Subak Hulu di Tepi Panahan

Pagi tadi cuaca cerah berawan, padahal beberapa hari ini Tabanan selalu di guyur hujan. Sepertinya hari ini minggu, 6/12/2013 alam begitu bersahabat ketika saya putuskan untuk berangkat, menuju arah utara kota Tabanan.

Atas arahan seorang kawan, saya sengaja memilih jalan alternative, masuk kearah timur kota kecamatan Penebel. Melintasi Desa Biaung dengan suasan asri khas Bali, terus ke utara, dipertigaan sepi saya belok kiri masuk menuju arah banjar Pumahan. Saya pun sempat bertanya dengan anak kecil untuk memastikan arah tujuan.

Sunny Day at Pagi Village
Foto by Agung Bagus Maradi https://www.facebook.com/spidolitemz

Ketegangan sedikit terasa ketika melintasi jalan sepi berliku. Menurun tapi tak becek karena berbeton. Namun perlu ekstra hati-hati karena jalan agak lincin, basah lembab berlumut. Dan saya pun sempatkan mengambil beberapa photo panorama indah kelokan dan jembatan kecil di apit rimbunan hutan bambu.

Beberapa menit kemudian saya bertemu pemukiman, rupanya saya sudah tiba di Banjar Pumahan. Nampak penduduk menjemur hasil panen gabah di jalanan. Jalan nampak menguning beberapa puluh meter. Beberapa kali saya mohon permisi untuk lewat kepada ibu-ibu desa yang sedang menjemur gabahnya.

Keluar dari pemukiman, mata mulai dimanjakan oleh indahnya hamparan persawahan yang baru saja di panen. Di kiri kanan jalan air irigasi mengalir bening berlimpah. Dikejauhan nampak hijau indah menjulang, puncak gunung Watukaru.

Rupanya, masih ada aktivitas panen padi berlangsung. Tumpukan gabah dalam karung kampil pun nampak berjejer di pinggir jalan siap diangkut. Juga beberapa mesin Dores perontok padi masih parkir rapi di tepi jalan. Laju motor saya hentikan sejenak, ketika ratusan bebek nampak terpencar di persawahan. Sebuah pemandangan yang sudah jarang saya temui dalam beberapa tahun terakhir. Pondok-pondok terpal pengembala bebek pun nampak didekatnya.

“Bu, bebek-bebek niki sire meduwe?” tanyaku pada seorang ibu paruh baya yang lagi lewat. Ibu Suka namanya. “Niki bebek dwe nak saking Desa Jadi,”jawab ibu itu ramah.

“Lunge kije niki? ngiring simpang di pondok, pondok tiang nampek driki,”kata ibu itu sambil menunjuk ke arah pemukiman. “Inggih benjang-benjang bu,”jawab ku.

“Boleh tiang photo bebek-bebek niki?” tanyaku lagi. “Ohh durusang, becik nike, apang wenten anggen kenang-kenangan,”jelas ibu itu sambil senyum. Saya pun mengabadikan pemandangan langka itu dalam beberapa jepretan.

Motor ku pacu lagi, dan beberapa menit kemudian saya pun tiba di tujuan, Kawasan Subak Ganggangan Banjar Pagi, Desa Senganan Penebel Tabanan. Subak ini termasuk bagian dari Subak Aya III, air subak ini berasal dari mata air Gembrong, Banjar Soko, Senganan. Subak yang berada di Hulu Sungai Panahan. Sungai yang mengalir ke hilir, mengukir peradaban, melintas tepat di timur kota Tabanan.

Menuju Subak Ganggangan di Hulu Yeh Panahan, mengenali dan memahami kembali budaya dan kehidupan krama “Subak Hulu” di Tabanan. Subak yang bermakna pengetahuan dan keyakinan tentang tata ruang makro dan mikro kosmos, untuk menuju keselarasan kehidupan semesta yang maha suci di Bali. (MN).

Minggu,6 Jan 2013
Made Nurbawa