Mengenal Kembali Subak

Tanggal 20 Juni 2012 Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuwan, dan Budaya, (UNESCO) mengakui budaya Subak dari Bali sebagai bagian dari warisan dunia. Penetapan Subak sebagai bagian dari warisan dunia berlangsung di Saint Petersburg, Rusia  bertepatan dengan 40 tahun Konvensi Warisan Budaya Dunia. Konvensi yang dimulai pada tahun 1972

Subak adalah organisasi petani di Bali yang bersifat sosio agraris religius ekonomis dan dinamis yang mempunyai wilayah tertentu dan kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Landasan Religius/keagamaan yang melandasi subak adalah agama hindu yang bertujuan moksartham jagadhita ya ca iti dharma yakni menuju kesejahteraan lahir dan bathin sosial budaya dengan prinsip desa kala patra dan desa mawa cara yakni penyesuaian dengan situasi serta kondisi setempat. Mengenai kala yang berarti waktu dapat dipandang dari tiga dimensi yaitu dahulu, sekarang dan yang akan datang (atita, nagata wartamana)

Subak Desa Blimbing Pupuan, Tabanan
Subak Desa Blimbing Pupuan, Tabanan, Oleh Nyoman Martawan

Subak memiliki falsafah Tri Hita Karana. Tri berarti tiga, hita berarti kebahagiaan dan karana memiliki arti penyebab. Tri hita karana berarti tiga penyebab kebahagiaan. Yang terdiri dari:

  1. Parhyangan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan ,
  2. Pawongan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan
  3. Palemahan yakni hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya.

Secara garis besar subak memiliki fungsi antara lain:

  1. Mengatur pembagian air dgn sistem temuku, temuku sendiri ada bebera jenis antara lain : temuku aya yaitu pembagian air di hulu, temuku gede yakni ukuran pembagian air untuk bagian bagian wilayah persubakan, temuku penasan yaitu ukuran pembagian air yang langsung kepetakan petakan sawah, yang jumlah petani sawah +/- 10 bagian. Dan temuku penyacah yaitu ukuran pembagian air untuk perorangan dimana air yang diatur tersebut melalui : aungan(terowongan), empelan (empangan), telabah(selokan/parit)
  2. Memelihara bangunan bangunan pengairan disertai pengamanannya sehingga dapat dihindari kehilangan air pada saluran saluran air.
  3. Mengatur tata guna tanah dengan sistem terasering sehingga lahan tanah yang tadinya bergunung gunung menjadi hamparan sawah atau sengkedan yang berundak undak yang dapat menopang longsornya tanah.
  4. Mengatur pola tanam yakni kerta masa yaitu wilayah subak ditanami padi semuanya, karena air mencukupi, gegadon yaitu pergiliran tanaman padi dengan palawija karena pergantian pemakaian air sesama subak di sekitarnya.
  5. Menggalang persatuan organisasi subak dengan termufakatinya segala hak dan kewajibannya serta atas pelanggarannya dikenakan upaya pemulihan sesuai dengan hukum adat setempat(perarem, sima, awig awig) sebagai konsekuensi otonomi yang dimiliki oleh subak.
  6. Penata gunaan air tradisional.
  7. Pola tanam, adanya sistem kerta masa yaitu menekan/memutus siklus hidup hama dan penyakit tanaman, sekaligus menghindari bertanam padi secara tulak sumur yakni tidak serempaknya penanaman.
  8. Usaha tani terpadu seperti kolam air deras, mina padi, peternakan itik dan sapi dengan sistem tumpang sari yakni padi di tengah dan mina dipinggir petakan sawah serta sayur mayur di pematang petakan sawah

Organisasi subak terdiri dari:

Anggota subak atau biasa disebut krama subak adalah mereka yang memiliki dan atau menggarap sawah dan mendapatkan air. Krama subak di bagi menjadi 3 macam antara lain:

a. Krama aktif yaitu krama pekaseh, sekaa yeh atau sekaa subak.
b. Krama pasif yakni krama yang mengganti kewajibannya dengan uang atau natura yang disebut pengohot atau pengampel
c. Krama luput yaitu anggota yang tidak aktif dalam segala kegiatan subak karena tugasnya seperti bendesa adat dan atau
kepala desa.

