Sentana: Antara Cinta, Derita dan Kuasa

mmkd-bedah-buku

Cinta tidak selalu menjadi hak pribadi seseorang. Ketika cinta tak terkelola bijak, cinta juga bisa berakibat petaka, bahkan derita orang lain. Kesadaran yang terjadi sangat dipengaruhi kuasa, baik dalam wilayah pawongan, palemahan, dan parahyangan. Hubungan dan pola tersebut, nampak jelas dalam budaya dan adat istiadat di Bali. Salah satunya “Pawiwahan”.

Malam itu,walau mendung dan gerimis lembut membalut, MMKD 15/6 tetap berlanjut. Kali ini di barengi dengan kegiatan bedah buku. Sebuah novel yang mengakat kisah kehidupan. Kisah yang dekat disekitar kita. “Atara cinta, derita dan kuasa”. Lumayan inspiratif.

“SENTANA”- adalah novel yang di tulis oleh Made Sugianto, pria asal Banjar Lodalang Kukuh-Marga Tabanan. Dengan bahasa yang ringan, alur cerita dalam novel ini cukup mudah dipahami. Berikut adalah penggalan kisahnya;

Saat bazar mahasiswa di sebuah Café , Kadek Subhakti dan Dayu Dewi pertama kali bertemu. Pertemuan itu akhirnya melahirkan benih-benih cinta. Tak lama mereka memutuskan untuk bertunangan. Mereka sadar, perbedaan kasta akan menghalangi cintanya. Tapi Kadek Subhakti dan Dayu Dewi sudah terlanjur cinta sehidup semati.

Diceritakan, Dayu Dewi adalah anak tunggal. Dayu Dewi bersedia ngajak Sentana, sesuai harapan orang tuanya. Tapi sayang Kadek Subhakti berkasta sudra wangsa. Disisi lain, orang tua Kadek Subhkati pun sadar. Bahwa hubungan anaknya dengan Dayu Dewi akan menimbulkan masalah, orang tua dan keluarga besar Dayu Dewi pasti menolak. Kadek Subhakti pun disuruh putus bertunangan dengan Dayu Dewi.

Kadek Subhakti tidak menerima saran orang tuanya, ia ngambul dan tinggal di rumah kontrakan pacarnya beberapa hari. Singkat kata, kehamilan tak dikehendaki pun terjadi.

Dari penggalan cerita diatas, kita pasti sudah menduga, beragam hal akan terjadi. Dalam diskusi, bagian-bagian estetika, etika dan isi dari novel ini telah mengundang pemikiran, perdebatan, perenungan dan juga kebingungan. Tenyata banyak problema nyata yang nampak sederhana, sering kali tak mudah terjelaskan. Apalagai disadari, dipahami atau diyakini.

“Bahkan wacana yang berkembang telah menggambarkan potret pilu, bahwa sesungguhnya kita telah jauh dari sebuah budaya, kesadaran dan keyakinan. Yang sebagian orang masih dianggap sebagai tubuh dan jiwa, Bali sebagai pulau sorga.”

Kembali kecerita, kisah Kadek Subhakti dan Dayu Dewi ternyata tidak berhenti pada urusan pribadi saja. Terungkap pula hubungan dalam wilayah Tatwa, Etika dan Upacara yang ada dan terjadi diwilayah keluarga, desa dan keyakinan/agama. Dan bagaimana pula bentuk-bentuk solusi yang ada dimasyarakat.

Yang jelas buku ini belumlah jawaban, namun sangat perlu dan penting dibaca sebagai pintu masuk untuk membangun kesadaran dan pengetahuan hakekat Bali yang sesungguhnya, mulai dari Tabanan.(MN).

Tabanan, 16 Juni 2013
Made Nurbawa