Pengetahuan Alam di Hulu Otan

Tabanan memiliki 74 aliran air/Sungai yang memiliki nama. Sungai-sungai ini mengalir dari hulu ke hilir. Dari kawasan pegunungan tengah menuju Samudra Indonesia. Disepanjang alirannya banyak anak sungai tak bernama menyatu menjadi sungai utama (Capuhan). Nampak jelas aliran sungai itu membentuk sikut-sikut Tata Ruang Tabanan. Baik Parahyangan, Pelemahan maupun Pawongan. Peradaban lama dan budaya Subak pun tumbuh selaras disepanjang alirannya.

Mengenal aliran sungai merupakan pengetahuan dan pembelajaran alam yang sangat berharga. Kita bisa belajar dan memahami kembali simpul-simpul budaya, khususnya budaya pertanian yang hingga kini menjadi Ikon Kab. Tabanan. Aliran sungai tersebut merupakan urat nadi sekaligus jawaban mengapa Kabupaten Tabanan menjadi “Lumbung Pangan”.

Disepanjang alirannya, aliansi budaya dan tradisi keyakinan Krama Subak dan Desa Pakraman pun terlaksana rutin sepanjang tahun. Membudaya dalam tradisi Keyakinan terstruktur di beragam Upakara dan Upacara. Sungguh menciptakan keteraturan, membentuk tatanan selaras alam dalam “Radius Spirit Kesucian”, Jagat Tabanan.

Pagi itu, Minggu 4 Nopember 2012, kami berenam menyusuri hulu Sungai Otan. Sebuah langkah mengawali “Ekspedisi Hulu Sungai” Jagat Tabanan. Kami pun mulai mencatat, ada tujuh Sungai terpanjang di Tabanan berturut-turut, yaitu :

  1. Sungai Yeh Sungi 40, 50 Km;
  2. Sungai Yeh Ho 35,50 Km;
  3. Sungai Yeh Panahan 33,50 Km;
  4. Sungai Yeh Empas 29,00 km;
  5. Sungai Tukad Balian 25,30 Km;
  6. Sungai Yeh Otan 24,00 Km dan
  7. Sungai Tukad Aon, T. Bangka 21,00 Km.
Setelah beberapa lama di kawasan hulu Sungai Otan, kami beristirahat di bawah pohon Tingkih (kemiri). Seorang kawan mengajarkan saya main “Adu Tingkih”.
Mengenali untuk meyakini, bahwa alam selalu memberi inspirasi. Mari kita hormati dan kita lestarikan. “Ekspedisi Hulu Sungai” Jagat Tabanan, sebuah pendidikan alam alternative yang cukup menjanjikan. (MN).