Sosial Media Sarana Komunikasi Alternatif antar Warga Kelas Menengah

Sambil ngopi pagi ini saya iseng baca-baca diskusi di beberapa group FB salah satunya Talov. Topik yang ramai didiskusikan adalah seputar pelayanan publik, fasilitas umum, dan masalah pembangunan.

Media Sosial

Sosial media telah muncul sebagai sarana komunikasi alternatif antar warga kelas menengah. Saya tekankan kelas menengah, karena kelas bawah prioritasnya untuk bertahan hidup dan kelas atas prioritasnya mempertahankan kekuasaan. Suara-suara sumbang dan lantang dalam media sosial ibarat gelembung-gelembung udara dalam minuman bersoda. Melayang dari dasar botol lalu menguap dipermukaan. Ditambah lagi fenomena klik aktivis yang sedang booming lengkap sudah.

Setelah ruang-ruang diskusi alternatif terbuka dengan menipiskan batasan ruang dan waktu tentunya kekayaan arus informasi adalah hal yang patut disyukuri dan dipergunakan dengan bijak. Setiap informasi yang didapat bisa digunakan untuk memperkaya pemahaman suatu fenomena. Apapun fenomenanya.

Saluran semakin lebar terbuka. Kini provinsi Bali sudah memiliki Komisi Informasi yang bertugas melaksanakan UU No 14 tahun 2008 tentang  Keterbukaan Informasi Publik. Di Bali telah terbentuk kantor perwakilan Ombudsman RI untuk menunjang pelaksanaan UU No 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Denpasar sudah memiliki Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk menyelesaikan persoalan sengketa antara konsumen dan produsen/penyedia layanan.

Pertanyaannya sekarang, Apakah diskusi-diskusi alternatif media sosial hanya akan berakhir didalam pixel-pixel layar monitor? Jalur alternatif sudah ada, saluran resmi sudah tersedia. Lalu, alasan apa lagi yang akan menghentikan tindaklanjut dari diskusi-diskusi ini?

Perlu goncangan keras untuk menyatukan gelembung-gelumbung udara dalam minuman bersoda untuk menghasilkan daya dorong yang lebih kuat. Goncangkan. Lebih Keras. Dan lebih keras lagi.

Untuk mereka yang percaya hari esok bisa lebih baik.
gt