Archive | Profil

Mengenal Lebih Dekat Ajik Djawir

Tags: , , , , , ,

Mengenal Lebih Dekat Ajik Djawir

Posted on 18 September 2012 by yandi

Bagi yang tergabung dalam forum Talov di facebook, tentu sudah tidak asing dengan nama Ajik Djawir.Meskipun di usianya yang mau menginjak 60 tahun, beliau masih semangat berkumpul dengan para pemuda yang tak jarang masih sangat belia. I Gusti Kade Djaya Wirata, BE demikian nama lengkap Ajik Djawir yang beristrikan Drg. I Gst Ayu Pt. Suarningsih dan dikaruniai tiga orang anak.

Ajik Djawir lekat sebagai sosok yang penuh dengan aktivitas yang dibuktikan dengan banyaknya berbagai agenda-agenda seminar/kursus yang pernah diikuti oleh beliau. Pelatihan-pelatihan seperti Business International di Queensland, Pemberdayaan Masyarakat, dan lain sebagainya yang rupanya menjadi sangat bermanfaat bagi masyarakat hingga kini. Kegilaan Beliau akan organisasi dan aktivitas benar-benar wajib diacungi jempol. Dan ketika ditanya bagaimana mengatur waktu antara keluarga dan karir, Ajik Djawir mengaku sangat berat, dan merasa kehilangan sebagian kenikmatan untuk menikmati masa kanak-kanak dari putra-putrinya. Dan untuk menciptakan masa depan putra-putrinya yang lebih baik, Beliau menorehkan visi agar mereka menguasai 3 hal dalam pendidikan yaitu menguasai bahasa asing, komputer, dan gemar membaca. Terbukti konsep tersebut manjur bagi putra-putrinya yang kini masing-masing sudah memiliki usaha sendiri.

Penerima Upakarti 2010 dari seluruh Indonesia

Penerima Upakarti 2010 dari seluruh Indonesia (foto Antara)

Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Periode Pertama BPC HIPMI Tabanan, AMA, Wakil Ketua AKLI, Ketua Apsintelindo Bali, salah satu kandidat Bupati Tabanan periode 1999,dan hingga kini sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Bali hingga 2015, dan masih banyak lagi pengalaman dan keterlibatan organisasi beliau baik di dalam maupun luar negeri yang kalau ditulis pasti akan memenuhi artikel ini. Tentu suatu anugerah dan kebanggaan bagi Tabanan yang memiliki putra daerah yang membanggakan.

Sebagai seorang arsitek dan pengusaha, Ajik Djawir juga sangat concern dengan berbagai isu lingkungan dan peningkatan kualitas pengrajin di Tabanan dan Bali pada umumnya. Hingga puncaknya menerima anugerah Upakarti Jasa Pengabdian dari Presiden Republik Indonesia, tahun 2010.

Djaya Wirata menerima Upakarti dari Presiden Yudhoyono

Djaya Wirata menerima Upakarti dari Presiden Yudhoyono (foto: Antara)

Kini Ajik Djawir bersama relawan, bekerja keras mewujudkan suatu big dream yang bertajuk UNACOB untuk mendidik para remaja dan pemuda agar memiliki modal skill yang mumpuni baik dari sisi emosional, finansial, dan spiritual dengan mengedepankan praktik-praktik kehidupan yang menjunjung kearifan lokal dan perlindungan terhadap lingkungan sekitar. Mimpi ini merupakan titik puncak dari kegalauan Ajik Djawir terhadap maraknya praktik-praktik penjualan tanah yang akhirnya berimbas kepada amburadulnya penataan lingkungan dan lemahnya peran masyarakat Tabanan dalam meningkatkan kualitas hidup dan perekonomian. Saat ini UNACOB dengan nama Pesraman Dharmaning Widya masih dalam proses pematangan wacana, menata entitas yang concern dan serius untuk turut bergabung dalam memantapkan realisasinya. Komunikasi intens dengan berbagai pihak disertai pertemuan-pertemuan untuk menyusun action plan sudah dilakukan dengan harapan tahun ini segera bisa menyelenggarakan kick off dalam bentuk event sederhana yang bisa dijadikan tonggak awal pergerakan UNACOB.

“Sudah banyak kalangan menyatakan sevisi dg UNACOB secara pribadi, utk institusi masih coba dikomunikasikan oleh beberapa sahabat, tentu saya sangat mengharapkan hal tersebut, karena kedepan saya mengharap UNACOB menjadi milik masyarakat Tabanan dan mampu mewarnai dan memberi kontribusi positif dalam membangun Tabanan,” kata Ajik Djawir.

