Kiamat, Kaliyuga Berakhir

Akhir-akhir ini, kiamat menjadi isu yang menggelitik banyak orang. Ada yang cemas, ada pula yang senang karena punya bahan guyonan baru. Saya pun ikut-ikutan membahas kiamat melalui tulisan ini. Namun, saya mencoba melihat dari perspektif yang konstruktif. Seperti kita ketahui, isu kiamat bersumber dari kalender suku Maya yang berakhir pada tanggal 21 Desember 2012.

1b. Satya Yuga

 

Popularitas penanggalan tradisional itu terkerek naik dan menjadi buah bibir sejagad setelah insan film Holywood menyajikannya di layar lebar. Tak pelak, pemuka adat di Peru pun melontar protes. Mereka mengeluhkan eksploitasi penanggalan itu untuk kepentingan bisnis. Mulai dari film, buku, paket tour, hingga oleh-oleh khas kiamat.

Di negeri kita, ada yang menghubungkan isu itu dengan ramalam almarhum Mama Lauren. Paranormal tenar itu hanya mengatakan bahwa 2012 gelap. Lebih jauh, sang Mama menekankan bahwa akhir 2012 akan terjadi perubahan peradaban dari Kaliyuga ke Kertayuga. Tak jelas, apakah kesimpulan ini buah dari analisa mendalam atau hanya visi keparanormalan belaka.

Sekilas nampak benang merah antara muatan pesan kalender suku Maya dan ramalan Mama Lauren. Terlepas dari warna-warni ramalan itu, Forum Studi Majapahit yang intens mengamati perjalanan sejarah dan peradaban ternyata punya pandangan senada. Dalam berbagai studi dan perjalanan spiritual, juga menarik kesimpulan bahwa akan segera ada perubahan peradaban.

Jaman menurut Hindu

Bila kelompok New Age menandai jaman dengan memakai sifat logam : emas, perak, perunggu, dan besi. Hindu mengenal empat jaman kehidupan. Yakni, Satyayuga, Kertayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Setelah era Kaliyuga, kembali ke Satyayuga, dan seterusnya.

Satyayuga adalah jaman dengan mayoritas manusia punya kesadaran spiritual tinggi. Takut kepada Tuhan, cinta ibu pertiwi. Pada era Kertayuga, kesadaran manusia mulai menurun, lebih berorientasi pada kesejahteraan. Dwaparayuga, serba separuh. Kaliyuga, seperti yang kita alami sekarang. Banyak yang edan, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda. Ibarat besi yang mudah berkarat. Gampang melupakan kemuliaan dan kejujuran. Tidak takut Tuhan. Bahkan ada yang menganggap Tuhan sudah mati. Percaya Tuhan, hanya sebatas ritual atau sembahyang. Ada yang menyebut, manusia Kaliyuga berintelijensia terpayah.

Sudah Masuk Transisi

Mengamati beragam kejadian saat ini, Forum Studi Majapahit membahasakan sebagai suatu narasi besar, sebuah karya agung, perubahan jaman yang penuh misteri. Masa transisi dari Kaliyuga ke Satyayuga. Di masa transisi, dua jaman berjalan bersamaan. Di satu sisi, Kaliyuga sedang mencapai masa puncak akhirnya. Di sisi lain, Satyayuga memasuki tahap persiapan.

Berakhirnya Kaliyuga, bisa diamati dari keedanan yang sebelumnya rekat, mulai terkuak dan tersimpulkan. Tercium aroma kebusukan, sekaligus ganjarannya. Hal itu tampak di semua lembaga negara dan tingkatan pimpinan negara. Juga pada tataran kehidupan keluarga dan masyarakat. Disebutkan di banyak buku suci, bahwa pada akhir jaman nanti akan ada pengadilan yang tegas, tak terhindarkan. Malaikat turun ke bumi mengisi dan memperkuat sinar kesucian manusia.