Prajuru/pengurus subak terdiri dari:

  1. Pekaseh/kelian subak (kepala subak)
  2. Pangliman/petajuh (wakil kepala subak)
  3. Peyarikan/juru tulis (sekretaris )
  4. Petengen/juru raksa (bendahara)
  5. Saya/juru arah/juru uduh /juru tibak /kasinoman (urusan pemberitahuan atau pengumuman)
  6. Pemangku (urusan keagamaan)

Sekaa dalam subak:

  • Sekaa numbeg yaitu kelompok dalam hal pengolahan tanah
  • Sekaa jelinjingan kelompok dalam hal pengolahan air
  • Sekaa sambang yaitu kelompok yg memiliki tugas dalam hal pengawasan air, dari pencuriaan, penangkap atau penghalau binatang perusak tanaman seperti burung maupun tikus
  • Sekaa memulih/nandur yaitu kelompok yang bertugas dalam hal penanaman bibit padi
  • Sekaa mejukut yaitu kelompok yang bertugas menyiangi padi
  • Sekaa manyi adalah kelompok yang bertugas menuai/memotong/mengetam padi
  • Sekaa bleseng yaitu kelompok yang memiliki tugas mengangkut ikatan padi yang telah diketam dari sawah kelumbung

Sebagai organisasi yang bersifat otonom dalam mengurus rumah tangganya sendiri subak dapat menetapkan aturan yang dikenal dengan istilah awig awig, sima, perarem dan sebagainya. Dalam awig awig dimuat ketentuan ketentuan pokok, isi pokok awig awig mengatur mengenai parhyangan, pawongan dan pelemahan sedangkan ketentuan yang lebih detail dimuat dalam pararem sebagai pelaksana awig awig subak. Awig awig memuat hak dan kewajiban serta sanksi atas pelanggaran hak dan kewajiban. Sanksi merupakan pemulihan terhadap pelanggaran yang terjadi yang berbentuk sistem pamidanda antara lain

Dosa berupa pelanggaran yang dilakukan oleh krama subak oleh karena pengenaanya diakibatkan oleh suatu kewajiban misalnya tidak ngayah(gotong royong), sangkepan subak dsb. Pengecualian terhadap pelanggaran diatas dapat dilakukan dengan ketentuan/alasan sakit, meyadnya/melaksanakan kegiatan keagamaan, bepergian/melakukan tugas negara. Tidak dapat hadir atau melaksanakan kewajiban dimaksud dapat mengganti dengan uang/nosa atau sasalahan yang jumlahnya disesuaikan dengan pararem atau kesepakatan anggota subak.

Denda merupakan kejahatan sebagaimana dalam hukum pidana, yang pada hakekatnya perbuatan tersebut pada awal mulanya sudah dilarang, misalnya, mencuri:peralatan disawah, air, padi dsb, tidak membayar urunan(iuran) tidak mau gotong royong dll, melanggar larangan larangan seperti penanaman secara tulak sumur, serta ketentuan pergiliran tanaman.

Upacara yang diselenggarakan oleh anggota subak:

  1. Mapag toya yaitu upacara saat pemasukan air
  2. Ngendagin yaitu upacara saat mulai melakukan pencangkulan pertama
  3. Pengawiwit yaitu upacara dikala mulai menabur benih
  4. Nandur yaitu upacara saat penanaman padi
  5. Neduh yaitu upacara untuk mencegah timbulnya penyakit tanaman
  6. Mecaru yaitu upacara untuk menolak hama
  7. Nyaetin yaitu upacara menjelang panen yang di lakukan dengan ngadegang dewa nini/dewa padi
  8. Mantenin yaitu upacara dikala padi disimpan di lumbung
  9. Ngusaba merupakan upacara dewa yadnya di pura subak, yang dilakukan secara periodik yakni 6 bulan kalender bali/saka atau setahun sekali
  10. Merainan upacara yang dilakukan tiap hari yang dilakukan oleh pemangku pura subak/bedugul masing masing

Jaringan irigasi dalam subak jika diurut dari sumber air terdiri dari:

  1.  Empelan/empangan
  2. Buka/bungas (in take)
  3. Aungan/terowongan
  4. Telabah aya(gede) : saluran utama
  5. Temuku aya(gede) : bangunan pembagi utama
  6. Telabah tempek (munduk/dahanan/kanca) saluran cabang
  7. Telabah carik : saluran ranting
  8. Telabah panyacah(tali kunda) dibeberapa tempat dikenal dengan istilah
    – Penasan untuk 10 bagian
    – Panca untuk 5 orang
    – Pamijian untuk sendiri/1 orang

Distribusi atau pembagian air dalam subak sampai kepetakan sawah, dibagi sesuai dengan jumlah/ayahan/pembagian benih (wit). Satu ayahan = satu wit tenah yakni bibit seberat +/- 25 kg, memperoleh air satu unit=tektek=kecoran adalah satu satuan pembagian air yang dihitung berdasarkan jumlah ayahan(tenahan). Satu tektek = 4 jari tangan, umumnya diterapkan untuk pembagian air ke petakan sawah.