Hakekat Upacara Ritual Pangan dalam Adat Bali

(AMAN-BALI) Budaya masyarakat Bali sangat dilandasi oleh keyakinan akan penghormatan bumi atau pertiwi (Agraris). Selanjutnya atas kesadaran dan keyakinan tersebut melahirkan sebuah pengetahuan yang pada hakekatnya merupakan anugrah Tuhan.

Pada saat dimana “Ilmu Pengetahuan Suci” diturunkan, masyarakat Bali secara umum menghormatinya sebagai Hari Suci Saraswati. Hari penghormatan atas diturunkannya ilmu Pengetahuan Suci. Dan masih banyak lagi istilah lokal yang memiliki pemaknaan yang sama.

source foto: https://www.facebook.com/martawan

 

Berikutnya, terkait dengan ilmu pengetahuan di bidang pertanian dalam arti luas, diyakini pula manifestasi Tuhan sebagai “Sangyang Bathara Tumuwuh” (Tuhan sebagai sumber pengetahuan suci tentang tumbuhan/pertanian). Atas dasar pengetahuan yang benar berdasarkan petunjuk Sang Pencipta, warga baru boleh mengolah atau menafaatkan alam/bumi untuk usaha pertanian. Keyakinan tersebut melahirkan Hari Suci Tumpek Wariga, dan lainnya.

Atas keyakinan tersebut, kesadaran manusia pun bukan untuk memiliki, tapi hanya meminta dan memohon secara tulus kepada sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Diyakini manusia hanya boleh memanfaaatkan ciptaan beliau secukupnya untuk hidup selaras, indikatornya apa yang diminta harus digunakan, digunakan untuk hidup dan merawat alam kembali.

“Jika mengambil kekayaan alam berlebihan, tanpa terkait dan berguna dan digunakan untuk pemeliharaan/penghormatan alam, sama saja kerakusan, pada akhirnya merupakan pelanggaran atas Hukum Alam.”

Disebut Ilmu Pengtahuan Suci karena pengetahuan yang diturunkan oleh Sang Pencipta sangat indah, benar yang sebenar-benarnya, alami, mensejahterakan, tegas dan penuh kepastian. Bahkan jangkuan penegetahuan suci tersebut sangat luas mencakup jagat semesta raya.

“Pengetahuan suci dalam hal ini adalah pengetahuan bagaimana cara-cara manusia seharusnya memahami hidup dan kehidupan bersama dan selaras dengan alam.”

Nah, keyakinan akan pengetahuan suci tersebutlah kemudian muncul berbagai bentuk penghormatan suci, salah satunya berupa ritual, dan tarian.

“Di Bali Ritual dan Tarian dipersembahkan untuk penghormatan Sang Pencipta. Bentuk, gerak, suara, warna, lokasi pertunjukan, dan seterusnya sesungguhnya adalah pengejawantahan gerak alam, baik dalam lingkungan manusia, kewilayahan, maupuan pengetahuan Suci Tuhan Yang Maha Esa.”

Tarian yang terkait dengan pertanian dan panen, juga termasuk pengejawantaan dari sifat alam dalam hal ini tumbuhan, binatang, dan juga manusia/petani sebagai pelaku.

Singkat kata, aktivitas pertanian (agraris) menyangkut tiga hubungan yaitu: 1). Parahyangan (Ketuhanan), 2). Palemahan (kewilayahan), dan 3). Pawongan (manusia/warga). Rujukanya pun ada tiga yaitu : 1). Rerahinan (Pengetahuan tentang hari/matahari, astronomi dan jagat raya), 2). Wewarigan (pengetahuan tentang sifat bumi, dan Pawetonan (sifat manusia sesuai dengan kelahiran).

“Ketiga hakekat tersebutlah kemudian disebut istilah “TRI HITA KARANA” (Tiga unsur penyebab keseimbangan hidup dan kehidupan).”

Jadi adanya Upacara dan Tarian terkait dengan musim tanam dan panen, tidak akan mungkin ada dan diadakan tanpa adanya pengetahuan suci tersebut. Kalaupun diadakan pasti hanya akan nampak menarik dalam wilayan “tontonan”, bukan “tuntunan”. Jika latah dan sembarangan, maka Tarian dan Upacara terkait dengan pertanian malah akan melahirkan sifat “pragmatisme” semata. Seperti apa yang banyak dipentaskan oleh Pelaku Pariwisata saat ini di Bali.

“Sangat miris dan sangat keliru juga seperti pemahaman yang dominan sekarang, bahwa budaya Bali berasal dari budaya agraris, semata-mata agraris diartikan sebagai sawah dan petani saja. Selanjutnya pemahaman ini lah yang melahirkan pengertian Subak yang salah pula.”

Jadi mari kita yakini kembali hakekat Tarian dan Upacara tersebut, tarian tanpa dilandasi pengetahuan suci pasti tidak akan banyak menyeimbangkan alam (mensejahterakan). Kecuali dengan Tarian atau Upacara itu dilakukan untuk memaknai kembali pengetahuan suci yang sesungguhnya. Termasuk menyadari bahwa, selama ini ada cara-cara yang belum selaras dalam mengelola alam. Terima kasih. (MN).