Archive | Kabar Anyar

Apresiasi Film, Kuliner Dan Panji – Panji Hiburan Kota Tabanan

Apresiasi Film, Kuliner Dan Panji – Panji Hiburan Kota Tabanan

Posted on 18 June 2013 by Made Nurbawa

Sore itu minggu 16/6 2013 saya berenam, berkendaraan menyuri jalan menuju arah utara kota Tabanan. Setibanya di jalan utama desa Babahan-Penebel, di pertigaan kami belok kanan. Hanya beberapa menit kami hampir sampai.  Namun untuk tiba di banjar Dadia, kami masih harus berjalan kaki-menyuri jalan beton berapit padi.

babahan-2

Sesuai jadwal, hari itu rombongan akan bergabung dengan teman lain, untuk memutar film dan rapat kecil di rumah seorang kawan di banjar dadia. Kami berbagi tugas, rapat pun berjalan lancar. Beberapa orang mengatur persiapan nonton bareng di bale banjar.

Satu agenda terselesaikan. Kami jeda sejenak. Dipertengahan rapat suguhan menu desa hadir berselera. Nampak nasi beras merah dan lauk belut goreng dengan racikan bumbu lengkap. Juga sayur kuah berisi kakul sawah. Juga sambel bongkot pedas, kacang goreng dan pepes ikan. “Suasana tenang dan sejuk, membuat saya tak tahan untuk nambah lagi.”

Beberapa saat kami pun melanjutkan pertemuan. Tidak lama, pertemuan di tutup, kami pun bubar dan menuju bale banjar. Nampak anak-anak duduk manis menonton film.

Film “Cita-Cita Setinggi Tanah” merupakan film yang layak di tonton semua umur. Jenis film ini termasuk jenis film Drama. Producer film ini  adalah Eugene Panji  sekaligus sebagai sutradaranya. Film ini diproduksi di bawah payung Humanplus Production.

babahan

Film ini melibatkan sederet pemain seperti : Muhammad Syihab, Dewi Wulandari, Iqbal Zuhda, Rizgullah Maulana, Luh Monika, Nina Taman, Agus Koncoro, Donny Alamsyah.

Dalam film ini diceritakan empat sekawan, yaitu; “Agus berasal dari keluarga sederhana di Muntilan, Jawa Tengah. Ayahnya bekerja di pabrik tahu, ibunya adalah ibu rumah tangga yang sangat mahir membuat tahu bacem. Agus gelisah setelah ditugaskan oleh ibu guru untuk membuat karangan tentang cita-cita.

Agus memiliki cita-cita setinggi langit. Sri ingin menjadi artis terkenal karena dorongan ibunya. Ia selalu ingin dipanggil dengan nama Mey. Menurutnya, nama Sri tidak menjual. Sementara Jono bercita-ciat jadi tentara. Dalam keseharian, ia beritingkah selayaknya pemimpin di hadapan teman-temannya. Jono ingin selalu menjadi ketua kelas. Sementara Puji bercita-cita ingin membahagiakan orang lain. Ia membantu semua orang yang terlihat membutuhkan bantuan. Namun di balik semua aksinya itu Puji selalu berharap mendapat sanjungan dari orang yang dibantunya. Ia haus pujian. Agus yang tiap hari makan tahu bacem buatan ibunya bercita-cita ingin makan di restouran padang. Agus menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Ia sadar bahwa untuk cita-citanya itu ia butuh uang. Masalah yang harus dipecahkan oleh Agus.

Nah, bagaimana Agus bisa mewujudkan cita-citanya makan Nasi Padang ? Proses itulah yang kemudian menjadi tayangan yang syarat dengan pesan dan unsur pendidikan. Dan diakhir tayangan, seorang kawan membantu anak-anak untuk mengapresiasinya. Dengan harapan film ini bisa sebagai media pendidikan alternative non formal.

Kami berlima pulang, menyuri kembali jalan berapit padi. Di tikungan tiba-tiba saya ingat kembali catatan kecil masa lalu jejak hiburan film di gedung bioskup kota Tabanan.

babahan-2Dari seorang warga kota, kami memperoleh sepenggal kisah lama. Konon bioskup pertama di Tabanan bernama “Bioskup Wisnu” (1930-an). Kemudian bioskup ini berubah nama menjadi “Bioskup Nusantara”. Masih di lokasi yang sama, tahun 1964 bioskup ini berganti nama lagi menjadi “Bioskup Krida”, dan beroperasi efektif hingga tahun 1985-an. Kemudian berubah lagi menjadi Tabanan Theatre.

Tidak jauh di sebelah selatan, ada lagi “Bioskup Bali”. Konon berdiri di awal tahun 1950-an. Bisokup Bali dulunya adalah gudang rokok. Gedung ini juga pernah sebagai pabrik minuman limun. Menariknya, gedung Bioskop Bali dan lokasinya masih bertahan hingga sekarang (Suadri Nyoman,2013).

Dijaman itu, baner promosi masih harus dilukis tangan, juga pengelola bioskup masih kewalahan menerima order tayang, yaitu pemutaran film “layar tancab” di beberapa desa dan kota kabupaten lainnya. “Dengan memutar  film India dan film barat, di jaman itu kedua bioskup tersebut benar-benar tampil sebagai pilihan hiburan favorit warga Tabanan.”

“Sepertinya, panji-panji sejarah dan potensi kota Tabanan nampak jelas dalam dunia hiburan (perfilman), dulu hingga sekarang. (MN).

*Mohon maaf jika ada kesalahan pencatatan.

