Archive | Peluang

Dari Mayungan Agro Festival: Menjadikan Baturiti “Kota Pertanian” Bunga, Mungkinkah?

Tags: , , , , , , ,

Dari Mayungan Agro Festival: Menjadikan Baturiti “Kota Pertanian” Bunga, Mungkinkah?

Posted on 19 August 2012 by Made Nurbawa

Pelaksanaan “Mayungan Agro Festival” telah memberi banyak inspirasi, salah satunya mewujudkan Kecamatan Baturiti sebagai “Kota Pertanian” Bunga di Tabanan, Mungkinkah?

Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Tabanan tahun 2012, luas kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Tabanan mencapai 46.176 hektar atau kurang lebih seluas 50,02% dari luas wilayah kabupaten. Kawasan pertanian tersebut peruntukannya meliputi; Kawasan peruntukan lahan basah; kawasan peruntukan hortikultura dan kawasan peruntukan peternakan.

Luas kawasan peruntukan Hortikultura Kabupaten Tabanan, seperti; buah-buahan, sayur-mayur dan bunga, luasannya diarahkan mencapai 5.879 hektar atau kurang kebih 7% dari luas wilayah kabupaten. Untuk bunga dan tanaman hias sebarannya berada di kawasan Kecamatan Baturiti dan Marga.

Continue Reading

Comments (1)

Dipo, dari Elektronika Sampai Pertanian Organik

Dipo, dari Elektronika Sampai Pertanian Organik

Posted on 09 May 2012 by Wahya Biantara

Pertanian organik tidak bisa dilakukan hanya lewat wacana, tapi lewat kegiatan langsung di tingkat petani dan konsumen,  melalui hubungan transaksi yang beretika dan adil.

Disebuah sudut dipinggir pantai sanur, pertama kali saya melihat sebuah bangunan yang menjual produk-produk pertanian yang dikemas sedemikian rupa, sehingga terlihat bersih dan higienis. Kebetulan hari itu saya sedang mencari bahan makanan, sehingga saya pun menyempatkan mampir sebentar.

satvikabhoga

Begitu saya masuk, produk-produk makanan higienis tersusun dengan rapi di rak-rak toko. “Ini tempat yang keren,” itu adalah hal pertama yang saya pikirkan ketika memasuki tempat itu. Tempat ini bernama Satvikabhoga. Berasal dari bahasa sansekerta yang berarti makanan yang bergizi, penuh energi hidup, untuk raga pikiran dan jiwa.

Begitu saya masuk, saya langsung disambut oleh seorang bapak yang masih energik dan menjelaskan kepada setiap pelanggan yang datang mengenai produk yang dijual disana. Dipo namanya. “Baru pertama kali datang kesini ya?” Tanyanya kepada saya. Karena saya memang pertama kali datang kesana, saya membenarkan. “Nah, kalau baru pertama, saya jelaskan sedikit mengenai produk-produk organik yang ada disini”

“Satvikabhoga baru dibuka sekitar satu tahun yang lalu. Namun kami sudah pernah melakukan ini tiga tahun sebelumnya, namun tidak dalam bentuk toko seperti sekarang,” jelas Dipo.

Bahan makanan yang dijual pun beraneka ragam. Mulai dari telur, beras merah, sayuran, jahe kering, madu, kopi dan aneka buah-buahan lainya. Semuanya dikemas dengan sedemikian rupa sehingga terlihat sangat bersih dan higienis.

Produk pertanian yang dijual oleh Dipo berasal dari kelompok tani yang berasal dari seluruh Bali.eras Dia melihat proses penanaman dan pemeliharaan sehingga dia pun tahu mana yang diproses secara organik dan tidak. Di toko tersebut pun, produk yang organik dan non-organik dipisahkan.

“Bantulah petani dari sisi pemasaran, menjaga kualitas dan mengenal pasar, dan itulah yang saya lakukan di Satvikabhoga” saran Dipo.

Menurut Dipo, petani perlu diajarkan untuk tetap menjaga kualitas dan kuantitas produk. Ketika mereka sudah mengetahui cara menjaga kualitas produk mereka, kita akan sangat mudah dikenalkan dengan pasar yang saat ini lebih banyak dari golongan mengenah ke atas.

“Pembeli sangat banyak dari kalangan menengah ke atas, karena mereka tahu pola hidup sehat. Apalagi teman-teman kita dari luar negeri, mereka kesini hanya untuk membeli sayuran,” terangnya kepada saya.

Selain Dipo, Satvikabhoka diprakarsai oleh dua anak muda lainnya yaitu Hira dan Raras.

Hira adalah seorang aktivis lingkungan hidup yang sudah berkeliling dunia untuk ikut berkampanye dan melakukan perundingan lingkungan. “ Ketika kecil, saya pernah bercita-cita jadi petani, dan mimpi tersebut sedikit banyak terwujud di kebun mini organik di rumah. Dan kini Satvikabhoga adalah perjalanan dalam menuju mimpi tersebut,” terangnya.

