Apresiasi Film, Kuliner Dan Panji – Panji Hiburan Kota Tabanan

Sore itu minggu 16/6 2013 saya berenam, berkendaraan menyuri jalan menuju arah utara kota Tabanan. Setibanya di jalan utama desa Babahan-Penebel, di pertigaan kami belok kanan. Hanya beberapa menit kami hampir sampai.  Namun untuk tiba di banjar Dadia, kami masih harus berjalan kaki-menyuri jalan beton berapit padi.

babahan-2

Sesuai jadwal, hari itu rombongan akan bergabung dengan teman lain, untuk memutar film dan rapat kecil di rumah seorang kawan di banjar dadia. Kami berbagi tugas, rapat pun berjalan lancar. Beberapa orang mengatur persiapan nonton bareng di bale banjar.

Satu agenda terselesaikan. Kami jeda sejenak. Dipertengahan rapat suguhan menu desa hadir berselera. Nampak nasi beras merah dan lauk belut goreng dengan racikan bumbu lengkap. Juga sayur kuah berisi kakul sawah. Juga sambel bongkot pedas, kacang goreng dan pepes ikan. “Suasana tenang dan sejuk, membuat saya tak tahan untuk nambah lagi.”

Beberapa saat kami pun melanjutkan pertemuan. Tidak lama, pertemuan di tutup, kami pun bubar dan menuju bale banjar. Nampak anak-anak duduk manis menonton film.

Film “Cita-Cita Setinggi Tanah” merupakan film yang layak di tonton semua umur. Jenis film ini termasuk jenis film Drama. Producer film ini  adalah Eugene Panji  sekaligus sebagai sutradaranya. Film ini diproduksi di bawah payung Humanplus Production.

babahan

Film ini melibatkan sederet pemain seperti : Muhammad Syihab, Dewi Wulandari, Iqbal Zuhda, Rizgullah Maulana, Luh Monika, Nina Taman, Agus Koncoro, Donny Alamsyah.

Dalam film ini diceritakan empat sekawan, yaitu; “Agus berasal dari keluarga sederhana di Muntilan, Jawa Tengah. Ayahnya bekerja di pabrik tahu, ibunya adalah ibu rumah tangga yang sangat mahir membuat tahu bacem. Agus gelisah setelah ditugaskan oleh ibu guru untuk membuat karangan tentang cita-cita.

Agus memiliki cita-cita setinggi langit. Sri ingin menjadi artis terkenal karena dorongan ibunya. Ia selalu ingin dipanggil dengan nama Mey. Menurutnya, nama Sri tidak menjual. Sementara Jono bercita-ciat jadi tentara. Dalam keseharian, ia beritingkah selayaknya pemimpin di hadapan teman-temannya. Jono ingin selalu menjadi ketua kelas. Sementara Puji bercita-cita ingin membahagiakan orang lain. Ia membantu semua orang yang terlihat membutuhkan bantuan. Namun di balik semua aksinya itu Puji selalu berharap mendapat sanjungan dari orang yang dibantunya. Ia haus pujian. Agus yang tiap hari makan tahu bacem buatan ibunya bercita-cita ingin makan di restouran padang. Agus menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Ia sadar bahwa untuk cita-citanya itu ia butuh uang. Masalah yang harus dipecahkan oleh Agus.

Nah, bagaimana Agus bisa mewujudkan cita-citanya makan Nasi Padang ? Proses itulah yang kemudian menjadi tayangan yang syarat dengan pesan dan unsur pendidikan. Dan diakhir tayangan, seorang kawan membantu anak-anak untuk mengapresiasinya. Dengan harapan film ini bisa sebagai media pendidikan alternative non formal.

Kami berlima pulang, menyuri kembali jalan berapit padi. Di tikungan tiba-tiba saya ingat kembali catatan kecil masa lalu jejak hiburan film di gedung bioskup kota Tabanan.

babahan-2Dari seorang warga kota, kami memperoleh sepenggal kisah lama. Konon bioskup pertama di Tabanan bernama “Bioskup Wisnu” (1930-an). Kemudian bioskup ini berubah nama menjadi “Bioskup Nusantara”. Masih di lokasi yang sama, tahun 1964 bioskup ini berganti nama lagi menjadi “Bioskup Krida”, dan beroperasi efektif hingga tahun 1985-an. Kemudian berubah lagi menjadi Tabanan Theatre.

Tidak jauh di sebelah selatan, ada lagi “Bioskup Bali”. Konon berdiri di awal tahun 1950-an. Bisokup Bali dulunya adalah gudang rokok. Gedung ini juga pernah sebagai pabrik minuman limun. Menariknya, gedung Bioskop Bali dan lokasinya masih bertahan hingga sekarang (Suadri Nyoman,2013).

Dijaman itu, baner promosi masih harus dilukis tangan, juga pengelola bioskup masih kewalahan menerima order tayang, yaitu pemutaran film “layar tancab” di beberapa desa dan kota kabupaten lainnya. “Dengan memutar  film India dan film barat, di jaman itu kedua bioskup tersebut benar-benar tampil sebagai pilihan hiburan favorit warga Tabanan.”

“Sepertinya, panji-panji sejarah dan potensi kota Tabanan nampak jelas dalam dunia hiburan (perfilman), dulu hingga sekarang. (MN).

*Mohon maaf jika ada kesalahan pencatatan.

Tabanan, 17 Juni 2013

Made Nurbawa