Ketika diminta pendapatnya tentang Tabanan, Ajik Djawir dengan tegas menjelaskan bahwa pertumbuhan APBD ini mesti disikapi dengan bijak agar sesuai dengan motto Tabanan Serasi alih-alih terjadi pemborosan yang tidak pada tempatnya sehingga dapat menjadi hal yang membahayakan. Tampak masyarakat mulai apatis dan pemimpin kurang menyerap aspirasi dari masyarakat yang ditandai dengan arah pembangunan yang tidak jelas dibanding kabupaten lain. Kita saat ini tertinggal dengan Kabupaten Bangli dan Karangasem yang dulunya merupakan juru kunci dalam banyak hal.

Disamping itu Beliau juga mengajak agar masyarakat juga tidak bersikap apatis terlalu dalam dengan kondisi ini,” Dibutuhkan rasa jengah masyarakat, harus ada usaha-usaha agar masyarakat Tabanan menggunakan akal sehat dalam menilai keadaan. Hindari fanatisme sempit dan mari ciptakan kondisi dimana peran serta berbagai elemen masyarakat dapat digalakkan terutama generasi muda, karena daerah ini akan sangat ditentukan oleh kiprah mereka nantinya.”

Ajik Djawir mengacungkan jempol untuk prakarsa anak muda yang tergabung dalam media sosial facebook Tabanan Lover (Talov) dengan berbagai kiprah mereka seperti bedah rumah, program adik asuh, event-event kreatif, dan sebagainya.

“Sungguh, melihat kiprah mereka saya merasa ini suatu aktivitas yang luar biasa, seyogyanya ini menjadi perhatian semua pihak, karena ini embrio yang positif untuk penggerak Tabanan menjadi lebih baik melalui interaksi positif di dalamnya.” kata Ajik Djawir mengakhiri percakapan.

Semoga..

Comments (0)

Djik Djawir Menggagas UNACOB: Pesraman Dharmaning Vidya

Tags: , , , , , ,

Djik Djawir Menggagas UNACOB: Pesraman Dharmaning Vidya

Posted on 04 September 2012 by yandi

Tabanan-Kreativitas masyarakat Tabanan kian hari tiada habisnya menelorkan gagasan-gagasan kreatif untuk memberikan sumbangsih bagi kabupaten yang dikenal dengan kota lumbung padi ini. Tidak hanya pemudanya, namun hampir semua elemen turut memberikan sumbangsihnya dalam beragam kemampuan yang dimiliki. Dan kembali semangat gotong-royong dan keguyuban serta kerendah-hatian mendasari pelaksanaannya.

Salah satu yang menjadi trending topic di group Talov adalah digagasnya pilot project UNACOB yang nantinya dipopulerkan dengan istilah Pesraman Dharmaning Vidya dengan rencana mengambil lokasi di desa Sarin Buana. UNACOB – Universal New Age Camp of Bali, suatu konsep yang digagas oleh Bapak Djaya Wirata yang akrab dipanggil Jik Djawir oleh ‘putra-putri’ beliau di group Talov. Djik Djawir adalah seorang arsitek, pengrajin, dan salah satu penerima anugerah Upakarti bidang jasa pengabian dari pemerintah tahun 2010 dalam proses aktivitasnya yang gigih membina para pengrajin. Dengan mengedepankan aktivitas-aktivitas belajar dalam format camp di alam yang indah di Tabanan dan bahkan di seantero Bali. Tidak ada bangunan permanen di dalamnya untuk tetap menjaga keutuhan tata ruang Bali dan lingkungan. Jadi lansekap dan bangunannya benar-benar menerapkan eco-green environment.

Jik Djawir

Jik Djawir dalam kesempatan meninjau bakal lokasi UNACOB di Sarinbuana. (dok.pribadi)

“Dengan konsep ini, semua elemen terutama pemuda dan masyarakat diharapkan memiliki wawasan yang jernih, tidak mudah menjual tanahnya dan sedapat mungkin secara maksimal memberdayakan potensi lokal sehingga mereka bisa diberdayakan secara ekonomi dan semakin lama tumbuh menjadi aktivitas ekonomi dan sosial budaya. Ini yang diharapkan akan mampu membendung luapan urbanisasi dan turut berperan serta menyelamatkan Bali dari gempuran investor yang sekedar mencari untung di Bali,” terang Jik Djawir yang dulunya mengenyam pendidikan di ITB dan hingga kini tetap menekuni profesi sebagai arsitek ini.