Sedangkan Raras berasal dari keluarga petani. Dia memilih produk organik karena dorongan dari anaknya yang sangat gemar sekali memakan keripik bayam organik. Sejak saat itulah dia kemudian bergabung bersama Dipo dan Hira untuk mendirikan Satvikabhoga.

Dipo sendiri adalah seorang lulusan elektronika. Namun karena kegemarannya terhadap hal-hal spiritual mengharuskan dia untuk memilih makanan yang sehat. Sejak kecil dia selalu menjadi andalan keluarga untuk mencicipi rasa masakan.

Comments (0)

Men Wahyu, si Pebisnis Sayur

Men Wahyu, si Pebisnis Sayur

Posted on 21 April 2012 by Wahya Biantara

Aktifitas masyarakat di banjar Bengkel Gede, desa Bengkel pagi itu sedikit berbeda dari biasanya. Sawah yang sebelumnya tampak menguning kini telah dipanen. Sebagian sawah masih tertutup dengan tumpukan jerami dan sebagian lagi terlihat hijau berisi sayuran.

Sebuah mobil terbuka berwana hitam penuh berisi sayur terlihat parkir dipinggir jalan. Sang pemilik mobil terlihat ikut membantu rekannya bekerja di sawah.

Ternyata pagi itu penduduk desa sedang memanen sayur hijau dibeberapa pematang sawah. Aktifitas ini berlangsung setelah sebelumnya mereka memanen padi. Hal ini selalu dilakukan untuk menjaga kondisi tanah agar tetap subur dan berharap mendapatkan hasil panen yang baik pada musim tanam berikutnya

Saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai aktifitas baru ini. Saya katakan baru karena sebelumnya jarang sekali penduduk desa menanam sayur hijau dengan serempak seperti ini. Biasanya sehabis panen, lahan yang mereka punya hanya dikontrakan kepada para pebisnis semangka.  Biasanya jika panen semangka tiba, truk-truk pengangkut semangka tersebut berjejer dipinggir jalan yang memang dekat sawah.

Kebetulan di depan rumah, Men Wahyu dan suaminya sedang mengikat sayur hijau yang siap jual dan ditumpuk dipinggir jalan sembari menanti saudagar yang akan mengangkut seluruh hasil panennya untuk kemudian dijual di Peken Badung. Dari obrolan singkat saya dengan Men Wahyu, ternyata hasil dari berbisnis sayur ini lumayan menjanjikan.

Siklus hidup sayur hijau ini kurang lebih 28 hari. Dengan membeli lima kaleng bibit, sudah cukup untuk lahan sekitar 10 are. Total biaya yang dikeluarkan untuk 10 are ini sekitar Rp 500.000 sudah termasuk bibit dan pupuk. Dan hasil panennya bisa berkisar antara 2jt – 4jt untuk lahan 10 are. Sayur hijau ini dijual per kilo. Satu kali panen, untuk lahan 10 are tersebut bisa menghasilkan sekitar 2,5 ton sayur.

“Satu kilo harganya sekarang cuma Rp 1000. Kalau dulu satu kilo bisa mencapai Rp 3000. Ya lumayanlah untuk mengisi lahan yang kosong sebelum nanti menanam padi lagi. Ini pekerjaan yang paling gampang dilakukan dan hasilnya lumayan,” tutur Men Wahyu.

Bisa dibilang jika panen berhasil, setiap kepala keluarga bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar . Apalagi kalau misalnya setiap pebisnis sayur ini dibekali dengan kemampuan menjual. Pikir saya saat itu. Karena selama ini sayur mereka hanya di drop dipengepul, kemudian merekalah yang akan membantu memasarkan ke pasar-pasar traditional.

Karena saya melihat penghasilan yang lumayan menjanjikan, kemudian saya bertanya mengapa kok tidak setiap bulan saja menanam sayur, kan perputaran uang bisa menjadi lebih cepat. “Proses penanaman yang kedua setelah panen agak memakan waktu dan biaya sedikit besar. Tanah harus digemburkan lagi agar sayu nanti tumbuhnya tidak rusak,” kata suami Men Wahyu

Seluruh ikatan sayur akhirnya terkumpul didepan rumah mereka dan siap untuk diangkut kedalam mobil pembeli. Sambil menunggu pembeli datang, Men Wahyu dan suaminya yang umurnya masih muda pun siap-siap untuk pulang. Seikat sayur hijau pun akhirnya diberikan kepada saya gratis.

Mereka yang masih muda ini tidak takut turun ke sawah. Bukannya karena tidak ada pekerjaan lain, sang suami adalah seorang PNS. Ini mereka lakukan karena memang pekerjaan turun ke sawah adalah sebuah kepuasan bagi mereka. “Kalau sore hari belum dapat ke sawah, kepala saya bisa sakit. Cuma di sawah hiburan saya untuk menghilangkan stress,” tutur Men Wahyu lagi.

Bisakah aktifitas ini akan diturunkan ke generasi moderen berikutnya? Tanya saya dalam hati. Tentu akan sangat susah jika lahan pertanian di Tabanan semakin banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan dan penginapan.

Comments (3)