dengan penuh riang dan gembira. Bahan lainnya, pindekan kecil juga bisa dibuat dari busung (janur).

Pindekan rame dibuat oleh masyarakat di desa saat-saat habis panen atau liburan sekolah. Umumnya masyarakat paham saat-saat yang baik membuat pindekan. Biasanya pada bulan-bulan angin kencang sekitar bulan agustus atau sasih kaulu, adalah bulan-bulan yang cocok untuk membuat pindekan.

Continue Reading

Comments (0)

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil

Tags:

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil

Posted on 10 May 2012 by jayanegara

Pada seri perdana ini Made Talop sedang berbincang dengan sang kakek prihal keinginannya menjual tanah pertaniannya, untuk kemudian dibelikan mobil. Silahkan disimak untuk mengetahui cerita lebih detail pada komik made talop berikut.

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil 1

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil 2

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil 3

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil 4

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil 5

Made Talop: Jual Tanah Beli Mobil 6

 

Comments (0)

Made Talop: Hamparan Sawah Hilang Ditelan Beton

Made Talop: Hamparan Sawah Hilang Ditelan Beton

Posted on 09 May 2012 by jayanegara

Sebuah ekspresi perjalanan seorang Made Talop.  Hamparan sawah yang dulu ada, kini berubah menjadi bangunan-bangunan beton.

Comments (0)

Dipo, dari Elektronika Sampai Pertanian Organik

Dipo, dari Elektronika Sampai Pertanian Organik

Posted on 09 May 2012 by Wahya Biantara

Pertanian organik tidak bisa dilakukan hanya lewat wacana, tapi lewat kegiatan langsung di tingkat petani dan konsumen,  melalui hubungan transaksi yang beretika dan adil.

Disebuah sudut dipinggir pantai sanur, pertama kali saya melihat sebuah bangunan yang menjual produk-produk pertanian yang dikemas sedemikian rupa, sehingga terlihat bersih dan higienis. Kebetulan hari itu saya sedang mencari bahan makanan, sehingga saya pun menyempatkan mampir sebentar.

satvikabhoga

Begitu saya masuk, produk-produk makanan higienis tersusun dengan rapi di rak-rak toko. “Ini tempat yang keren,” itu adalah hal pertama yang saya pikirkan ketika memasuki tempat itu. Tempat ini bernama Satvikabhoga. Berasal dari bahasa sansekerta yang berarti makanan yang bergizi, penuh energi hidup, untuk raga pikiran dan jiwa.

Begitu saya masuk, saya langsung disambut oleh seorang bapak yang masih energik dan menjelaskan kepada setiap pelanggan yang datang mengenai produk yang dijual disana. Dipo namanya. “Baru pertama kali datang kesini ya?” Tanyanya kepada saya. Karena saya memang pertama kali datang kesana, saya membenarkan. “Nah, kalau baru pertama, saya jelaskan sedikit mengenai produk-produk organik yang ada disini”

“Satvikabhoga baru dibuka sekitar satu tahun yang lalu. Namun kami sudah pernah melakukan ini tiga tahun sebelumnya, namun tidak dalam bentuk toko seperti sekarang,” jelas Dipo.

Bahan makanan yang dijual pun beraneka ragam. Mulai dari telur, beras merah, sayuran, jahe kering, madu, kopi dan aneka buah-buahan lainya. Semuanya dikemas dengan sedemikian rupa sehingga terlihat sangat bersih dan higienis.

Produk pertanian yang dijual oleh Dipo berasal dari kelompok tani yang berasal dari seluruh Bali.eras Dia melihat proses penanaman dan pemeliharaan sehingga dia pun tahu mana yang diproses secara organik dan tidak. Di toko tersebut pun, produk yang organik dan non-organik dipisahkan.

“Bantulah petani dari sisi pemasaran, menjaga kualitas dan mengenal pasar, dan itulah yang saya lakukan di Satvikabhoga” saran Dipo.

Menurut Dipo, petani perlu diajarkan untuk tetap menjaga kualitas dan kuantitas produk. Ketika mereka sudah mengetahui cara menjaga kualitas produk mereka, kita akan sangat mudah dikenalkan dengan pasar yang saat ini lebih banyak dari golongan mengenah ke atas.

“Pembeli sangat banyak dari kalangan menengah ke atas, karena mereka tahu pola hidup sehat. Apalagi teman-teman kita dari luar negeri, mereka kesini hanya untuk membeli sayuran,” terangnya kepada saya.

Selain Dipo, Satvikabhoka diprakarsai oleh dua anak muda lainnya yaitu Hira dan Raras.

Hira adalah seorang aktivis lingkungan hidup yang sudah berkeliling dunia untuk ikut berkampanye dan melakukan perundingan lingkungan. “ Ketika kecil, saya pernah bercita-cita jadi petani, dan mimpi tersebut sedikit banyak terwujud di kebun mini organik di rumah. Dan kini Satvikabhoga adalah perjalanan dalam menuju mimpi tersebut,” terangnya.

Sedangkan Raras berasal dari keluarga petani. Dia memilih produk organik karena dorongan dari anaknya yang sangat gemar sekali memakan keripik bayam organik. Sejak saat itulah dia kemudian bergabung bersama Dipo dan Hira untuk mendirikan Satvikabhoga.

Dipo sendiri adalah seorang lulusan elektronika. Namun karena kegemarannya terhadap hal-hal spiritual mengharuskan dia untuk memilih makanan yang sehat. Sejak kecil dia selalu menjadi andalan keluarga untuk mencicipi rasa masakan.

Comments (0)