Tabanan, 17 Juni 2013

Made Nurbawa

Comments (0)

Polemik e-KTP, Mencoba untuk Rasional

Tags: , , ,

Polemik e-KTP, Mencoba untuk Rasional

Posted on 08 May 2013 by yandi

Dalam beberapa hari terakhir, polemik boleh tidaknya memfoto-copy KTP versi baru semakin mencuat ke permukaan. Semakin banyak berita baik media resmi, blog, maupun social media yang mengomentarinya. Jujur saya masih setengah hati kalau menyebut/mengatakan e-KTP karena hingga kini belum jelas bagaimana peran KTP ini dalam realita transaksi elektronik.

Kemendagri dalam himbauannya menyiratkan bahwa e-KTP tidak boleh difotocopy. Penekanannya ada pada kata “tidak boleh”, cukup satu kali saja. Kalau menurut pemikiran saya yang sederhana ini, dampak fotocopy terhadap produk-produk ber-chip/RFID tidak secara mudah begitu saja mudah merusak chip atau RFID. Dasar otentiknya belum pernah disebutkan, bukan? Tidak banyak atau bahkan tidak ada artikel-artikel di berita manapun yang menyampaikan dasar pendapatnya secara ilmiah selain sebagai dasar agar penggunanya merawat dengan baik untuk kepentingan secara berkesinambungan. Ini sebuah produk teknologi yang bisa diuji kebenarannya secara ilmiah. Alih-alih memperdebatkannya. Saran saya, fotocopy saja berulangkali, kalau rusak tinggal minta gantinya (gratis kan?), dan berarti teruji secara ilmiah. Tapi kalau cuma katanya, dan tidak membuktikannya, ya tidak usah khawatir berlebihan.

polemik e-KTP

polemik e-KTP

Apalagi kita berbicara suatu teknologi yang relatif masih baru memasyarakat  yang tentunya sudah dibuat dengan landasan penelitian yang panjang untuk nantinya bisa diterima dan diterapkan dalam kehidupan. Teknologi yang digunakan secara teknologi bukanlah sesuatu yang baru, chip dan RFID sudah digunakan di kartu ATM, SIM, kartu kredit, label harga di supermarket, dsb. Saya pribadi berkali-kali memfotocopy KTP dan beberapa kartu serupa untuk kepentingan kelengkapan dokumentasi dalam mengurus surat-surat, namun sejauh ini saya belum/tidak menjumpai adanya masalah.  Memang secara fisik, suatu kartu bisa rusak tapi tidak oleh seberkas sinar. Jika patah, dipukul, menerima paparan magnetik yang besar, terpapar panas berlebih, maka terjadi kerusakan adalah hal yang wajar.

Di sisi lain, ada pula pendapat yang tidak meyakini kalau KTP versi baru ini tidak mengandung chip/RFID. Untuk mengatasi penasaran saya, akhirnya saya mencobanya dengan perangkat tablet berbasis Android yang mensupport NFC (Near Field Communication) dipasangkan dengan apk TagInfo, ternyata ketika saya mendekatkan KTP versi baru ini, sistem langsung memberikan sinyal bahwa sebuah RFID teridentifikasi. Meskipun tidak bisa saya baca karena secara teknis dibutuhkan alat pembaca yang memiliki kunci pembuka enkripsi (biasa disebut decryptor key). Ah sudahlah, jangan bicara teknis. Mungkin bisa saja saya juga diuluk-uluk (dibujuk) oleh aplikasi yang saya gunakan. Nanti Anda bisa coba sendiri, banyak sekali aplikasi yang bisa membaca RFID.

Yang mungkin bisa kita tangkap secara rasional dalam isu ini adalah bahwa KTP versi baru dirancang sebagai basis transaksi elektronik dengan memanfaatkan media-media digital sehingga disebutlah sebagai e-KTP. Sehingga kata “tidak boleh difoto-copy“  menurut versi saya lebih tepat kita katakan “sebaiknya tidak difoto-copy berlebihan” , mengapa? Karena jika masih difotocopy untuk mendukung kelengkapan dokumentasi, maka itu berarti dokumen tersebut bukan “e” atau elektronik lagi.

Secara rasional, ketika sebuah dokumen sudah didigitalisasi, maka alat bacanya pun sudah bukan manual lagi, tapi secara digital juga. setuju?

Mari kita lihat sederhananya, Anda semua punya ATM bukan?
Apakah lalu Anda memilih antri di counter bank bermenit-menit bahkan berjam-jam untuk menarik tunai uang sejumlah seratus ribu rupiah? Tidak bukan? Anda cukup ke ATM (Anjungan Tunai Mandiri, sebuah alat digital) yang membantu Anda untuk menarik uang Anda dengan sebuah alat yang namanya ATM Card dan bukti transaksi Anda diolah oleh proses digital menjadi sebuah print-out transaction. Bahkan sekedar informasi, saat ini salah satu bank swasta di tanah air sudah menyiapkan prototype resmi di Ciputra World Surabaya sebuah konsep bank digital dimana tata layanan kepada customernya dilakukan tanpa melibatkan manusia lagi di officenya, Anda hanya berbekal kartu ATM saja. Jika butuh keterlibatan manusia, hanya disediakan line telephone yang terhubung langsung ke call centernya. Operasional terbuka cukup dijaga beberapa satpam saja. Mungkin akan beroperasi beberapa waktu mendatang.

