Golput Mengandaskan Pesta Demokrasi?

Seorang teman dalam beberapa kali diskusi lewat media social selalu menekankan agar tidak golput dalam pemilihan kepala daerah provinsi bali yang akan berlangsung sebentar lagi (15 Mei 2013). Dalam beberapa komentarnya kurang lebih ia sebutkan seperti ini:

“Bila jaman dulu memilih Pemimpin lewat Wakil/Dewan , rakyat protes katanya tidak demokratis.. sekarang Rakyat sudah dikasi memilih langsung Pemimpinnya malah Buang suaranya (golput) , itulah Manusia.. kasian Uang Pemilu (uang APBD/APBN dibuang percuma) hnya dgn Golput.. pdh itu uang kita. semoga 1 suara bisa menggugah byk org tdk golput., karena percuma tdk ada yg akomodir suara golput tsb, tetap saja pemenang akan dilantik dan kita semua akan merasakan kepemimpinannya. Jadi Pilihlah yang LUBER (Langsung, Umum , bebas dan Rahasia) sesuai dan lihat apa yg sdh direncanakan programnya.”

“Bila ada pemikiran lain tentangg golongan putih,agar bisa di Obati segera, sblm Golputnya menjadi kronis dan Kanker (menjalar kemana2) sehingga menjadi Pemilih yg tdk lagi membuang suaranya yg sudah diakui / dijamin Undang-Undang, karena ini pesta rakyat , inilah Pesta Demokrasi Pemilu”

Dari komentar tersebut saya jadi berpikir apakah benar golput sama artinya membuang suara? Kalau menurut saya (ini pendapat saya pribadi sebagai orang awam) tidak memilih salah satu calon atau golput artinya tidak sama dengan membuang suara. Mengapa demikian? Karena golput pun merupakan salah satu mekanisme memanfaatkan suara dengan tidak memilih satupun calon yang dimunculkan. Ini juga adalah hak setiap warga Negara dan merupakan bagian dari proses demokrasi.

Justru adanya indikasi golput menjelang suatu pemilihan sebenarnya dapat menjadi sebuah analisis strategis bagi tim sukses maupun pasangan calon yang bertarung dalam suatu pemilihan. Bisa jadi sama seperti saya banyak yang berpandangan bahwa calon yang bersaing dalam pemilihan ini memiliki kualitas yang sama (sama baiknya atau sama buruknya) jadi tidak masalah siapapun yang terpilih. Bukan berarti pilihan ini adalah pilihan orang-orang yang cuek, tidak peduli, atau tidak mau mencari informasi lebih lanjut tentang calon. Berbeda dengan tim sukses atau pendukung salah satu calon. Kelompok ini sudah pastinya akan bilang calon yang mereka usung pastilah yang lebih baik.

Oleh karena itu, bisa jadi kelompok ini adalah peluang yang lebih baik untuk mendapatkan tambahan pendukung ketimbang merubah pilihan mereka yang telah menjadi pendukung calon lainnya. Kelompok pendukung hendaknya mampu menjelaskan dengan jalan yang baik apa keunggulan calon yang mereka usung. Atau juga pasangan calon bisa juga membuka ruang komunikasi yang seluas-luasnya untuk kelompok ini. Terlebih pada era teknologi yang semakin maju ada banyak cara yang bisa dilakukan. Dengan catatan bila tujuannya memang baik, dilaksanakan dengan jalan yang baik pasti hasilnya akan baik pula.

Setelah segala daya upaya dilakukan, namun golput tetap tinggi artinya apa? Pada salah satu harian disebutkan tingginya golput bahkan berarti justru kesadaran berpolitik masyarakat kian meningkat (*). Masyarakat kini kian sadar untuk tidak memberikan legitimasinya terhadap calon pemimpin yang tidak berkualitas atau dianggap kurang dedikasinya terhadap rakyat. Terlebih sekarang dengan banyak janji yang diumbar untuk menipu rakyat, para pejabat dengan leluasa bergerak memanfaatkan posisinya untuk kepentingan kelompok dan kepentingannya saja. Jadi jangan salahkan masyarakat menjadi kian apatis. Jangan salahkan masyarakat yang kini semakin susah untuk percaya terhadap pemimpin maupun calon pemimpin sebagai akibat kebobrokan pemerintahan yang telah berlangsung.

Walaupun jumlah golput tinggi bahkan lebih dari 50% jumlah pemilih, KPU akan tetap meneruskan proses dan menetapkan pemimpin yang baru. Lalu? Mestinya pemimpin yang terpilih ini justru merasa malu karena tidak mampu mengakomodasi lebih banyak masyarakat untuk mendukungnya. Artinya ada masih banyak masyarakat yang meragukan kemampuannya. Karena tingginya tingkat keraguan masyarakat terhadap pemimpin maka tantangan yang dihadapinya pun akan semakin besar.

Lalu kemudian ketika pemimpin yang terpilih tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik, apakah mereka yang memutuskan untuk golput tidak boleh untuk protes? Jadi ini adalah salah mereka yang golput karena tidak menggunakan hak suaranya untuk memilih kandidat yang lain? Sah-sah saja untuk semua opini yang berkembang. Namun perlu diingat dalam Negara demokrasi seperti Indonesia, kedaulatan berada di tangan rakyat. Maka entah golput ataupun bukan setiap orang boleh dong mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah. Bahkan UUD 45 pun telah memberikan jaminan untuk kebebasan setiap warga Negara Indonesia untuk mengemukakan pendapatnya.

Apakah sampai sebegitu buruknya golput hingga dicap sebagai sebuah penyakit yang bila tidak ditangani akan menjadi kronis atau kanker yang akan mengandaskan pesta demokrasi?

Inspirasi: http://www.indosiar.com/fokus/golput-sebagai-indikasi-tumbuhnya-kesadaran-berpolitik_28805.html