Pertanian organik tidak bisa dilakukan hanya lewat wacana, tapi lewat kegiatan langsung di tingkat petani dan konsumen, melalui hubungan transaksi yang beretika dan adil.
Disebuah sudut dipinggir pantai sanur, pertama kali saya melihat sebuah bangunan yang menjual produk-produk pertanian yang dikemas sedemikian rupa, sehingga terlihat bersih dan higienis. Kebetulan hari itu saya sedang mencari bahan makanan, sehingga saya pun menyempatkan mampir sebentar.

Begitu saya masuk, produk-produk makanan higienis tersusun dengan rapi di rak-rak toko. “Ini tempat yang keren,” itu adalah hal pertama yang saya pikirkan ketika memasuki tempat itu. Tempat ini bernama Satvikabhoga. Berasal dari bahasa sansekerta yang berarti makanan yang bergizi, penuh energi hidup, untuk raga pikiran dan jiwa.
Begitu saya masuk, saya langsung disambut oleh seorang bapak yang masih energik dan menjelaskan kepada setiap pelanggan yang datang mengenai produk yang dijual disana. Dipo namanya. “Baru pertama kali datang kesini ya?” Tanyanya kepada saya. Karena saya memang pertama kali datang kesana, saya membenarkan. “Nah, kalau baru pertama, saya jelaskan sedikit mengenai produk-produk organik yang ada disini”
“Satvikabhoga baru dibuka sekitar satu tahun yang lalu. Namun kami sudah pernah melakukan ini tiga tahun sebelumnya, namun tidak dalam bentuk toko seperti sekarang,” jelas Dipo.
Bahan makanan yang dijual pun beraneka ragam. Mulai dari telur, beras merah, sayuran, jahe kering, madu, kopi dan aneka buah-buahan lainya. Semuanya dikemas dengan sedemikian rupa sehingga terlihat sangat bersih dan higienis.
Produk pertanian yang dijual oleh Dipo berasal dari kelompok tani yang berasal dari seluruh Bali.eras Dia melihat proses penanaman dan pemeliharaan sehingga dia pun tahu mana yang diproses secara organik dan tidak. Di toko tersebut pun, produk yang organik dan non-organik dipisahkan.
“Bantulah petani dari sisi pemasaran, menjaga kualitas dan mengenal pasar, dan itulah yang saya lakukan di Satvikabhoga” saran Dipo.
Menurut Dipo, petani perlu diajarkan untuk tetap menjaga kualitas dan kuantitas produk. Ketika mereka sudah mengetahui cara menjaga kualitas produk mereka, kita akan sangat mudah dikenalkan dengan pasar yang saat ini lebih banyak dari golongan mengenah ke atas.
“Pembeli sangat banyak dari kalangan menengah ke atas, karena mereka tahu pola hidup sehat. Apalagi teman-teman kita dari luar negeri, mereka kesini hanya untuk membeli sayuran,” terangnya kepada saya.
Selain Dipo, Satvikabhoka diprakarsai oleh dua anak muda lainnya yaitu Hira dan Raras.
Hira adalah seorang aktivis lingkungan hidup yang sudah berkeliling dunia untuk ikut berkampanye dan melakukan perundingan lingkungan. “ Ketika kecil, saya pernah bercita-cita jadi petani, dan mimpi tersebut sedikit banyak terwujud di kebun mini organik di rumah. Dan kini Satvikabhoga adalah perjalanan dalam menuju mimpi tersebut,” terangnya.
Sedangkan Raras berasal dari keluarga petani. Dia memilih produk organik karena dorongan dari anaknya yang sangat gemar sekali memakan keripik bayam organik. Sejak saat itulah dia kemudian bergabung bersama Dipo dan Hira untuk mendirikan Satvikabhoga.
Dipo sendiri adalah seorang lulusan elektronika. Namun karena kegemarannya terhadap hal-hal spiritual mengharuskan dia untuk memilih makanan yang sehat. Sejak kecil dia selalu menjadi andalan keluarga untuk mencicipi rasa masakan.
Komentar Terakhir