Dari Mayungan Agro Festival: Menjadikan Baturiti “Kota Pertanian” Bunga, Mungkinkah?

Pelaksanaan “Mayungan Agro Festival” telah memberi banyak inspirasi, salah satunya mewujudkan Kecamatan Baturiti sebagai “Kota Pertanian” Bunga di Tabanan, Mungkinkah?

Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Tabanan tahun 2012, luas kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Tabanan mencapai 46.176 hektar atau kurang lebih seluas 50,02% dari luas wilayah kabupaten. Kawasan pertanian tersebut peruntukannya meliputi; Kawasan peruntukan lahan basah; kawasan peruntukan hortikultura dan kawasan peruntukan peternakan.

Luas kawasan peruntukan Hortikultura Kabupaten Tabanan, seperti; buah-buahan, sayur-mayur dan bunga, luasannya diarahkan mencapai 5.879 hektar atau kurang kebih 7% dari luas wilayah kabupaten. Untuk bunga dan tanaman hias sebarannya berada di kawasan Kecamatan Baturiti dan Marga.

Bunga lokal umumnya dibutuhkan untuk keperluan upacara agama/adat oleh masyarakat Bali, sementara bunga potong lokal maupun impor, banyak dibutuhkan untuk mendukung usaha pariwisata seperti hotel dan restauran. Namun seiring perkembangan gaya hidup mayarakat Bali saat ini, bunga juga banyak dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga.

Menurut pengusaha bunga potong di bilangan Batubelig Kuta, Doddy Pajar Dinata mengatakan, pada hari-hari biasa ia bisa menjual 10.000 potong bunga mawar dan sekitar 2.000 potong bung Prisan per minggu, belum bunga lainnya. Saat hari raya besar, dan hari baik untuk pelaksanaan upacara perkawinan (Pawiwahan) bagi warga Bali, kebutuhan bungan jauh lebih banyak. “Sebulan kebutuhan bunga di Bali bisa mencapai ratusan ribu potong dalam berbagai jenis,” kata Doddy yang juga pemilik usaha bunga “Silver Bell” di bilangan Batubelig Kuta.

“Untuk Bali, Kebutuhan bunga potong seperti bunga Mawar, bisa mencapai puluhan ribu potong per bulan dan semuanya didatangkan dari jawa seperti daerah Malang dan Sukabumi , demikian juga bunga Sedap Malam, Prisan dan jenis bunga lainnya,” imbuh Doddy yang sudah tujuh tahun menggeluti usaha bunga.

Ketika ditanya, apakah Kabupaten Tabanan seperti Kecamatan baturiti cocok dijadikan pusat budidaya bunga bagi Bali? “Sangat bisa,” kata doddy dengan lugas. Sepanjang ada kerjasama yang baik antara petani serta dibarengi dengan perhatian dari pemerintah dalam hal peningkatan kapasitas petani dan penyediaan infrasturktur pemasarannya. Kekompakan petani sangat dibutuhkan dalam hal penyediaan lahan dan harga. “Kita bisa belajar dari kawasan Pasar Belong Jakarta, yang saat ini tumbuh sebagai pasar bunga untuk menampung pasokan dari Sukabumi dan daerah lain di Jawa,” jelas Doddy.

Saat ini, kendala produksi dan budidaya bunga potong di Bali adalah dalam hal lahan dan investasi. Banyak pengusaha takut berinvestasi bunga potong (termasuk bibit impor) karena persoalan keterbatasan lahan, lemahnya kerjasama antar petani, SDM dan persaingan harga. Apalagi harga produk bunga dari jawa saat ini jauh lebih murah dan kualitasnya lebih bagus. “Dengan pola “pertanian rakyat”, Kabupaten Tabanan sangat potensial untuk dikembangkan budidaya tanaman bunga,” tegas Doddy.

Dijelaskan pula, pada saat hari raya besar seperti Lebaran, pasokan bunga potong dari Jawa sedikit mengalami kendala transportasi karena padatnya penyebrangan di Ketapang-Gilimanuk. Bahkan jumlah pasokan dari Jawa sering terbatas mengingat jumlah kebutuhan bunga di Jawa menjelang Hari Raya Lebaran meningkat.

Bunga hanyalah salah satu potensi pertanian yang perlu dikembangkan di Tabanan. Dan menjadikan Kecamatan Baturiti sebagai “pusat bunga”, bukanlah isapan jempol. Apalagi pemerintah Kabupaten Tabanan saat ini telah mengusulkan dalam pembahasan draf Ranperda RTRW Kabupaten Tabanan (Tahun 2012) untuk memantapkan Kawasan Agropolitan Baturiti berbasis pertanian hortikultura sebagai penggerak perekonomian perdesaan.

Di Kecamatan Baturiti, salah satu bunga yang sedang menjadi primadona adalah bunga Gemitir, saat ini jenis bunga ini terus dikembangkan sebagai produk unggulan oleh masyarakat. Termasuk masyarakat petani di Desa Mayungan.

Kedepan harapan untuk mengembangkan budidaya tanaman bunga yang bernilai dan berdaya saing tinggi, harus terus dilakukan. Dan tentunya upaya kearah sana bisa diselaraskan dengan penghormatan dan pelestrian budaya/kearifan lokal. Semoga Inspirasi dari “Mayungan Agro Festival” 2012 kali ini bisa dilanjutkan dan terus dibenahi. (MN).

Oleh :
Made Nurbawa
(Sahabat Petani-Tinggal di Tabanan)