Selamat Jalan Wulan

Sering, jika ada sosok cantik nan ayu, indah, bersinar, bercahaya, orang menyebutnya bak “Bulan”. Sebuah perumpamaan alami, entah siapa yang memulai. Yang jelas perumpamaan itu mewakili kesepakatan sebagian besar orang sejak lama. Kini sebutan “Wulan” adalah fersonifikasi bulan yang memang cantik, dimalam hari.

Hari itu, dipondok bambu kami berjumpa, ia pun bercerita tentang hidup yang awalnya bahagia bersahaja, bersama anak dan suami. Hidup yang nyaris tak kurang suatu apa. Namun putaran dunia berubah, musibah demi musibah menemani Wulan. “Sampai suatu saat ia menyerah, kalah, dan lelah”. Wulan harus rela ditinggalkan suami beberapa tahun, suami tercinta, tulang punggung keluarga.

Ditengah kelelahan itu, Wulan pasrah, Wulan menyerah, Wulan ingin lari menjauh, jauh dari kehidupan yang keras, kehidupan yang tidak lagi peduli, kehidupan yang semu, kehidupan yang membuat dirinya terasing. Jangankan untuk bersenang-senang, membeli sejumput beras pun ia tidak sanggup lagi.

“Sampai disini, kisah Wulan mulai klimaks. Saya (kita) yang awalnya bercanda tertawa akhirnya terbawa dengan haru birunya suasana, terbawa pada kisah tentang “Keteguhan” seorang ibu. Ibu yang harus menghidupi 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Tidak punya sawah, tidak punya siapa-siapa. Urusan pajak dan NJOP sepertinya jauh dari benaknya. Apalagi urusan jalan rusak, atau cerita tentang Subak”.

Wulan bangkit, Wulan tak menyerah, Wulan melangkah sendiri demi sesuap nasi dan biaya sekolah anaknya. Rupanya Tuhan mengerti deritanya, bertahun-tahun Wulan tak peduli lagi cibiran tetanga, cibiran keluarga. Wulan hanya berpikir, bagaimana ia dan anak-anak bisa makan esok hari. Bisa sekolah tak berhenti. Menyelamatkan nasib anak dan suaminya. Pekerjaan apa pun ia lakukan, mulai yang biasa sampai yang luar biasa, dari yang beretika sampai yang dianggap “maksiat” sekali pun.

Wulan sangat menyadari pilihan hidupnya tak biasa dimata orang. Kebenaran hanya ada pada hatinya, ada pada perasaaanya. Sedikitpun ia tak sengaja memilih jalan yang bagi orang banyak tak menjadi pilihan. Wulan tetap teguh, kebenaran hanya milik dirinya. Apapun kata orang sesungguhnya ia tak lakukan.

“Begitulah kejamnya jaman, tuduhan demi tuduhan hadir tak beralasan. Tuduhan hadir hanya permukaan. Mereka yang menuduh tak pernah mengerti, tak pernah menyadari, tak pernah menghayati. Tuduhan yang tak beralasan, tuduhan yang minim pengetahuan,” jelas Wulan mengingatkan.

Tahun berganti tahun, Wulan akhirnya bisa bangkit, bisa memberi makan dan menyekolahkan anaknya. Bisa memulangkan suaminya dari “jendela derita”. Ia pun kini mulai sedikit bisa tertawa, berbagi cerita sambil mengingatkan,”semoga tidak ada wanita yang senasib dengan dirinya”.

“Tapi miris, orang-orang terdekatnya tetap saja tidak bisa terima. Tidak bisa terima kalau Wulan bangkit dengan cara yang tak lazim dimatanya. Bahkan tak pernah mau mengerti, Wulan sesungguhnya sudah menyelamatkan 4 nyawa. Bukan hanya sehari dua hari, Tapi bertahun-tahun.”

Wulan tetap tegar, kini ia rela “sendiri” demi anak-anaknya. Demi keluarganya. Dari jauh ia tetap menghidupi 4 anaknya untuk bisa makan dan sekolah. “Hanya peluk cium pengertian keempat anaknya lah, ibarat Dewata yang selalu hadir pemberi kekuatan.”

Begitulah kisah sosok Wulan, sosok yang menginspirasi di hari itu. Hari sehari setalah peringatan Hari Ibu, 22 des 2012.

Menjelang pulang sempat ku tanyakan. Apakah anak-anak juga benci dengan Wulan? “Anak-anaknya sangat mengerti dirinya, anak-anak sayang pada dirinya, anak-anak bangga dengan dirinya, “jelas Wulan menyisakan rona bahagia di wajahnya.

Kini Wulan hidup sendiri, memilih Jalan Sunyi. Bukan untuk apa-apa. Itu semua untuk buah hatinya. Buah hatinya yang belum saatnya mengerti, apalagi harus menanggung beban hidupnya yang kata orang “TAK BERARTI”.

Nah…siang itu, sepertinya Wulan mengingatkan. “Bahwa kebenaran bukan lah selalu yang nampak. Dan yang nampak bukanlah selalu kebenaran,”hayalku sambil mengangkat cangkir kopi yang tak lagi berair.

Entah lah, siapa pun Wulan itu, yang jelas ada banyak cerita lain yang tak nampak (di Tabanan). Cerita yang tenggelam dan ditenggelamkan oleh hebohnya berita “permukaan” di TV dan Koran-Koran.

Itulah perjumpaan pertama dan mungkin yang terakhir dengan Wulan. Saya tidak tahu no HP nya, Saya Tidak tahu alamatnya. Tapi anehnya, sosok Wulan selalu hadir dalam benak dan pikiran. Ia seperti menjelma menjadi sosok “sentral Imajiner”. Setara dengan sang “Dewi Sinta” dalam kisah Ramayana. Atau setara dengan RA. Kartini. “Seperti ada dan tiada”. Mungkin tidak penting wujud pisiknya, tapi apa pesan di balik cerita kehidupannya.

Terima kasih Wulan, dibalik kisah Pilu hidupmu, banyak pelajaran yang kamu berikan. Anehnya itu kamu hadir sehari menjelang Hari Ibu. Hari yang tak pernah kamu peringati dan mengerti. “Selamat jalan Wulan!” (MN).