Gagasan yang terbersit sejak 3-4 bulan yang lalu sebenarnya merupakan akumulasi dari perjalanan hidup Djik Djawir.  Selepas acara nonton bareng sebuah film dokumenter di Akasa dan aktif dalam diskusi hangat tentang kondisi-kondisi hangat tentang pertanian, kegerahan Djik Djawir terkondisikan untuk lebih semangat menggagas suatu project yang mampu menjadi salah satu jawaban atas problem-problem kemasyarakatan yang ada.

“Bagi saya, hal-hal yang paling indah dalam hidup adalah ketika apa yang saya kerjakan bermanfaat bagi orang lain,” lanjutnya ketika ditanya kesan terindahnya dalam hidup.

Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Djik Djawir tetap menyimpan energi muda yang sangat dikagumi, waktunya banyak dihabiskan untuk membina pengrajin dan para petani di berbagai tempat.  Sebutlah nama seperti Ina Pendit, Bp. Dharma Putra (yang telah menyumbangkan nama pesraman), Bp. Hery Angligan, Wahya Biantara, Djaya Negara, Putra Sedana, Gede Sinu, Way Surya, Wahyudi,  Bp. Made Nurbawa, dan lain-lain yang tergabung dalam group Talov tanpa banyak bicara langsung bergabung untuk mensukseskan pilot project UNACOB ini.

logo UNACOB

Logo UNACOB yang didesain oleh Jaya Negara

Dengan Visi yang telah ditetapkan yaitu menjadikan insan yang lebih berdaya secara mental (karakter), terampil, dan berbudi pekerti yang baik, ditetapkanlah misi yang tentunya selaras untuk mencapai visi tersebut.  Misi yang telah ditetapkan antara lain:

  1. Peserta program akan mendapatkan layanan berupa kursus, rekreasi/hiburan sesuai dengan camp-camp yang disediakan.
  2. Lingkungan dimana program ini dilaksanakan akan dijaga kelestariannya baik oleh pengelola, masyarakat, maupun peserta.
  3. Masyarakat sekitar dapat diberdayakan secara ekonomi dengan melibatkan mereka semaksimal mungkin dalam mengisi berbagai kebutuhan program.
  4. Mencari hubungan dengan lembaga-lembaga yang punya kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat untuk turut ambil bagian di dalamnya.
  5. Usaha ini adalah usaha bersama (dari,oleh, dan untuk kita).

“UNACOB ini akan lebih seperti sekolah alam, ada yang bersifat permanen, tetapi juga akan menyediakan unsur rekreasi/wisata yang bersifat insidentil atau pendamping. Sedikit berbeda dengan Pramuka namun Pramuka pun bisa melakukan kegiatan disini. UNACOB akan menjadi suatu lingkungan yang unik dan berkembang seiring perjalanan waktu dan daya inovasi entitas yang terlibat di dalamnya,” terang Djik Djawir.

Hal ini juga diiyakan oleh Bp. Made Nurbawa yang menginginkan agar anak-anak lebih mengenal alam dan lingkungan dengan kearifan lokal. Jangan sampai pengaruh modernisasi yang tidak diimbangi dengan kearifan lokal justru akan menjadi suatu bom waktu di masa mendatang. Anak-anak masih perlu mengenal dan bisa menyentuh pohon juwet, boni, kepundung, gatep,  memelihara dan memandikan sapi, ngangon sapi dan kerbau, memberi makan ikan, itik , membuat canang, dan lain-lain. Memang hal ini masuk akal dan relevan, sangat menyentuh jika kita melihat agresivitas dalam jaman yang serba modern, anak-anak lebih banyak didera oleh hal-hal modern namun sedikit sekali yang menyentuh area-area sosial mereka.  Dan mengkhawatirkan sekali jika hal ini terus berlanjut dalam generasi mendatang. Kita tidak sedang menciptakan robot masa depan bukan?

Berbagai persiapan sudah mulai dilakukan diantaranya pembuatan website,  logo, sosialisasi juga dilakukan getuk tular (dari mulut ke mulut).  Lalu dimana lokasi dan bagaimana penyediaan lahannya?
Tentu dengan konsep gotong-royong yang disampaikan di atas, dan juga untuk melatih kebersamaan tersebut dibutuhkan sarana. Dan atas inisiatif Djik Djawir lahan yang beliau miliki akan dipinjamkan untuk mendukung terlaksananya pilot project ini.