Demikian pula, oke saya sebut saja e-KTP, dalam perjalanannya masih dibutuhkan sebuah jalan panjang untuk diimplementasikan secara maksimal. Informasi yang saya dapatkan dari seorang sahabat mengatakan lebih dari 10 tahun untuk Indonesia bisa memanfaatkan e-KTP secara maksimal, kita baru tahap awal untuk pengumpulan data awal, belum lagi nanti pembaharuan-pembaharuan datanya. Hal yang terjadi saat ini misalnya masih belum siapnya perangkat-perangkat pendukung untuk membaca e-KTP di instansi-instansi.

Ini yang mungkin seharusnya menjadi titik sentral pembahasan, mengapa blueprint peluncuran e-KTP ini tidak disiapkan secara terperinci. Ditambah minimnya informasi penyertanya dengan dalih bahwa masyarakat sudah paham karena selama ini sudah terbiasa dengan ATM (#bungker). Sehingga dalam praktek di lapangan masyarakat yang sudah terbiasa membubuhkan sebuah identitas tidak bisa membuktikan identitas mereka lewat sebuah alat penerjemah digital yang seharusnya tersedia di instansi-instansi yang membutuhkan sehingga mereka melakukan proses fotocopy. Sepengetahuan saya, implementasi suatu sistem sudah selayaknya dipersiapkan fase sosialisasi untuk memastikan sistem itu bisa diterima, sesederhana apapun apalagi jika menyangkut kepentingan masyarakat banyak. Sederhana berpikirnya, seharusnya, ketika e-KTP dipersiapkan untuk dilepas ke masyarakat, pemerintah pun seharusnya sudah siap dengan mekanisme bagaimana nantinya e-KTP tersebut dimanfaatkan di masyarakat selayaknya sebuah kartu elektronik/digital. Namun prakteknya akhir 2013 nanti diharapkan semua instansi sudah memiliki RFID reader sebagai penunjang operasional, great baru terpikirkan (barangkali) !

Dan sebaiknya Kemendagri justru mempersiapkan sosialisasi terhadap kemungkinan-kemungkinan:

  1. Apakah yang terjadi jika e-KTP hilang, apakah kartu pengganti terjamin keamanannya, mengingat jika kartu pengganti sama sekali identik, maka isu sekuriti sudah gagal dalam konteks ini; karena kartu lama ada potensi disalah gunakan. Kartu GSM, ATM jika hilang, masih memiliki ID lain dan juga PIN. e-KTP apakah sudah dipersiapkan untuk antisipasi hal ini?
  2. Apakah jika seorang penduduk pindah domisili, e-KTP harus diganti lagi? Jika iya, maka konteks “e” -KTP yang mana digitalisasi seharusnya membuat mudah menjadi tidak ada bedanya dengan konteks “jika bisa dipersulit, kenapa dipermudah”.
  3. Apakah e-KTP ini mudah diclone bahkan oleh aplikasi cloning RFID (seperti mudahnya beberapa kartu digital diclone hanya dengan berbekal tablet). Jika iya, maka isu sekuriti juga perlu diperhatikan.
  4. Dan tentu masih banyak isu lain yang mungkin lebih baik untuk dibahas.

Akhirnya, saya jadi berandai-andai, apakah “tidak boleh difoto-copy” itu identikal dengan perandaian “ngapain difoto-copy, cukup tunjukan KTP Anda, saya sudah dapat dokumen identitas Anda dari terjemahan mesin di kantor saya“. Apakah benar demikian nantinya? Saat ini saya katakan bisa terjadi seperti itu (nanti), tapi (saat ini) hanya Tuhan dan Kemendagri yang tahu.

Kita tunggu saja pernyataan resmi dari team yang berkompeten dibandingkan tulisan bodoh saya.  Suksma.

Comments (0)

Golput Mengandaskan Pesta Demokrasi?

Golput Mengandaskan Pesta Demokrasi?

Posted on 12 April 2013 by jayaratha

golput1

Seorang teman dalam beberapa kali diskusi lewat media social selalu menekankan agar tidak golput dalam pemilihan kepala daerah provinsi bali yang akan berlangsung sebentar lagi (15 Mei 2013). Dalam beberapa komentarnya kurang lebih ia sebutkan seperti ini:

“Bila jaman dulu memilih Pemimpin lewat Wakil/Dewan , rakyat protes katanya tidak demokratis.. sekarang Rakyat sudah dikasi memilih langsung Pemimpinnya malah Buang suaranya (golput) , itulah Manusia.. kasian Uang Pemilu (uang APBD/APBN dibuang percuma) hnya dgn Golput.. pdh itu uang kita. semoga 1 suara bisa menggugah byk org tdk golput., karena percuma tdk ada yg akomodir suara golput tsb, tetap saja pemenang akan dilantik dan kita semua akan merasakan kepemimpinannya. Jadi Pilihlah yang LUBER (Langsung, Umum , bebas dan Rahasia) sesuai dan lihat apa yg sdh direncanakan programnya.”

“Bila ada pemikiran lain tentangg golongan putih,agar bisa di Obati segera, sblm Golputnya menjadi kronis dan Kanker (menjalar kemana2) sehingga menjadi Pemilih yg tdk lagi membuang suaranya yg sudah diakui / dijamin Undang-Undang, karena ini pesta rakyat , inilah Pesta Demokrasi Pemilu”

Dari komentar tersebut saya jadi berpikir apakah benar golput sama artinya membuang suara? Kalau menurut saya (ini pendapat saya pribadi sebagai orang awam) tidak memilih salah satu calon atau golput artinya tidak sama dengan membuang suara. Mengapa demikian? Karena golput pun merupakan salah satu mekanisme memanfaatkan suara dengan tidak memilih satupun calon yang dimunculkan. Ini juga adalah hak setiap warga Negara dan merupakan bagian dari proses demokrasi.

