Bukan Berbincang Masalah Lele, Melainkan IT

Judul tulisan ini saya ambil dari status Facebook Putu Agus Swastika atau dikenal dengan sebutan Guslong. Guslong adalah seorang praktisi IT yang memang dikenal dikalangan pemerintahan dalam mendorong penggunaan teknologi di instansi pemerintahan.

Kota Denpasar dan Kabupaten Jembrana adalah salah satu karya beliau dalam usaha peningkatan penggunaan teknologi di kalangan pemerintahan. Berbagai penghargaan pun diraih dalam usahanya memajukan penggunakan teknologi dikalangan pemerintahan. Misalnya baru-baru ini beliau mendapatkan penghargaan dalam usahanya mengembangkan e-voting dalam pemilihan umum.

Beberapa waktu yang lalu, beliau hadir ke Tabanan untuk bertemu dengan Ibu Bupati dan berbincang masalah teknologi. Mengetahui hal ini, saya langsung mengirimkan pesan kepada Guslong, yang kebetulan dia adalah dosen, teman, kakak saya sewaktu mengenyam pendidikan di Surabaya.

“Saya hanya mengobrol biasa saja. Beliau menyadari peranan IT dalam pembangunan Tabanan,” tuturnya dalam pesan balasan yang beliau kirimkan kepada saya.

Setelah beberapa bulan yang lalu saya mendengar dari teman-teman bahwa anggaran untuk website mau ditiadakan, kini saya mendengar kabar sebaliknya. Bahwa Ibu Bupati sudah mulai menyadari peranan teknologi dalam pembangunan Tabanan.

“Saya berharap ada kemajuan teknologi diseluruh Bali,” balasnya kembali dalam sebuah komentar di timeline akun Facebook-nya. Ketika ditanya mengenai pemanfaatan sistem operasi berbasis Linux, beliau pun sudah siap membantu dalam penggunaan teknologi tersebut.

“Sejak kemarin hingga besok, kominfo se Bali sedang mengikuti proses pemeringkatan e-gov di Mataram. Nanti kita lihat hasilnya. Jika Tabanan rangking terakhir, maka komunitas IT Tabanan perlu audensi dengan Ibu Bupati, memberi masukan agar peringkat e-gov tidak terpuruk lagi,” saran beliau.

Mudah-mudahan langkah ini benar-benar mulai direalisasikan di Tabanan. Setidaknya sistem pelayanan publik di Tabanan akan menemukan titik transparansi dengan pemanfaatan teknologi yang tepat guna. Karena saat ini masih terlalu banyak informasi pelayanan publik yang tidak bisa diketahui oleh masyarakat luas. Masyarakat Tabanan sepertinya haus akan informasi tersebut, apalagi oleh generasi Y dan Z