Mengurai Filosifi Air dan Nangluk Merana Para Subak Jagat Tabanan

Pembangunan dan penataan wilayah Tabanan dari jaman kejaman, tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dan penataan spiritualitas dari generasi ke generasi. Penataan yang mendekatkan perhatian dan pengertian beragama dengan memandang bahwa jagat Tabanan bagaikan Bhuana Agung yang hidup tak henti-hentinya menganugrahkan kesejahteraan dan kebahagiaan sepanjang zaman. Sebagai bhuana agung dalam pengertian umum dapat di bagi menjadi tiga yaitu; Utama Mandala, Madya Mandala, Kanista Mandala. Ketiganya adalah “Sikut” jagat Tabanan.

Petani di Gunung Batukaru
Petani di Gunung Batukaru

Selanjutnya, keyakinan atas konsepsi spiritualitas bhuana agung oleh masyarakat Tabanan (Bali), kita mengenal adanya “Aktivitas Sanghyang Tumuwuh”, yaitu; aktivitas atau gerakan ritual umat manusia, mewujudkan hidup dan kehidupan yang dilandasi tuntunan nilai-nilai alam atau hukum alam (Rta). Dijalankan dengan selaras dan padu antara keyakinan lokalitas dan global untuk mencapai tujuan hidup.

Dalam penggambaran tersebut, manusia menyadari bahwa manusia hanya dapat merencanakan, mengerjakan dan mengharapkan, Tuhanlah yang menentukan. Kehidupan manusia hanya sebagain kecil saja dari kehidupan dunia, tumbuh-tumbuhan dan  alam semesta. Menyadari kehidupan spiritual seperti itu  maka Para Petani (para Subak) menyungsung Ida Bhatara Sanghyang Tumuwuh, melakukan aktivitas upacara ritual di pura Khayangan Jagat. Di Tabanan tentu di Pura-Pura Khayangan Jagat se-Kuwuban Pura Luhur Watukaru.

Di Tabanan, konsepsi penghormatan Sanghyang Tumuwuh tersebut pasti erat kaitannya dengan upacara penghormatan air, baik sumber/mata air, aliran air, air baku, sungai, danau, laut, air suci (tirta) dan sebagainya. Karena air lah kehidupan menjadi ada.

Upacara tersebut antara lain (Bappeda Tabanan, 2003):

  1. Nanggluk Merana; Upacara ini di lakukan di tepi laut, dengan tujuan memohon kepada Tuhan dalam manefestasinya sebagai penguasa laut (Baruna) agar terhindar dari hama dan penyakit.
  2. Pekelem di Danu-Ngusaba di Ulun Danu. Memohon keselamatan Dewi Danu (Gangga), Tuhan dalam manifestasinya penguasa air tawar. Upacara ngaturang pekelem dilakukan di danau,misalnya danau Beratan, Batur atau Tamblingan.
  3. Magpag Toya atau Mendak Toya (air); dilakukan Para Subak, bertempat di sumber air (bendung), dengan maksud “menjemput” air (memohon air) kepada sang Pecipta, untuk menghidupi Sarwa Prani (semua bentuk kehidupan).

Upacara diatas dilakukan untuk memohon kehadapan Ida Bhatara Sanghyang Tumuwuh agar menganugrahkan keselamatan hidup melalui sarana (SDA) air. Kehidupan tidak akan lestari bila air tidak sempurna. Oleh Para Subak yang bekerja di sektor pertanian, tentu air adalah prasyarat utama untuk mengairi sawah, kebun dan tanaman pertanian lainnya.

Lebih jauh, berangkat dari keyakinan dan konsepsi bhuana agung diatas, jelas pengertian “Para Subak” bukan hanya sebatas petani, sawah dan atau produk pertanian saja, tapi lebih jauh lagi.

“Subak adalah; satu kesatuan mata rantai keyakinan oleh seluruh unsur/profesi masyarakat Tabanan (Bali) akan hakekat hidup dan kehidupan dari Sang Pencipta (Sanghyang Tumuwuh)”.

Dalam prakteknya, sebut saja petani;  petani membutuhkan pengakuan, perlindungan, dan kebijakan yang adil dari penguasa/pemerintah dalam pemanfataan lahan, pajak, dan jaminan sosial lainnya. Petani pun membutuhkan sarana dan prasarana seperti pupuk, peralatan, infrastruktur jalan, transportasi, dan sebagainya yang tentu bukan di buat langsung oleh petani. Pun dalam tata kelola air misalnya; baik “air sumber” maupun “air baku”, petani, masyarakat, dan aparatur pemerintahan yang ada di dalam berbagai struktur sosial dan politik harus bersatu padu dalam satu visi dan misi pemanfaatan yang adil dan seimbang bagi seluruh kehidupan di Jagat Tabanan.

Demikian juga dalam hal pelaksanaan upacara keagamaan, petani, masyarakat, pengemong, pemerintah, dan masyarakat dalam berbagai profesi harus bersatu padu dalam satu pemahaman dan keyakinan yaitu; penghormatan terhadap kemuliaan Tuhan-Ida Bathara Sangyang Tumuwuh.