Continue Reading

Comments (0)

Tabanan Creative Fest #02 Dibatalkan. Benarkah?

Tabanan Creative Fest #02 Dibatalkan. Benarkah?

Posted on 01 April 2013 by Wahya Biantara

Hari ini tepat tanggal 1 April 2013, saya membuat status yang mengejutkan di facebook group talov. Berikut ini adalah status yang saya buat:

Akhirnya dengan sangat menyesal saya umumkan pada tanggal 1 april 2013 ini, TCF #2 akan batal dilaksanakan tahun ini :(

Untuk meperjelas alasan status saya tersebut, saya juga membuat komentar berikut:

Hal tersebut diputuskan mengingat belum adanya keputudan mengenai tanggal pelaksanaan, relawan yang siap membantu dan sumber dana untuk kegiatan.

Konsep yang matang tak akan berjalan dengan baik tanpa 3 hal tersebut. Jadi, dengan segala kesibukan kami mencari uang untuk dapur kami masing2, akhirnya kami memutuskan hal tersebut.

Maaf dan tabik

Semenjak membuat status tersebut, banyak yang bertanya – tanya, mengapa saya membuat status seperti itu. Ada yang mengira saya kecewa, marah dan sebagainya. Tidak, saya tidak kecewa dan marah. Saya telah membicarakan hal tersebut sebelumnya dengan beberapa teman relawan di Talov. Kami benar – benar telah membicarakannya dengan matang.

Benar, beberapa bulan terakhir ini kami memang sangat intensif membahas kelanjutan dari Tabanan Creative Fest #01. Banyak teman – teman yang sangat antusias untuk terus melanjutkan acara tersebut setiap satu tahun sekali. Dari beberapa diskusi yang telah lalu, akhirnya disepakti waktu pelaksanaan TCF #02 akan dilakukan pada bulan Juli 2013. Namun kami belum mengetahui pasti tanggalnya.

Pada rencana awal, kami ingin memulai persiapan pada bulan Januari 2013. Namun karena kesibukan kami masing – masing akhirnya jadwal pun terus molor. Kemudian terbentur juga dengan beberapa hari raya, yang membuat jadwal semakin molor. Berbagai masukan acara banyak kami terima, yang menunjukan besarnya antusias teman – teman di talov akan diadakannya event ini.

Namun lagi – lagi, dari segudang masukan – masukan tersebut, kami belum dapat mengeksekusinya dengan baik karena terbentur kesibukan kami masing – masing, serta kurangnya relawan yang kami ajak untuk mengeksekusi acara.

Kami juga bingung, dimana kami akan mencari sumber dana agar kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Memepersiapkan acara dari jauh hari sebelumnya pun tidak menjadi jaminan bahwa kami akan mendapatkan dana sesuai dengan target.

Namun setelah saya membuat status tersebut kemudian banyak dukungan dari teman – teman datang. Ada yang menelfon, ada yang langusng inbox via fb, ada yang sms dan lain sebagainya. Siapa sangka status tersebut akhirnya membakar semangat kami untuk bekerja kembali.

Dari beberapa fakta diatas, ada yang mengira bahwa apa yang saya katakan merupakan kebohongan belaka, karena status yang saya buat bertepatan dengan april mob. Benarkah hal itu?

Continue Reading

Comments (2)

Lebih Mengenal UNACOB LM Dalam Berbagai Aktivitas

Tags: , , , , , , , ,

Lebih Mengenal UNACOB LM Dalam Berbagai Aktivitas

Posted on 29 January 2013 by yandi

logoUnacob

Tabanan-Sejak dibentuknya UNACOB oleh Jik Djawir, gerak langkah  tampak mulai bergerak pasti. Sesuai dengan salah satu misinya yaitu mencari hubungan dengan lembaga-lembaga yang punya kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat untuk turut ambil bagian di dalamnya. Berkolaborasi dengan Lata Mahosadhi (LM) sebuah LSM yang juga sepaham dengan visi untuk mempersiapkan generasi muda Bali menghadapi tantangan masa depan, UNACOB semakin aktif melakukan berbagai aktivitas sosial, pendidikan, dan budaya.
Lata Mahosadhi yang didirikan oleh Ayu  Riagandi pada tahun 2010 yang lalu, telah memulai pembinaan terhadap generasi muda dengan keluhuran nilai budaya Bali dan memperkenalkan bahwa penerapan nilai-niali luhur itu membuat setiap orang mampu meraih kesuksesan kehidupan seperti apa yang telah mereka alami. Konsep Lata Mahosadhi adalah menerapkan Pendidikan berbasis pada Kesadaran (consciousness) karena itu mereka melakukan Transcendental Meditation sebagai suatu cara  untuk membantu pengembangan kesadaran dalam diri mereka.

Selain itu juga digagas sekolah cerdas yaitu membantu perkembangan siswa baik dari kepribadian maupun kecerdasan dengan metode alam tadi. Dan hal ini sudah dimulai di beberapa sekolah SD di desa Belumbang, Beraban dan Tangguntiti.
Dengan tumbuhnya kesadaran tersebut diharapkan nilai-nilai budaya yang terkikis dapat tumbuh kembali. Didorong oleh Prabhu Wirasa Pandya dengan merumuskan susunan pengetahuan mengenai kekuatan hokum alam dalam memenuhi keinginan manusia yang dikemas dalam PAST Programme – Personality and Successful Programme, pemuda diajak untuk menemukan kenyataan antara teori dan bukti nyata dari hasil penerapannya. Dan hal tersebut telah menghasilkan kemajuan bagi pesertanya yang telah mencapai 900 orang. “Dalam pembinaan Lata Mahosadhi, peserta mengalami kemajuan hidup yang sangat pesat,” kata Prabhu Wirasa Pandya.