“UNACOB bukan suatu usaha dengan permodalan tertentu, kita ingin semuanya berjalan ibarat air mengalir, tergantung partisipasi teman-teman. Dukungan berbagai pihak termasuk teman-teman dosen dari Pasca Sarjana UNUD juga tak kurang untuk kesanggupannya memberikan pelatihan-pelatihan. Setiap sumbangsih dari berbagai pihak sangat kami hargai. Ini seperti mewujudkan mimpi saya, gagasan yang muncul dari suatu obsesi sejak 15 tahun lalu untuk mendirikan sentra pengembangan produk melalui sebuah pesraman yang nantinya mampu mendatangkan orang-orang asing untuk mewujudkan idenya menjadi karya yang memiliki nilai jual untuk dipasarkan ke mancanegara. Bali adalah tempat yang tepat, kita siapkan lahan dan SDMnya. Hal ini belum terwujud sepenuhnya, saya baru menyiapkan lahan saja,”kata Djik Djawir menegaskan.

“Dengan konsep ini, semua elemen terutama pemuda dan masyarakat diharapkan memiliki wawasan yang jernih, tidak mudah menjual tanahnya dan sedapat mungkin secara maksimal memberdayakan potensi lokal sehingga mereka bisa diberdayakan secara ekonomi dan semakin lama tumbuh menjadi aktivitas ekonomi dan sosial budaya.

Disini dituntut peran aktif semua entitasnya. Ibarat mendayung perahu naga, dibutuhkan kerjasama dan kekompakan dalam team untuk dapat melaju. Bergerak, diam, melambat, semuanya ibarat suatu mata rantai dalam proses yang harus siap diterima sebagai suatu konsekuensi dalam pembelajaran.

Tentu sebuah gagasan mulia yang patut mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan pesraman yang akan menelorkan jiwa-jiwa kreatif yang bermental baja, memiliki kecerdasan emosional, spiritual, financial, dan dilandasi budi pekerti yang baik. Diharapkan mereka menjadi garda terdepan pembangunan masyarakat yang lebih baik, santun, dan bertanggung jawab. Dan menutup pembicaraan, Djik Djawir mengajak siapa saja untuk turut bergabung menjadikan UNACOB ini dapat terwujud dan berjalan seperti yang diharapkan. Perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama.

Bagi Anda yang ingin bergabung dalam mensukseskan UNACOB atau bertanya lebih lanjut tentang UNACOB bisa menuliskannya di komentar di bawah.

 

Comments (2)

Monez, Si Pembuat Monster Lucu

Tags: ,

Monez, Si Pembuat Monster Lucu

Posted on 13 August 2012 by Wahya Biantara

“Kalau melihat kartun dengan karakter manusia, mungkin bagi kita sudah biasa. Melihat ilustrasi monster yang seram pun pasti sudah sering. Bagaimana dengan monster lucu, sudah pernah melihat?

Apakah Anda ingat dengan sebuah film kartun Monster Academy? Sebuah film yang menceritakan sebuah dunia yang penuh dengan monster penggangu  tidur anak – anak kecil di alam nyata. Film ini dibuat di studio animasi Pixar yang selalu menghasilkan banyak karya – karya animasi terbaik lainnya seperti Toys Story, Radiator Spring dan lain sebaginya.

Continue Reading

Comments (1)

Dipo, dari Elektronika Sampai Pertanian Organik

Dipo, dari Elektronika Sampai Pertanian Organik

Posted on 09 May 2012 by Wahya Biantara

Pertanian organik tidak bisa dilakukan hanya lewat wacana, tapi lewat kegiatan langsung di tingkat petani dan konsumen,  melalui hubungan transaksi yang beretika dan adil.

Disebuah sudut dipinggir pantai sanur, pertama kali saya melihat sebuah bangunan yang menjual produk-produk pertanian yang dikemas sedemikian rupa, sehingga terlihat bersih dan higienis. Kebetulan hari itu saya sedang mencari bahan makanan, sehingga saya pun menyempatkan mampir sebentar.

satvikabhoga

Begitu saya masuk, produk-produk makanan higienis tersusun dengan rapi di rak-rak toko. “Ini tempat yang keren,” itu adalah hal pertama yang saya pikirkan ketika memasuki tempat itu. Tempat ini bernama Satvikabhoga. Berasal dari bahasa sansekerta yang berarti makanan yang bergizi, penuh energi hidup, untuk raga pikiran dan jiwa.

