Archive | Lingkungan

Lebih Mengenal UNACOB LM Dalam Berbagai Aktivitas

Tags: , , , , , , , ,

Lebih Mengenal UNACOB LM Dalam Berbagai Aktivitas

Posted on 29 January 2013 by yandi

logoUnacob

Tabanan-Sejak dibentuknya UNACOB oleh Jik Djawir, gerak langkah  tampak mulai bergerak pasti. Sesuai dengan salah satu misinya yaitu mencari hubungan dengan lembaga-lembaga yang punya kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat untuk turut ambil bagian di dalamnya. Berkolaborasi dengan Lata Mahosadhi (LM) sebuah LSM yang juga sepaham dengan visi untuk mempersiapkan generasi muda Bali menghadapi tantangan masa depan, UNACOB semakin aktif melakukan berbagai aktivitas sosial, pendidikan, dan budaya.
Lata Mahosadhi yang didirikan oleh Ayu  Riagandi pada tahun 2010 yang lalu, telah memulai pembinaan terhadap generasi muda dengan keluhuran nilai budaya Bali dan memperkenalkan bahwa penerapan nilai-niali luhur itu membuat setiap orang mampu meraih kesuksesan kehidupan seperti apa yang telah mereka alami. Konsep Lata Mahosadhi adalah menerapkan Pendidikan berbasis pada Kesadaran (consciousness) karena itu mereka melakukan Transcendental Meditation sebagai suatu cara  untuk membantu pengembangan kesadaran dalam diri mereka.

Selain itu juga digagas sekolah cerdas yaitu membantu perkembangan siswa baik dari kepribadian maupun kecerdasan dengan metode alam tadi. Dan hal ini sudah dimulai di beberapa sekolah SD di desa Belumbang, Beraban dan Tangguntiti.
Dengan tumbuhnya kesadaran tersebut diharapkan nilai-nilai budaya yang terkikis dapat tumbuh kembali. Didorong oleh Prabhu Wirasa Pandya dengan merumuskan susunan pengetahuan mengenai kekuatan hokum alam dalam memenuhi keinginan manusia yang dikemas dalam PAST Programme – Personality and Successful Programme, pemuda diajak untuk menemukan kenyataan antara teori dan bukti nyata dari hasil penerapannya. Dan hal tersebut telah menghasilkan kemajuan bagi pesertanya yang telah mencapai 900 orang. “Dalam pembinaan Lata Mahosadhi, peserta mengalami kemajuan hidup yang sangat pesat,” kata Prabhu Wirasa Pandya.

“Dengan berbagai aktivitas yang telah kami lakukan dan terus akan bergulir, kami yakin UNACOB-LM akan menjadi embrio titik-titik penyebaran pertumbuhan ekonomi pedesaan”


Pada agenda UNACOB LM pada tanggal 20 Januari 2013 yang lalu peserta diajak mengenal diri mereka dalam suatu camp di Sarin Buana. Tampak antusiasme peserta yang juga datang dari luar negeri, salah satunya adalah John.  “Cerita john sangat menarik, bahwa beberapa tahun yang lalu dia masih melihat keramahan dan senyum yang alami dari masyarakat Bali. Dan saat ini semuanya sulit sekali di temuinya. Dan baru menemukan keramahan itu kembali di peserta kemah sepanjang Tabanan menuju Sarin Buana. Dia hampir kehilangan harapan, kini di tengah2 camp tersebut dia temukan kembali,” tutur Prabhu Wirasa Pandya.

Warga asing pun antusias mengikuti UNACOB-LM camp

Warga asing pun antusias mengikuti UNACOB-LM camp

Dalam mensukseskan pembinaan generasi muda  ini UNACOB pun tidak mau setengah-setengah. Jik Djawir pun sudah berancang mengaktifkan kembali lembaga Indonesia New Zealand yang sempat terhenti. “Sekarang kita menyandang nama UNACOB-LM dan menggagas aktivitas-aktivitas positif diantaranya yang akan datang adalah Vedic Camp pada 14-17 Februari 2013 mendatang dan juga bersama entrepreneur class Lata Mahosadhi merintis beras organic Koriza,” jelas Jik Djawir.

“Dengan berbagai aktivitas yang telah kami lakukan dan terus akan bergulir, kami yakin UNACOB-LM akan menjadi embrio titik-titik penyebaran pertumbuhan ekonomi pedesaan”, tegas Jik Djawir mengakhiri percakapan.

 

Sekilas mengenai Vedic Camp
Vedic Camp berakar pada Veda, manuskrip dari keberadaan hukum alam seperti yang oleh Maharishi Mahesh Yogi sehingga dipakailah istilah Vedic. Dan dengan dekatnya terhadap alam dan hukum alam itu sendiri maka camp ini pun akan lebih membumi, mendekatkan diri dengan alam sekitarnya. Sambil berekreasi, bergembira di alam sambil mempelajari tentang alam itu sendiri seperti mengenal lebih dalam tentang subak, mengapa harus menjaga Tri Hita Karana, dan sebagainya. Semuanya dikemas dengan cara-cara yang sederhana dalam suasana yang gembira. Siapapun yang ingin mendapatkan pembelajaran dan ingin memahami lebih lanjut tentang Bali dan lingkungannya, dapat bergabung dalam Vedic Camp ini. Pendaftaran bisa menghubungi Rumah Kasih, Jalan Dharmawangsa No. 6A, Tabanan. Dengan mengambil tema “Bersama alam kita menikmati dan sekaligus belajar hukum alam”, diharapkan lebih banyak lagi tentang Bali dan lingkungannya yang dapat diselamatkan melalui generasi mudanya.