“Dengan berbagai aktivitas yang telah kami lakukan dan terus akan bergulir, kami yakin UNACOB-LM akan menjadi embrio titik-titik penyebaran pertumbuhan ekonomi pedesaan”


Pada agenda UNACOB LM pada tanggal 20 Januari 2013 yang lalu peserta diajak mengenal diri mereka dalam suatu camp di Sarin Buana. Tampak antusiasme peserta yang juga datang dari luar negeri, salah satunya adalah John.  “Cerita john sangat menarik, bahwa beberapa tahun yang lalu dia masih melihat keramahan dan senyum yang alami dari masyarakat Bali. Dan saat ini semuanya sulit sekali di temuinya. Dan baru menemukan keramahan itu kembali di peserta kemah sepanjang Tabanan menuju Sarin Buana. Dia hampir kehilangan harapan, kini di tengah2 camp tersebut dia temukan kembali,” tutur Prabhu Wirasa Pandya.

Warga asing pun antusias mengikuti UNACOB-LM camp

Warga asing pun antusias mengikuti UNACOB-LM camp

Dalam mensukseskan pembinaan generasi muda  ini UNACOB pun tidak mau setengah-setengah. Jik Djawir pun sudah berancang mengaktifkan kembali lembaga Indonesia New Zealand yang sempat terhenti. “Sekarang kita menyandang nama UNACOB-LM dan menggagas aktivitas-aktivitas positif diantaranya yang akan datang adalah Vedic Camp pada 14-17 Februari 2013 mendatang dan juga bersama entrepreneur class Lata Mahosadhi merintis beras organic Koriza,” jelas Jik Djawir.

“Dengan berbagai aktivitas yang telah kami lakukan dan terus akan bergulir, kami yakin UNACOB-LM akan menjadi embrio titik-titik penyebaran pertumbuhan ekonomi pedesaan”, tegas Jik Djawir mengakhiri percakapan.

 

Sekilas mengenai Vedic Camp
Vedic Camp berakar pada Veda, manuskrip dari keberadaan hukum alam seperti yang oleh Maharishi Mahesh Yogi sehingga dipakailah istilah Vedic. Dan dengan dekatnya terhadap alam dan hukum alam itu sendiri maka camp ini pun akan lebih membumi, mendekatkan diri dengan alam sekitarnya. Sambil berekreasi, bergembira di alam sambil mempelajari tentang alam itu sendiri seperti mengenal lebih dalam tentang subak, mengapa harus menjaga Tri Hita Karana, dan sebagainya. Semuanya dikemas dengan cara-cara yang sederhana dalam suasana yang gembira. Siapapun yang ingin mendapatkan pembelajaran dan ingin memahami lebih lanjut tentang Bali dan lingkungannya, dapat bergabung dalam Vedic Camp ini. Pendaftaran bisa menghubungi Rumah Kasih, Jalan Dharmawangsa No. 6A, Tabanan. Dengan mengambil tema “Bersama alam kita menikmati dan sekaligus belajar hukum alam”, diharapkan lebih banyak lagi tentang Bali dan lingkungannya yang dapat diselamatkan melalui generasi mudanya.

Comments (0)

Pameran Foto Manusia Bali – Puri Agung Kerambitan Tabanan

Tags: , , , , , ,

Pameran Foto Manusia Bali – Puri Agung Kerambitan Tabanan

Posted on 25 January 2013 by yandi

Kerambitan-Sebuah event pameran foto dengan tajuk Pameran Foto Manusia Bali digelar di Puri Agung Kerambitan – Tabanan. Event yang merupakan kerjasama antara Puri Agung Kerambitan, Tabanan Photographer Forum (TPF), dan Perhimpunan Fotografer Bali ini didukung oleh 20 fotografer-fotografer handal dari Tabanan dan sekitarnya.

Pameran yang langsung dibuka oleh Ida Anglurah Kerambitan XII ini, selain menampilkan budaya dan kesenian Bali dalam rana kamera, juga memamerkan dokumentasi prosesi penobatan raja atau disebut Abhiseka Ida Anglurah Kerambitan XII dan juga foto-foto repro dari Puri Kerambitan yang tentunya sangat langka. Dalam jepretan fotografer, berbagai potret manusia Bali menjadi sangat indah dan memberikan suatu nuansa yang lebih cantik dan menarik tentang kehidupan budaya dan masyarakat Bali.

"Nguleng" - salah satu karya fotografer Linggar yang dipamerkan

“Nguleng” – salah satu karya fotografer Linggar yang dipamerkan

Pameran ini sendiri berlangsung selama 1 bulan mulai 19 Januari sampai 19 Februari 2013 yang tiap hari minggunya diisi dengan berbagai acara hunting bersama dan juga seminar-seminar yang tentunya sangat menarik.