Begitu saya masuk, saya langsung disambut oleh seorang bapak yang masih energik dan menjelaskan kepada setiap pelanggan yang datang mengenai produk yang dijual disana. Dipo namanya. “Baru pertama kali datang kesini ya?” Tanyanya kepada saya. Karena saya memang pertama kali datang kesana, saya membenarkan. “Nah, kalau baru pertama, saya jelaskan sedikit mengenai produk-produk organik yang ada disini”

“Satvikabhoga baru dibuka sekitar satu tahun yang lalu. Namun kami sudah pernah melakukan ini tiga tahun sebelumnya, namun tidak dalam bentuk toko seperti sekarang,” jelas Dipo.

Bahan makanan yang dijual pun beraneka ragam. Mulai dari telur, beras merah, sayuran, jahe kering, madu, kopi dan aneka buah-buahan lainya. Semuanya dikemas dengan sedemikian rupa sehingga terlihat sangat bersih dan higienis.

Produk pertanian yang dijual oleh Dipo berasal dari kelompok tani yang berasal dari seluruh Bali.eras Dia melihat proses penanaman dan pemeliharaan sehingga dia pun tahu mana yang diproses secara organik dan tidak. Di toko tersebut pun, produk yang organik dan non-organik dipisahkan.

“Bantulah petani dari sisi pemasaran, menjaga kualitas dan mengenal pasar, dan itulah yang saya lakukan di Satvikabhoga” saran Dipo.

Menurut Dipo, petani perlu diajarkan untuk tetap menjaga kualitas dan kuantitas produk. Ketika mereka sudah mengetahui cara menjaga kualitas produk mereka, kita akan sangat mudah dikenalkan dengan pasar yang saat ini lebih banyak dari golongan mengenah ke atas.

“Pembeli sangat banyak dari kalangan menengah ke atas, karena mereka tahu pola hidup sehat. Apalagi teman-teman kita dari luar negeri, mereka kesini hanya untuk membeli sayuran,” terangnya kepada saya.

Selain Dipo, Satvikabhoka diprakarsai oleh dua anak muda lainnya yaitu Hira dan Raras.

Hira adalah seorang aktivis lingkungan hidup yang sudah berkeliling dunia untuk ikut berkampanye dan melakukan perundingan lingkungan. “ Ketika kecil, saya pernah bercita-cita jadi petani, dan mimpi tersebut sedikit banyak terwujud di kebun mini organik di rumah. Dan kini Satvikabhoga adalah perjalanan dalam menuju mimpi tersebut,” terangnya.

Sedangkan Raras berasal dari keluarga petani. Dia memilih produk organik karena dorongan dari anaknya yang sangat gemar sekali memakan keripik bayam organik. Sejak saat itulah dia kemudian bergabung bersama Dipo dan Hira untuk mendirikan Satvikabhoga.

Dipo sendiri adalah seorang lulusan elektronika. Namun karena kegemarannya terhadap hal-hal spiritual mengharuskan dia untuk memilih makanan yang sehat. Sejak kecil dia selalu menjadi andalan keluarga untuk mencicipi rasa masakan.

Comments (0)

Bukan Berbincang Masalah Lele, Melainkan IT

Bukan Berbincang Masalah Lele, Melainkan IT

Posted on 03 May 2012 by Wahya Biantara

Judul tulisan ini saya ambil dari status Facebook Putu Agus Swastika atau dikenal dengan sebutan Guslong. Guslong adalah seorang praktisi IT yang memang dikenal dikalangan pemerintahan dalam mendorong penggunaan teknologi di instansi pemerintahan.

Kota Denpasar dan Kabupaten Jembrana adalah salah satu karya beliau dalam usaha peningkatan penggunaan teknologi di kalangan pemerintahan. Berbagai penghargaan pun diraih dalam usahanya memajukan penggunakan teknologi dikalangan pemerintahan. Misalnya baru-baru ini beliau mendapatkan penghargaan dalam usahanya mengembangkan e-voting dalam pemilihan umum.

