Kesetian Dadong Sekeg Sampai Keliang Kubur

Alunan suara gong mengiringi jenasah yang akan diaben. Sekali teriakan terdengar bersamaan ketika wadah diangkat dan mulai berjalan menuju kuburan, “Hoiiiiiiii”

Berjarak sekitar 500 m dari rumah Dadong Sekeg yang sedari tadi siap mengantar suaminya menuju peristirahatan terakhir. Sambil memegang beras berwarna kuning, Sekeg berada pada barisan depan, memegang selembar kain panjang berwarna putih, yang diikatkan pada wadah.

Sambil melemparkan beras kuning sebagai tanda pemberi jalan bagi sang atman yang menuju peristirahatan terakhir, tak sedikit pun urat kesedihan yang terlihat pada wajah Sekeg.

Mulai semenjak suaminya meninggal, saya memperhatikan Sekeg selalu tidur disebelah jasad suaminya. Sampai akhirnya upacara pengabenan tiba, Sekeg pun setia mendampingi suaminya dan bersujud di kakinya tanpa setetes air mata pun.

Dari foto diatas, sebelah kiri Sekeg sedang rame orang-orang menghampiri sekah cucunya yang sudah duluan meninggal. Namun dia tetap memilih untuk berada di sebelah suaminya.

Kesetiaan dan keiklasan seorang perempuan terhadap suaminya yang telah lama diajaknya mengarungi bahtera kehidupan yang perlu kita teladani. Walaupun getir pahit manis kehidupan telah dijalani bersama, namun ketika salah satu dari mereka harus mendahului kembali ke rumah, kesetiaan pun masih terasa bersamaan dengan keiklasan untuk kehilangan.