Foto-foto yang dipamerkan telah melewati suatu proses kurasi yang alot karena semua fotografer menampilkan hasil kreasi terbaik mereka. Dan dua puluh fotografer akhirnya terpilih sebagai yang terbaik dari yang terbaik diantaranya adalah Agung Bagus Maradi, Wayan Linggar Saputra, A.A. Ayu Citradewi, A.A. Ngurah Boyke Arya Indra, A. A. Ngurah Bagus Bayu Surya Wibawa, Ini Budi, Surya Atmaja, Nyoman Martawan, Wayan Suka Adnyana, Arya Putra. Agoes Moeliadi, Agus Astika Samyork, Oka Wimartha, Satmoko Tody, Nengah Januartha, Yudha Wardana, Wayan Gunayasa, Gusti Rendra, Bayu Sanjaya, Made Gunadhi, Agus Wiryadhi Saidi.

Pameran fotografi yang dilakukan untuk keduakalinya oleh TPF setelah sebelumnya hadir di Tabanan Creative Festival tahun 2012, mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Ketua Panitia, I Nengah Januartha mengatakan,”Event ini merupakan ajang bagi fotografer-fotografer yang tergabung dalam forum fotografi untuk memamerkan hasil karya terbaik mereka dan juga realisasi dari ajang temu darat bagi para anggotanya.” Pihak Puri dalam hal ini Ida Anglurah Kerambitan XII pun sangat antusias menyambut baik aktivitas positif dari rekan-rekan fotografer dan membuka pintu puri seluas-luasnya untuk ajang pelestarian dan pengenalan budaya Bali.

Anda tertarik untuk hadir? Pastikan juga untuk bergabung pada tiap hari minggu dengan agenda:

 

  • 27 Januari 2013 | hunting budaya acara telung sasih
    Lokasi : Puri Agung Kerambitan pukul 8.30 wita-selesai
  • 3 Febuari 2013 | Modeling session (kebaya) wardrobe by Putri Ayu butik
    Lokasi : Puri Agung Kerambitan, 8.00 wita- selesai
  • 10 Februari 2013 | seminar foto makro 9.00 wita-14.00 wita
  • 17 Februari 2013 | seminar foto jurnalistik 09.00 wita – 14.00 wita

Untuk menuju lokasi Anda bisa melihat peta di bawah atau klik disini:

 
Sumber foto: Forum TPF atas seijin Ketua Forum I Nengah Januartha.
 
 

Comments (0)

Sebelum Meninggal, Saya Ingin_____?

Sebelum Meninggal, Saya Ingin_____?

Posted on 18 January 2013 by Wahya Biantara

Terinspirasi dari sebuah gerakan yang dilakukan Oleh Candy Chang dari New Orleans, yang merubah sebuah tembok menjadi papan tulis raksasa dengan menuliskan, “Before I Die, I Want To____?”. Tidak disangka, Candy mendapat jawaban yang penuh dengan emosi, lucu, harapan dan jawaban mengejutkan lainya.

Nah, bagaimana dengan Anda? Silahkan tuliskan jawaban Anda pada komentar dibawah ini!

Comments (5)

Pendidikan Memakan Korban

Pendidikan Memakan Korban

Posted on 12 January 2013 by Wahya Biantara

Perjalanan pagi ini, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, memberikan saya pengalaman yang sedikit berbeda dari biasanya. Ketika matahari baru saja terbit, mata masih melihat samar – samar, saya bergegas dan bersiap – siap untuk berangkat menuju Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI) untuk mengantarkan Pan Rustini berobat, setelah sehari sebelumnya matanya telah dioprasi secara gratis.

Pan Rustini pagi itu masih terlihat sangat letih setelah menjalani oprasi mata sebelah kanannya. Sambil tertidur disebuah kamar yang sempit, ia pun masih terlihat masih menyimpan rasa sakitnya akibat luka oprasi tersebut. “Gimana nang, bisa tidur tadi malam?” Tanyaku. “Bisa mang, sempat terasa agak sakit sebentar tadi malam, cuma akhirnya hilang. Dokter tidak ngasi tiang tidur miring, sedangkan saya tidak terbiasa tidur terlentang terus.” Keluhnya.

Tidak begitu lama kami dapat ngobrol, sang istri pun dengan setia mempersiapkan semua kebutuhan suami sebelum ia berangkat. Baju, topi, sandal dan sarapan pagi telah disiapkan oleh sang istri tercinta. Sarapan yang sangat sederhana sekali. Sepiring nasi putih, dan seekor belut panggang yang kering, itu saja. Ya itu saja, tanpa setetes minyak pun yang saya lihat dipiring tersebut untuk melicinkan butir – butir nasi dan belut itu ketika dikunyah dan ditelan melalui kerongkongan.

Setelah semuaanya siap, kami mulai perjalanan kami menuju YKI yang berlokasi di Sanur. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari tempat tinggal kami.

Sekitar sepuluh menit kami dalam perjalanan, tiba – tiba saya mendengar oboralan Pan Rustini dengan salah satu rekan saya, “Jeg kangen benne tiang ngajak panake i Made. Jeg sing pesan ye jani nyak takonin.” Dengan nada yang sedikit berat seolah ada kepedihan dalam pita suaranya. Ia bercerita bahwa dia sangat sedih melihat anaknya yang dari beberapa hari kemarin tidak lagi mau menyapanya.

Pan Rustini memiliki dua orang anak perempuan. Anaknya yang pertama sudah menikah. Sedangkan sekarang ia tinggal bersama istri dan anaknya yang kedua saja. Anaknya yang kedua inilah yang ia ceritakan itu.

