Refleksi, Mebakti, Mebukti

Tabanan 7 Desember 2012. Malam itu kajeng kliwon uwudan, sendirian menanti di Heion, kami berencana melakukan tirtha yatra ke Pura Batukaru Tabanan bersama teman – teman komunitas. Akhirnya berkumpul 4 orang, yaitu Wahya Biantara, bli Putra sedana, Gede Sinu (gede sleeper) dan saya sendiri. Berangkatlah kami menuju ke Pura Batukaru. Sesampainya disana ternyata bli Dek Enjoy telah menanti.

Lengkaplah malam itu kami 5 orang melangkahkan kaki menuju Pura. Kurang lebih waktu pun menunjukkan pukul 22.00 WITA dan perjalanan kami mulai menuju Pura Beji. Terasa suasana yg berbeda malam itu. Kami pun melangkah. Namun sedikit mengejutkan bagi kami, setelah beberapa langkah kami berjalan, seekor ular datang menyambut kami dan berjalan didepan kami semua. Kami pun berjalan agak minggir, seraya memberikan ia ruang. Setibanya di beji, kami pun melukat di sumber mata air sebelum menuju pura untuk persembahyangan.

Bagi beberapa teman mungkin merasakan hal yang berbeda saat sembahyang di Pura Beji, dan saya pun merasakannya. Namun kami tetap maturan Pejati dan banten yang sudah dibawa. Suasanayang sangat tenang dan hanya terdengar gemericik air dan jangkrik di suasana malam, menguatkan suasana mistis persembahyangan dan meditasi malam itu. Seusai dari Pura Beji, persembahyangan dilanjutkan ke Pura Utama Batukaru di atas, dan terlihat ada beberapa orang yang telah nangkil sebelum kami datang.

Setelah disiapkan segehan dan banten Pejati, persembahyangan pun dimulai. Perenungan kedalam diri, (refleksi),  berdoa dan bersyukur (mebakti) ,  mengingat apa saja yang sudah kami lakukan selama 2012 sesuai swadarma masing-masing (mebukti) pun tak luput terlintas dari pikiran selama persembahyangan berlangsung.

Setelah nunas tirtha dan bije, terasa segar dalam diri ini, itu yang saya rasakan. Apalagi dengan banyaknya pemikiran tentang kesejajaran planet-planet yang kabarnya akan terjadi pada 21-12-2012 sesuai ramalan Suku Maya di akhir Tahun 2012 ini. Semakin menambah nuansa yang berbeda bahwa semuanya akan mencari titik keseimbangan (Balance). Begitu pun manusia yang sudah mampu menyeimbangkan hubungan secara vertikal (maturan, bakti, yadnya) dan horisontal (membantu sesama, aksi sosial, dana punia) dalam benakku.

Agak lama kami berada di Pura Utama Barukaru, kemudian kami pun menuju ke luar Pura dan melangkahkan kaki menuju Pura Dalem di sisi luar. Kali ini hanya kami berlima, tidak ada siapapun kami temui diperjalanan maupun disana. Banten pun dipersiapkan dan persembahyangan kami mulai. Hening, waktu pun tak terasa sudah pukul 00.00 WITA. Selesainya bersembahyang, kami berlima menuju tempat petugas penjaga Pura Batukaru yang berada dibagian timur parkiran pura, sambil menyantap “prasadham”  banten yang tadi kami bawa. Disini pun mengalir berbagai diskusi dan topik-topik hangat seputar Tabanan maupun topik di grup facebook Talov.

Apa yang sudah dilakukan selama ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Semua saling berbagi tentang pandangannya masing-masing mengenai, apa itu Talov, mengapa harus muncul Talov, mengapa ia tidak berbentuk seperti ada dan tiada, abstrak namun konkrit, walaupun ada di dunia maya namun ada di aksi nyata dan sebagainya.

Ternyata disana lah muncul jawabannya, banyak orang yang ingin membangun Daerah yang dicintainya. Dengan jumlah grup Talov yang sekitar 2489 member (update 8 Des 2012) muncul pula banyak Harapan.

“Membangun desa dari petani adalah dengan membentuk masyarakat agar merasa bangga dengan tugasnya. Bentuklah harapan, buat mereka menjadi pejuang bahkan pahlawan,” saut Dek Enjoy.

“Misalnya kalau nelayan berikanlah ia kail, bukan ikannya. Jika ada dana bantuan pemerintah sebaiknya diperuntukkan membeli hasil panen petani agar masyarakat menjadi benar-benar bergairah. Sehingga tidak akan ada lagi muncul petani yang menjual tanahnya demi bangunan vila, hotel dan lain sebagainya, hanya karena desakan ekonomi dan tidak adanya generasi muda yang mau turun ke sawah untuk mencangkul.” imbuhnya lagi.

Berbagai alasan mesti ditepis. Bayangkan bila semua masyarakat menjadi beralih profesi ke kota semuanya. Siapakah yang akan menanam padi di sawah, apa yang anak cucu kita akan makan nantinya. Bagaimana bila semua orang menganggap pekerjaan kantoran itu bergengsi?
Sepertinya kita harus banyak belajar dari masyarakat desa. Karena merekalah yang benar-benar hidup hemat. Merakalah yang benar-benar kaya. Kita di kota adalah masyarakat miskin sebenarnya. Kita bukanlah siapa-siapa kalau tidak ada masyarakat di pedesaan. Karena beras dan sumber pangan sebagian besar berasal dari sana.\

Hidup memang saling melengkapi, saling membutuhkan. Jadi mari biarkan semuanya berjalan sesuai swadharma masing-masing dan dijaga keseimbangannya jangan sampai ada yang berat sebelah. Misalnya pembangunan perumahan lebih banyak daripada lahan untuk menanam sumber pangan. Bila perlu didukung sepenuhnya untuk menumbuhkan harapan menjadi maju bersama-sama yaitu masyarakat desa dan masyarakat kota.

Semoga Talov bisa memberi secercah harapan bagi banyak pihak sesuai tugas dan kewajibannya semua anggota / member di bidang pekerjaannya masing-masing. Tidak ada kata SIBUK (alasan klasik 5 huruf) karena menurut bli Dek Enjoy justru Orang yang mampu mengurus Orang lain (menolong sesama) memiliki waktu sibuk lebih banyak (karena selain ada waktu untuk dirinya sendiri ia sudah mampu membantu diri orang lain).

Orang yang Sibuk dengan dirinya sendiri maka Semesta Alam Mendukung untuk membuat orang tersebut lupa waktu karena sibuk terus mengurusi dirinya. tidak memiliki waktu untuk orang lain.

Namun apabila niat sudah muncul dalam diri orang tersebut “Bahwa ia tidak SIBUK” , maka sesibuk apapun ia akan mampu mengaturnya karena Alam Semesta akan mendukung mewujudkan Niatnya tersebut. Bahkan Hujan mendung petir sekalipun tidak akan mampu menahan NIAT orang tersebut untuk hadir dalam acara-acara TALOV, karena Alam Semesta akan mendukungnya itulah kekuatan “Alam Bawah Sadar” (pikiran manusia).

Percaya tidak percaya .. Percayalah, dan Perhatikan Apa Yang akan terjadi.

Salam Namaste
“Semoga Pikiran Dan Dukungan Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru”

Rary  Triguntara, SKM
INSOMARI BALI