Di saat bersamaan, persiapan Satyayuga semakin kasat mata. Saat ini kehidupan beragama kian marak. Bermunculan fenomena demam spiritualitas, meditasi, yoga dan sebagainya. Pula, terjadi masif di sekitar kita, fakta individu tiba-tiba harus ngiring Ida Betara. Kesurupan massal dan lainnya. Ini jelas, sebagai gejala kebangkitan spiritual. Sedang terjadi transformasi kesadaran kolektif sistimatis – eschatological.

Bencana Bertubi Tanda Transisi

Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa, penasehat Forum Studi Majapahit, menyitir kitab Sasangka mengatakan, bahwa Kaliyuga sudah mencapai 5200 tahunan dan sudah memasuki masa akhir. Dikatakan, “ Wali ikang jagat anyar, meresik ikang buwana, lima kang urip, satus kang tumbal ing pati.“ Sabda ini seirama dengan “ Wong Jowo tinggal separo, wong Chino tinggal sajodo” (penggalan Kutuk Sabdopalon Nayogenggong). Bisa dicurigai mitos kebangkitan Majapahit akan seiring dengan peralihan jaman.

Wali ikang jagat anyar, bumi akan memasuki peradaban baru. Meresik ikang buwana, akan terjadi pembersihan bumi. Sistim alam sedemikian canggihnya, semua ada detail waktu. Menurut para ahli; bumi sedang memasuki cakrawala garis waktu yang disebut photon belt area. Area ini mengandung gelombang elektro magnetik yang lebih padat dari area cakrawala sebelumnya. Sehingga sinar matahari terasa lebih panas. Hal itu bukan semata karena efek rumah kaca.

Sebab faktanya, justru langit yang terekspos polusi karbon akan bersinar lebih redup, tidak sepanas dibandingkan daerah berlangit biru. Para ahli terbelah pro-kontra dalam isu ini. Dipilihnya efek rumah kaca sebagai kambing hitam memang cukup beralasan. Paling tidak, membawa efek baik buat bumi, upaya penghijauan lebih digalakkan. Naiknya suhu yang ektrem ini, mengundang datangnya awan cumulus nimbus yang menjadi biang angin kencang serta hujan amat lebat. Bencana banjir pun tak terhindarkan.

Masuk ke photon belt area, seperti efek microwave oven. Isi perut bumi semakin panas dan kian bergejolak. Akibatnya, meningkatkan frekwensi dan intensitas gempa, tsunami, serta merangsang aktivitas gunung berapi. Jangan lupa, dalam konsep menyatunya buana agung dengan alit; memanasnya perut bumi, membuat amarah manusia mudah tersulut. Belum lagi, badai matahari, dengan coronal mass ejection nya. NASA pun kesulitan menebak dampak yang ditimbulkan. Mereka hanya meramalkan badai matahari kali ini lebih besar dari sebelumnya.

Lima kang urip, satus kang tumbal ing pati ; akan banyak korban berjatuhan saat proses pembersihan alam.

Dalam tulisan ini, saya tidak sedang mencari sensasi, atau mencoba menakut-nakuti. Namun, lebih mengajak mencermati dan mengantisipasi sebuah kejadian mega besar di depan mata, yang kemungkinan akan terjadi dalam waktu yang relatif dekat. Diibaratkan sedang mengamati detik-detik proses matahari terbit. Pada saat itu, diusahakan mata tak berkedip menatap indahnya matahari merangkak perlahan. Selanjutnya, harus cepat sadar, jangan terlena, manakala sang surya telah benderang. Bila cara menatapnya masih sama, niscaya mata kita akan terbakar.

Terlepas dari apa pun pendapat Anda, inti dari tulisan ini adalah saya ingin mengajak pembaca untuk mengambil hikmah dari gonjang-ganjing isu kiamat dan gejolak alam yang tengah berlangsung. Jauh lebih bijak bila kita segera bertobat, siuman dari pingsan moral. Bertekad memuliakan diri dan hidup. Sebagaimana kita yakini bahwa Sanghyang Acintya ada dalam diri kita. Mari kita berucap selamat tinggal keedanan, selamat datang Satyayuga. Kita jalani hidup dengan berkecukupan hati. Kita songsong jaman berbahagia ini dengan limpahan syukur.

Oleh : Made Suryawan – Ketua Forum Studi Majapahit