Abiantuwung, Satu Abad yang Lalu

Dari pada usang tertelan thread di group, mudah – mudahan tulisan ini bisa mengabadikan potret wilayah di Abiantuwung, Tabanan pada tahun 1912 dan 2012. Sebelumnya terima kasih buat rekan Gusti Ketut Ardana dan Ayodya Wikananda, yang telah berusaha mengumpulkan data berupa foto dan keterangannya dari berbagai sumber.

Jika Anda datang dari Denpasar menuju Tabanan, Anda akan melewati sebuah desa yang bernama Abiantuwung sebelum Anda masuk di wilayah kota Kediri. Pohon beringin besar yang berada disebelah utara jalan raya, memberikan tanda bahwa Anda telah berada di wilayah Kabupaten Tabanan.  Disebelah pohon beringin tersebut ada sebuah Pura Desa yang berada tepat dipinggir jalan.

Pura Desa Abiantuwung 1912 dan 2012

Perhatikanlah gambar diatas. Seratus tahun yang lalu Pura Desa tersebut terlihat sudah berdiri kokoh. Tidak bisa dibayangkan tahun berapa Pura ini dibangun pertama kali. Namun berbagai perubahan pun telah tampak selama 100 tahun kemudian. Lihatlah jalan raya (selatan pura). Seratus tahun yang lalu jalan ini masih berupa jalan tanah yang sempit, dan pura pun berada sedikit lebih tinggi dari jalan.

Seratus tahun kemudian, Jalan raya sudah tampak lebih besar dan telah menggunakan aspal. Pohon – pohon rindang dibelakang Pura pun terlihat telah menghilang, seiring berkembangnya pemukiman disana, dan Pura pun kini sejajar dengan jalan raya.

Jika kita masuk agak ke utara, kita akan melihat sebuah wantilan tempat warga biasanya mengadakan parum / musyawarah, dan berbagai kegiatan lainnya misalnya latihan pencak silat.

Wantilan Desa Abiantuwung 1912 dan 2012

Jika melihat foto diatas, pepohonan rindang masih mudah kita temui pada tahun 1912. Wantilan yang dulunya hanya beratapkan jerami, kini sudah berubah lebih baik. Namun pada struktur bangunan masih terlihat sama. Wantilan tersebut masih menggunakan dua atap bertingkat namun dengan jarak yang berbeda. Sepertinya areal parum pada wantilan tersebut pun masih terlihat sama, yaitu agak sedikit kebawah dari jalan utama.

Pura Puseh Abiantuwung 1912 dan 2012

Komposisi pura puseh pun tampak masih sama seperti aslinya, walupun mengalami perubahan pada motif ukiran pada kori agung. Namun ciri khas ukiran dan beberapa patung masih terlihat berada pada posisi yang semula di tahun 1912.

Beberapa perubahan yang kita lihat diatas adalah sebagian kecil perubahan yang terjadi di bumi ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa dijadikan sebagai catatan dan nostagia kita kemasa lalu melihat begitu besar dan megahnya peradaban penduduk Bali. Peradaban – peradaban tersebut bukannya tidak mengenal perubah. Perubahan terjadi disana sini, namun tanpa mengurangi estetika budaya yang telah menyatu dengan adat istiadat penduduk sekitar.