Hari sudah gelap, suguhan kopi dan cup cake dari CofeRait pun sudah mulai habis menemani teman-teman yang ikut nonton bareng hari minggu 6 mei 2012 kemarin. Ada dua film yang diputar pada malam itu. Film pertama berjudul “Where Heaven Meet Hell” yang menceritakan kisah seorang penambang belerang di kawah Ijen. Kebetulan film ini salah satu field director nya juga aktif di talov yaitu Gede Sleeper.
Kemudian sesi kedua diputar film animasi kritik sosial yang berjudul Pekak Galau Resah Tidak Memiliki Penerus. Animasi ini dibuat oleh teman Wahyudi. Tema tersebut diambil dari beberapa diskusi yang berkembang di group, dan kemudian dituangkan kedalam sebuah animasi kritik sosial.
Sehabis pemutaran film tersebut, kami kemudian berdiskusi ringan. Diskusi berjalan sangat santai, seperti halnya diskusi yang biasa kita lakukan di warung kopi.
Ternyata banyak permasalahan yang memang dialami oleh petani saat ini. Permasalahan awal yang diangkat adalah kurangnya generasi muda penerus bertani. Mungkin ini diakibatkan oleh mindset yang keliru terhadap pertanian tersebut. Sebagian dari kita mungkin berfikir bahwa bertani itu hanya kegiatan turun kesawah. Padahal sebenarnya masih banyak kegiatan bertani yang lain. Misalnya, bertani kopi, sayur, palawija, jamur dan lain sebagainya
“Perlu sebuah sistem jika kita ingin memajukan pertanian,” tutur Djaya Wirata dalam diskusi tersebut. “Saat ini sebenarnya sudah ada sistem yang namanya Simantri. Menurut saya itu adalah sebuah sistem yang sangat bagus jika memang bisa diaplikasikan dengan baik,” sambungnya.
“Pertanian saat ini termarginalkan secara sistem ekonomi pariwisata. Artinya petani hanyalah sebuah objek yang dijadikan tontonan pariwisata. Mereka bersusah payah menjaga lingkungannya, tata airnya tanpa menikmati hasil yang baik. Mereka hanyalah sebuah objek tanpa menikmati hasilnya,” sela Jaya Ratha.
Dibutuhkan kemauan politik dari pemangku kebijakan untuk menjalankan sistem pendukung pertanian secara tegas dan berkelanjutan. Karena tanpa adanya kemauan politik yang kuat, sistem tersebut akan lumpuh dan tidak bergerak. Yang akhirnya sama saja tidak ada dampak apapun terhadap petani.
Potensi pertanian di Tabanan sebenarnya sangat banyak. Pertanian organik salah satunya. Namun mereka memang perlu diberikan pengetahuan pemasaran dan teknologi sehingga bisa berinovasi lebih baik dalam menciptakan produk-produk pertanian.
Banyaknya lahan pertanian yang saat ini beralih fungsi juga menjadi topik hangat malam itu. Karena merasa hasil dari bertani dengan biaya produksi dan pajak tidak seimbang, akhirnya banyak petani yang merelakan lahan pertanian mereka dialih fungsikan begitu saja, tanpa memikirkan akibat untuk anak cucunya dikemudian hari.
Perlu sebuah kebijakan yang memproteksi petani dari hal-hal semacam itu. Proteksi misalnya berupa subsidi pupuk, proteksi lahan, proteksi fungsi atau pencegahan alih fungsi dan proteksi ekonomi (nilai jual).
“Pemerintah sudah terlalu banyak memikirkan hal-hal lain selain pertanian. Pemerintah tidak mungkin memikirkan hal-hal teknis seperti misalnya bagaimana bercocok tanam yang baik. Petani yang setiap hari dilapangan lebih tahu tentang itu. Biarlah orang-orang lapangan membentuk kelompok mereka, lewat subak misalnya. Sedangkan yang kita perlukan dari pemerintah hanya dua hal saja, mengurus pendidikan dan kesehatan dengan baik. Berikan pendidikan yang layak bagi keluarga para petani dan program kesehatan bagi semua petani. Otomatis tidak ada lagi yang malu menjadi petani suatu saat,” usul Gustulang dalam diskusi tersebut.
Jangan lupa, kita juga harus membeli produk-produk petani lokal kita jika kita ingin memajukan petani kita. Atau kita bisa membantu mereka dalam pemasaran dan inovasi.
Dari diskusi singkat kurang lebih 1 jam tersebut, akhirnya ada beberapa rencana tindak lanjut yang ingin kami lakukan untuk merealisasikan hasil diskusi tersebut.
Rencana tersebut adalah:
- Ringkasan hasil diskusi menjadi sebuah tulisan
- Kampanye dukungan pertanian dengan menggunakan produk pertanian lokal
- Membuat tulisan, banner atau poster online untuk mengajak setiap orang untuk mencintai produk pertanian lokal dan ikut melakukan proteksi terhadap petani.
Bulan purnama bersinar terang dan tak terasa waktu kian malam. Kami akhirnya menyudahi diskusi tersebut dengan tetesan terakhir air kopi digelas kami masing-masing.




Komentar Terakhir