Made hanya bersekolah sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Karena keterbatasan biaya, Made tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sempat saya dengar Made akan disekolahkan disebuah sekolah di Denpasar melalui sebuah yayasan, namun entah mengapa kok akhirnya tidak jadi. “Made dari SD dan SMP selalu mendapatkan juara kelas. Kalau tidak juara dua, juara tiga dia dapat. Namun bagaimana lagi, tiang tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi.” Tutur sang ayah Pan Rustini.

“Liu sajan mungkin kenehanne panak tiange mang, kerane hidup tiange kene je ia milu dadine berat mikirin.” Suara berat keluar dari mulut sang ayah, menyesali apa yang terjadi. “Dulu pernah dia mempertanyakan kepada saya, mengapa kehidupan keluarga tiang seperti ini. Tiang pun tidak bisa menjawab, dan selalu mengharapkan agar ia bisa bersyukur.” Lanjutnya.

Made sempat bekerja selama satu tahun disebuah MiniMarket. Dari hasil bekerja itu, ia lumayan dapat membantu kehidupan keluarga. Namun pada suatu hari ia mendapatkan shift malam. Tak banyak yang tahu, kalau Made memiliki kelainan dalam pengelihatannya sejak ia berada di bangku sekolah dasar. Bahkan orang tuanya sekalipun. Ia tidak pernah cerita, karena ia sadar orang tuanya pun tak akan mampu mengobatinya. Matanya terkena rabun senja, dimana ia tidak akan bisa melihat dengan jelas ketika tidak ada cahaya yang membantu matanya untuk melihat.

Mulai saat shift malam tersebutlah ia banyak melakukan kesalahan dalam bekerja, sehingga ia merasa agak minder dan berhenti bekerja. Mengetahui hal tersebut, sang pemilik pun kembali mengajak ia bekerja dengan mengganti shiftnya. Beberapa kali juga teman kerjanya yang lain mengajak ia kembali bekerja. Namun dengan umurnya yang masih muda, rasa minder dan malunya mungkin melebihi segalanya.

Kini ia sama sekali tidak bekerja, dan tidak mau keluar dari kamarnya. Rasa minder melihat teman – temannya yang kini bersekolah, dan di usia tersebut seharusnya ia telah memiliki pacar, dan beban berat keluarga yang lainnya membuat ia tak mau bicara dengan siapa pun.

Itulah sekelumit kisah yang saya bisa bagikan hari ini bertepatan dengan Hari Raya Saraswati. Tuhan selalu memiliki cara lain untuk menunjukan sesuatu kepada manusia. Pendidikan dan kesehatan seharusnya yang paling diprioritaskan di negeri ini, agar tidak memakan korban baik nyawa maupun mental.

 

Comments (1)

Subak Hulu di Tepi Panahan

Subak Hulu di Tepi Panahan

Posted on 07 January 2013 by Made Nurbawa

Pagi tadi cuaca cerah berawan, padahal beberapa hari ini Tabanan selalu di guyur hujan. Sepertinya hari ini minggu, 6/12/2013 alam begitu bersahabat ketika saya putuskan untuk berangkat, menuju arah utara kota Tabanan.

Atas arahan seorang kawan, saya sengaja memilih jalan alternative, masuk kearah timur kota kecamatan Penebel. Melintasi Desa Biaung dengan suasan asri khas Bali, terus ke utara, dipertigaan sepi saya belok kiri masuk menuju arah banjar Pumahan. Saya pun sempat bertanya dengan anak kecil untuk memastikan arah tujuan.

Sunny Day at Pagi Village

Foto by Agung Bagus Maradi https://www.facebook.com/spidolitemz

Ketegangan sedikit terasa ketika melintasi jalan sepi berliku. Menurun tapi tak becek karena berbeton. Namun perlu ekstra hati-hati karena jalan agak lincin, basah lembab berlumut. Dan saya pun sempatkan mengambil beberapa photo panorama indah kelokan dan jembatan kecil di apit rimbunan hutan bambu.

Beberapa menit kemudian saya bertemu pemukiman, rupanya saya sudah tiba di Banjar Pumahan. Nampak penduduk menjemur hasil panen gabah di jalanan. Jalan nampak menguning beberapa puluh meter. Beberapa kali saya mohon permisi untuk lewat kepada ibu-ibu desa yang sedang menjemur gabahnya.

Keluar dari pemukiman, mata mulai dimanjakan oleh indahnya hamparan persawahan yang baru saja di panen. Di kiri kanan jalan air irigasi mengalir bening berlimpah. Dikejauhan nampak hijau indah menjulang, puncak gunung Watukaru.

Rupanya, masih ada aktivitas panen padi berlangsung. Tumpukan gabah dalam karung kampil pun nampak berjejer di pinggir jalan siap diangkut. Juga beberapa mesin Dores perontok padi masih parkir rapi di tepi jalan. Laju motor saya hentikan sejenak, ketika ratusan bebek nampak terpencar di persawahan. Sebuah pemandangan yang sudah jarang saya temui dalam beberapa tahun terakhir. Pondok-pondok terpal pengembala bebek pun nampak didekatnya.

“Bu, bebek-bebek niki sire meduwe?” tanyaku pada seorang ibu paruh baya yang lagi lewat. Ibu Suka namanya. “Niki bebek dwe nak saking Desa Jadi,”jawab ibu itu ramah.

“Lunge kije niki? ngiring simpang di pondok, pondok tiang nampek driki,”kata ibu itu sambil menunjuk ke arah pemukiman. “Inggih benjang-benjang bu,”jawab ku.

