Mengenal Nasi Lebih Dekat

Mayoritas dari kita masih makan nasi. Yang dibuat dari beras. Beras dibuat oleh Petani. Entah petani Bali atau Luar Bali atau Luar Negeri, yg jelas petani. Jadi ada baiknya kita kenal apa yang kita makan dan pembuatnya. Cara yang paling gampang adalah dengan mengunjungi yang terdekat yaitu di Bali untuk yang berdomisili di Bali.

Tetapi semasih gampang mendapatkan beras kita tidak akan pernah peduli bagaimana beras dibuat, dimana dibuatnya dan siapa yang membuat beras tersebut. Semoga saja tetap gampang mendapatkannya, karena kalau sampai susah mendapatkannya entah seperti apa hidup kita sehari-hari yang nyatanya harus punya nasi tiap hari.

Sebelum hal itu terjadi mungkin ada baiknya kita mengenal apa yang kita makan tiap hari itu, mengenal bagaimana, dimana, siapa yang terlibat dalam pembuatan beras. Haltersebut penting agar kita tahu yang kita makan tiap hari biar tidak salah makan sehingga pola makan kita tidak hanya mendapatkan zat tapi juga makna dari makan(NGAJENG=ke ajeng, kehadapan=ke ajeng).

Sehingga makan kita lebih sempurna.Bukan hanya Zat tapi benar-benar Zat(kesadaran=zat).Dengan begitu kita akan tahu lebih detail tentang beras, utamanya beda beras Bali(dibuat di Bali) dan yang bukan Bali. Kita semua tahu bahwa di Bali ada banyak Tatwa dan Upacara/Upakara dalam membuat beras oleh petani.

Mulai dari awal menabur benih, menyebar benih(memula) sampai saat panen, dan setelah panen(sampai membuat perwujudan Tuhan/Dewa Nini). Tiang yakin hanya petani yang biasa membuat/mengajegkan Dewa/Tuhan(Dewa Nini), sementara profesi lain belum pernah tiang tahu(mungkin karena terbatasnya wawasan tiang pribadi).

Dan juga petani Bali punya upacara khusus di khayangan, baik khayangan desa maupun sad khayangan, yaitu upacara NGATURAN SARIN TAHUN. Maaf tiang sama sekali tidak merendahkan profesi lainnya hanya mencoba mengingatkan bagaimana kita menjalani profesi kita masing-masing kalau kita tidak makan? Bukankah kita semua khususnya orang Bali bekerja dengan alasan mencari makan(Ngalih Baas)? Jadi mari luangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk lebih memahami dasar hidup kita. Karena percuma kita bisa ke bulan kalau kita susah cari makan.

Semoga dengan mulai memahami dan mengerti dasar kehidupan, kita akan lebih mampu meningkatkan kualitas kehidupan kita.Pada hari Minggu, Tanggal 06 Januari 2013, tiang mengundang semua pihak untuk ikut berpartisipasi, karena rencananya tiang bersama teman-teman dan beberapa pihak lain yang mencintai Bali dan peduli Bali (termasuk mereka yg tidak bisa Facebookan).

Dan juga karena kebetulan karyawan Pinny Cell libur(Ultah) yg merayakan ULTAH Pinny dgn menginap semalam di Bedugul, maka balik dari Bedugul, semua karyawan dan acara lanjutan Ultah Pinny, tiang lanjutkan ke Subak Ganggangan. Kira-kira semuanya minim 20 orang yg dari luar,ditambah karyawan Pinny 20 lagi. Sisanya warga STT Satria Dharma Santhi,Masyarakat Br. Pagi dan warga subak Ganggangan sebagai model untuk sesi foto-foto kegiatan Subak.

Acaranya model hunting foto kehidupan sehari-hari di Subak. Bincang-bincang sederhana dengan Petani, sambung rasa dan dengar pendapat. Intinya Mengenal lebih dekat subak sebagai wahana awal kehidupan.

Ternyata bantuan yg diperlukan oleh petani adalah semangat bertani dan penghargaan atas profesi petani. Bantuan yg berupa materi malah cendrung menumbuhkan mentalpengemis. Misal jika subak Pagi dapat bantuan maka subak lain malah berlomba mencari bantuan bukan kreatif membantu dirinya sendiri. Akhirnya balapan jadi peminta bantuan. Semakin besar dapat bantuan mereka malah semakin bangga.

Mengunjungi petani dan menghargai mereka secara langsung dengan menjadikan mereka judul sekaligus pemeran utama dalam cerita kehidupan kita yg nyata. Semoga dgn begitu mereka bangga menjadi petani. Yang terpenting adalah mulai menyusun dokumentasi dan cerita tentang Subak. Termasuk Tatwa dan Upakara mulai dari mewinih, memula sampai mesaba(panen). Semoga nanti orang Bali mengerti kenapa beras/nasi yg kita makan berbeda antara import dan lokal.

Beda antara Beras Bali dan non Bali(sukla,non sukla). Dan diharapkan nantinya memperkuat ekonomi Bali(peredaran beras sesama Bali).

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, petani bangga dan eksis bertani. Masyarakat mengerti pentingnya Subak dan Petani. Dengan begitu semoga kita bijak memilih budaya modern dan lebih bisa menjaga Budaya Bali dengan ketahanan ekonomi.Itu beberapa hal yg bisa tiang tulis. Karena masih banyak sekali hal lain yang akan tumbuh dari budaya Subak yang sebenarnya, efeknya bagi keutuhan Bali(Ajeg Bali).

Dumogi bermanfaat.

Br. Pagi, 21-12-2012
I Made Jonita
Suksema …