Continue Reading

Comments (1)

Men Wahyu, si Pebisnis Sayur

Men Wahyu, si Pebisnis Sayur

Posted on 21 April 2012 by Wahya Biantara

Aktifitas masyarakat di banjar Bengkel Gede, desa Bengkel pagi itu sedikit berbeda dari biasanya. Sawah yang sebelumnya tampak menguning kini telah dipanen. Sebagian sawah masih tertutup dengan tumpukan jerami dan sebagian lagi terlihat hijau berisi sayuran.

Sebuah mobil terbuka berwana hitam penuh berisi sayur terlihat parkir dipinggir jalan. Sang pemilik mobil terlihat ikut membantu rekannya bekerja di sawah.

Ternyata pagi itu penduduk desa sedang memanen sayur hijau dibeberapa pematang sawah. Aktifitas ini berlangsung setelah sebelumnya mereka memanen padi. Hal ini selalu dilakukan untuk menjaga kondisi tanah agar tetap subur dan berharap mendapatkan hasil panen yang baik pada musim tanam berikutnya

Saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai aktifitas baru ini. Saya katakan baru karena sebelumnya jarang sekali penduduk desa menanam sayur hijau dengan serempak seperti ini. Biasanya sehabis panen, lahan yang mereka punya hanya dikontrakan kepada para pebisnis semangka.  Biasanya jika panen semangka tiba, truk-truk pengangkut semangka tersebut berjejer dipinggir jalan yang memang dekat sawah.

Kebetulan di depan rumah, Men Wahyu dan suaminya sedang mengikat sayur hijau yang siap jual dan ditumpuk dipinggir jalan sembari menanti saudagar yang akan mengangkut seluruh hasil panennya untuk kemudian dijual di Peken Badung. Dari obrolan singkat saya dengan Men Wahyu, ternyata hasil dari berbisnis sayur ini lumayan menjanjikan.

Siklus hidup sayur hijau ini kurang lebih 28 hari. Dengan membeli lima kaleng bibit, sudah cukup untuk lahan sekitar 10 are. Total biaya yang dikeluarkan untuk 10 are ini sekitar Rp 500.000 sudah termasuk bibit dan pupuk. Dan hasil panennya bisa berkisar antara 2jt – 4jt untuk lahan 10 are. Sayur hijau ini dijual per kilo. Satu kali panen, untuk lahan 10 are tersebut bisa menghasilkan sekitar 2,5 ton sayur.

“Satu kilo harganya sekarang cuma Rp 1000. Kalau dulu satu kilo bisa mencapai Rp 3000. Ya lumayanlah untuk mengisi lahan yang kosong sebelum nanti menanam padi lagi. Ini pekerjaan yang paling gampang dilakukan dan hasilnya lumayan,” tutur Men Wahyu.

Bisa dibilang jika panen berhasil, setiap kepala keluarga bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar . Apalagi kalau misalnya setiap pebisnis sayur ini dibekali dengan kemampuan menjual. Pikir saya saat itu. Karena selama ini sayur mereka hanya di drop dipengepul, kemudian merekalah yang akan membantu memasarkan ke pasar-pasar traditional.

Karena saya melihat penghasilan yang lumayan menjanjikan, kemudian saya bertanya mengapa kok tidak setiap bulan saja menanam sayur, kan perputaran uang bisa menjadi lebih cepat. “Proses penanaman yang kedua setelah panen agak memakan waktu dan biaya sedikit besar. Tanah harus digemburkan lagi agar sayu nanti tumbuhnya tidak rusak,” kata suami Men Wahyu

Seluruh ikatan sayur akhirnya terkumpul didepan rumah mereka dan siap untuk diangkut kedalam mobil pembeli. Sambil menunggu pembeli datang, Men Wahyu dan suaminya yang umurnya masih muda pun siap-siap untuk pulang. Seikat sayur hijau pun akhirnya diberikan kepada saya gratis.

Mereka yang masih muda ini tidak takut turun ke sawah. Bukannya karena tidak ada pekerjaan lain, sang suami adalah seorang PNS. Ini mereka lakukan karena memang pekerjaan turun ke sawah adalah sebuah kepuasan bagi mereka. “Kalau sore hari belum dapat ke sawah, kepala saya bisa sakit. Cuma di sawah hiburan saya untuk menghilangkan stress,” tutur Men Wahyu lagi.

Bisakah aktifitas ini akan diturunkan ke generasi moderen berikutnya? Tanya saya dalam hati. Tentu akan sangat susah jika lahan pertanian di Tabanan semakin banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan dan penginapan.

Comments (3)