“Boleh tiang photo bebek-bebek niki?” tanyaku lagi. “Ohh durusang, becik nike, apang wenten anggen kenang-kenangan,”jelas ibu itu sambil senyum. Saya pun mengabadikan pemandangan langka itu dalam beberapa jepretan.

Motor ku pacu lagi, dan beberapa menit kemudian saya pun tiba di tujuan, Kawasan Subak Ganggangan Banjar Pagi, Desa Senganan Penebel Tabanan. Subak ini termasuk bagian dari Subak Aya III, air subak ini berasal dari mata air Gembrong, Banjar Soko, Senganan. Subak yang berada di Hulu Sungai Panahan. Sungai yang mengalir ke hilir, mengukir peradaban, melintas tepat di timur kota Tabanan.

Menuju Subak Ganggangan di Hulu Yeh Panahan, mengenali dan memahami kembali budaya dan kehidupan krama “Subak Hulu” di Tabanan. Subak yang bermakna pengetahuan dan keyakinan tentang tata ruang makro dan mikro kosmos, untuk menuju keselarasan kehidupan semesta yang maha suci di Bali. (MN).

Minggu,6 Jan 2013
Made Nurbawa

Comments (0)

Diskusi Akhir Tahun 2012 Talov

Diskusi Akhir Tahun 2012 Talov

Posted on 07 January 2013 by jayaratha

DIskusi akhir  tahun 2012

Sanggulan, 29 Desember 2012 - Tabanan adalah daerah kabupaten dengan potensi yang melimpah. Tidak hanya sumberdaya alamnya yang sangat mendukung, letaknya yang strategis juga memberikan arti penting terhadap pembangunan di Bali. Namun akibat lemahnya kondisi social politik yang ada, menyebabkan kurang maksimalnya potensi ini untuk dikelola. Hal ini pula menjadi salah satu alasan banyaknya sumberdaya masyarakat yang potensial justru lebih terbuka peluang untuk mengembangkan prestasinya di luar Tabanan.

Satu hal terpenting untuk merubah kondisi ini adalah dengan menumbuhkan rasa cinta masyarakatnya terhadap Tabanan sendiri. Menumbuhkan kencintaan dapat dimulai dari desa yang kemudian berkembang dalam lingkup yang lebih luas. Mengenal wilayah Tabanan dengan lebih baik adalah kuncinya.

Dinamika politik yang terjadi secara umum di Bali saat ini juga berdampak terhadap munculnya berbagai warna/ kelompok massa di Tabanan. Dalam beberapa kondisi kelompok ini tidak jarang juga terjadi saling bermusuhan. Berbeda dengan hal tersebut, Talov diharapkan bisa menjadi jembatan/ mediator untuk setiap kegiatan yang positif tanpa didominasi oleh politik.

Sesuai dengan latar belakang terbentuknya, Talov diharapkan mampu menjadi media untuk:

  1. Menampilkan orang-orang yang berpotensi, untuk menyumbangkan pemikirannya tidak hanya untuk perkembangan di luar Tabanan, namun juga untuk membangun Tabanan.
  2. Menjaring  berbagai opini, ide maupun informasi  (baik yang berasal dari masyarakat maupun pemberitaan serta sumber lainnya) sebagai bahan diskusi yang sifatnya membangun.
  3. Menyalurkan potensi-potensi kreativitas di Tabanan.

Sebagai  grup dalam jejaring sosial, selayaknya Talov pun senantiasa dapat digunakan untuk menjalin komunikasi dengan komunitas-komunitas di Tabanan serta mampu bersinergi dengan pemerintah. Oleh karenanya biarkanlah bentuk Talov tetap seperti apa adanya. Meski tanpa badan yang jelas, di Talov dikembangkan kebebasan   yang dapat menumbuhkan kreativitas.

Ada banyak ide yang mengalir dalam diskusi lewat Talov. Sebagian diantaranya telah direalisasikan baik oleh komunitas, kelompok maupun perorangan yang tergabung sebagai anggota.

Meskipun banyak potensi yang dimiliki Tabanan, baik dengan pasar hewannya, peternakan ayam, produsen lobster, perikanan darat, pengusahaan genteng dan keramik serta yang lainnya, tetap paling dikenal dari  Tabanan adalah sector pertanian. Beberapa investor pernah mencoba untuk pengembangan hal lainnya seperti pembuatan dermaga yacht, seaworld termasuk pengelolaan museum subak oleh swasta pun selalu terkendala oleh perijinan.

Beberapa isu lainnya pun pernah tumbuh sebagai polemic di masyarakat seperti kasus geothermal, BNR dan Sarbagita. Opini yang berkembang di masyarakat bahkan menyebutkan bahwa di Tabanan tidak diperbolehkan untuk membangun hotel besar sekelas bintang lima maupun bisnis hypermart karena dianggap tidak sesuai dengan RTRW. Hal lainnya yang kini patut diperhitungkan juga adalah isu jalan lingkar selatan Bali yang pastinya juga akan menarik banyak investor untuk dating ke Tabanan.

Sebagai daerah yang dikenal dengan sector pertaniannya, bukan berarti pertanian di Tabanan tanpa masalah. Termasuk di dalamnya adalah pengelolaan taman subak Sanggulan. Meskipun kini subak telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia, akan tetapi kondisi museum yang menjadi ikon subak di Bali kenyataannya sangat memperihatinkan karena isu pengelolaan yang kurang oleh pemerintahan kabupaten maupun provinsi. Oleh karenanya, sebagai resolusi tahun 2013, Talov diharapkan mampu mengangkat isu pertanian secara mengkhusus.o[

Comments (0)