Berangkat dari pengertian diatas, Subak dan atau Para Subak saya yakini sebagai sebuah tatanan dan segala bentuk profesi yang bersentuhan atau bekaitan langsung maupun tidak langsung dengan pengelolaan alam (tata ruang) yang berke-Tuhan-an.  Dengan kata lain, segala aktivitas atau profesi yang hidup dan menghidupi Sarwa Prani baik dalam swadharmanya sebagai petani, karyawan, guru, undagi, seniman, sarathi, DPRD, bahkan bupati dan sebagainya.

Berikutnya, di Tabanan kita mengenal adanya upacara suci Nangluk Merana, yaitu; salah satu prosesi upacara yang selama ini “dipersepsikan lebih dekat” dengan kehidupan masyarakat pertanian. Sehingga Nangluk Merana lebih dipahami tidak jauh-jauh dari sebatas penanggulangan hama, seperti: wereng, tungro, walang sangit,  tikus dan hama lainnya. Belakangan upacara Nangluk Merana juga dilaksanakan terkait adanya wabah ulat bulu.

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian (Wikipedia).

Namun jika kita kembali kebelakang dengan adanya keyakinan dan konsepsi spiritualitas bhuana agung oleh masyarakat Tabanan (Bali), termasuk adanya “Aktivitas Sanghyang Tumuwuh”, yaitu; aktivitas atau gerakan ritual umat manusia, mewujudkan hidup dan kehidupan yang dilandasi tuntunan nilai-nilai alam atau hukum alam (Rta), termasuk nilai agama dalam mencapai tujuan hidup, maka sudah saatnya “hama (merana)” bukan lagi dipandang sebatas hama di sawah atau dilahan pertanian saja.  Tetapi “hama (merana)” bisa di maknai sebagai segala aktivitas yang bisa merusak ekosistem dan tananan kehidupan masyarakat Tabanan lainnya.  Termasuk pelangaran terhadap hakekat nilai-nilai leluhur (para Resi) yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan (Rta), nilai-nilai pemerintahan (Kebijakan publik) dan nilai-nilai pengelolaan (kegiatan/upacara).

“Jika kita kaitkan dengan kehidupan kekinian, maka hama (merana) boleh dikatakan segala sesuatu yang bisa menimbulkan kesengsaraan, penderitaan, kemiskinan, keterpurukan dan sejenisnya”.

Misalnya dalam nilai-nilai kehidupan, adanya aktivitas pemanfataan ruang yang melanggar bhisama tentang “sikut” jagat Tabanan, jelas dapat menimbulkan hancurnya ekosistem sumber daya alam sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.  Dalam hal pemerintahan pun, adanya kebijakan pemanfataan SDA air yang tidak benar bisa juga akan menimbulkan bencana kekeringan, gagal panen, dan kelaparan.

Termasuk kebijakan lain yang tidak pro rakyat, korupsi, nepotisme dan kebijakan pelayanan publik  lain yang berpotensi menimbulkan penderitaan dan kemiskinan rakyat. Selanjutnya dalam hal upacara/yadnya jika dilakukan tanpa dilandasi pemahaman dan hakekat yang seimbang, maka tidak jarang akan menjadi beban dalam pembiayaan, bahkan tidak sedikit menimbukan keretakan keluarga yang bermotif ekonomi.

Sebagi contoh : mungkin kita pernah mendengar adanya kebijakan pembagian “bibit padi unggul”, setelah ditanam oleh petani ternyata hanya menjadi santapan lezat hama wereng dan tunggro. Tentu tidak bijak jika perhatian kita hanya fokus pada keberadaan dan penanganan hama werengnya saja, tapi dibalik itu bisa jadi ada motif “pragmatisme pribadi” atau kebijakan yang kurang manut atau dilandasi oleh persepsi dan konsepsi “Sanghyang Tumuwuh” yang ikhlas, jujur dan sesungguhnya (saje, seken, dadi). Dan banyak lagi contoh kasus lainnya.

Singkat kata semoga keyakinan, persepsi dan prosesi oleh “Para Subak” di jagat Tabanan, tetap menyeimbangkan antara “filosofi air”  sebagai sumber dan guru kehidupan. Sementara pemahaman tentang “filosofi merana” tetap menyadarkan kita untuk tetap hati-hati, jujur, taat hukum, dan profesional,  sehingga terhindar dari ancaman kehidupan. Kearifan-kearifan Jagat Tabanan semuanya sudah disiapkan dan dititipkan oleh leluhur dalam sebuah struktur, kultur dan konsepsi besar yang terangkum indah dalam keyakinan dan penghormatan terhadap Ida Bhatara Sangyang Tumuwuh. Bahkan sudah dituliskan dalam berbagai sumber.

Mudah-mudahan asal muasal upacara Nangluk Merana terkait dengan pertanian, seperti apa yang disebutkan dalam buku Dharma Pemaculan, tidak dipahami sempit dan sembarang. Sehingga dari Tabanan lahir insan-insan pembangunan yang mensejahterakan dan mendamaikan jagat Tabanan, Bali, Nusantara bahkan Dunia. “Mari kita Bangun Tabanan dari Tabanan, di Tabanan dan untuk Tabanan! Puput (MN).

Tabanan, Minggu, 17 Juni 2012
Oleh:
Made Nurbawa
(Petani, Dari Banjar Dajan Ceking-Desa Belatungan-Pupuan Tabanan).