Comments (0)

Pengetahuan Alam di Hulu Otan

Pengetahuan Alam di Hulu Otan

Posted on 05 November 2012 by Made Nurbawa

Tabanan memiliki 74 aliran air/Sungai yang memiliki nama. Sungai-sungai ini mengalir dari hulu ke hilir. Dari kawasan pegunungan tengah menuju Samudra Indonesia. Disepanjang alirannya banyak anak sungai tak bernama menyatu menjadi sungai utama (Capuhan). Nampak jelas aliran sungai itu membentuk sikut-sikut Tata Ruang Tabanan. Baik Parahyangan, Pelemahan maupun Pawongan. Peradaban lama dan budaya Subak pun tumbuh selaras disepanjang alirannya.

Mengenal aliran sungai merupakan pengetahuan dan pembelajaran alam yang sangat berharga. Kita bisa belajar dan memahami kembali simpul-simpul budaya, khususnya budaya pertanian yang hingga kini menjadi Ikon Kab. Tabanan. Aliran sungai tersebut merupakan urat nadi sekaligus jawaban mengapa Kabupaten Tabanan menjadi “Lumbung Pangan”.

Disepanjang alirannya, aliansi budaya dan tradisi keyakinan Krama Subak dan Desa Pakraman pun terlaksana rutin sepanjang tahun. Membudaya dalam tradisi Keyakinan terstruktur di beragam Upakara dan Upacara. Sungguh menciptakan keteraturan, membentuk tatanan selaras alam dalam “Radius Spirit Kesucian”, Jagat Tabanan.

Pagi itu, Minggu 4 Nopember 2012, kami berenam menyusuri hulu Sungai Otan. Sebuah langkah mengawali “Ekspedisi Hulu Sungai” Jagat Tabanan. Kami pun mulai mencatat, ada tujuh Sungai terpanjang di Tabanan berturut-turut, yaitu :

  1. Sungai Yeh Sungi 40, 50 Km;
  2. Sungai Yeh Ho 35,50 Km;
  3. Sungai Yeh Panahan 33,50 Km;
  4. Sungai Yeh Empas 29,00 km;
  5. Sungai Tukad Balian 25,30 Km;
  6. Sungai Yeh Otan 24,00 Km dan
  7. Sungai Tukad Aon, T. Bangka 21,00 Km.
Setelah beberapa lama di kawasan hulu Sungai Otan, kami beristirahat di bawah pohon Tingkih (kemiri). Seorang kawan mengajarkan saya main “Adu Tingkih”.
Mengenali untuk meyakini, bahwa alam selalu memberi inspirasi. Mari kita hormati dan kita lestarikan. “Ekspedisi Hulu Sungai” Jagat Tabanan, sebuah pendidikan alam alternative yang cukup menjanjikan. (MN).

Comments (0)

Mengenal Sumber Daya Air Tukad Tabanan

Mengenal Sumber Daya Air Tukad Tabanan

Posted on 04 September 2012 by Made Nurbawa

Di banyak tempat di belahan nusantara, sungai telah menjadi pusat-pusat perkembangan peradaban. Misalnya sungai Musi di Sumatra Selatan, sungai ini menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya. Di Jawa Barat, banyak dijumpai prasasti di dekat aliran sungai. Di Bali, di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan di Kabupaten Gianyar pun banyak dijumpai situs-situs kuno yang mampu memberi rujukan perkembangan kehidupan masyarakat Bali di jaman lampau.

Dalam bahasa Bali Sungai disebut dengan Tukad. Di wilayah Pulau Bali dan Penida, Tabanan termasuk wilayah yang memilik Daerah Aliran Sungai (DAS) cukup banyak.  Di Tabanan ada sekitar 47 DAS yang memberi pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Tabanan dan Bali, karena sumber daya airnya digunakan untuk irigasi pertanian maupun sumber daya air minum.

source foto : kristupa.wordpress.com

Dari 47 DAS di Tabanan, 5 DAS dicatat tanpa nama intermitterr dan 5 DAS tanpa nama continue. Ada lima  DAS yang dikelola sebagai pengendali banjir yaitu:  Tukad Sungi, Panahan, Yeh Penet, Yeh Ho dan Yeh Empas (Bappeda Tabanan 2012).

Continue Reading

Comments (0)

Mengenal Kembali Subak

Mengenal Kembali Subak

Posted on 23 May 2012 by edisusanta

Tanggal 20 Juni 2012 Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuwan, dan Budaya, (UNESCO) mengakui budaya Subak dari Bali sebagai bagian dari warisan dunia. Penetapan Subak sebagai bagian dari warisan dunia berlangsung di Saint Petersburg, Rusia  bertepatan dengan 40 tahun Konvensi Warisan Budaya Dunia. Konvensi yang dimulai pada tahun 1972

Subak adalah organisasi petani di Bali yang bersifat sosio agraris religius ekonomis dan dinamis yang mempunyai wilayah tertentu dan kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Landasan Religius/keagamaan yang melandasi subak adalah agama hindu yang bertujuan moksartham jagadhita ya ca iti dharma yakni menuju kesejahteraan lahir dan bathin sosial budaya dengan prinsip desa kala patra dan desa mawa cara yakni penyesuaian dengan situasi serta kondisi setempat. Mengenai kala yang berarti waktu dapat dipandang dari tiga dimensi yaitu dahulu, sekarang dan yang akan datang (atita, nagata wartamana)

Subak Desa Blimbing Pupuan, Tabanan

Subak Desa Blimbing Pupuan, Tabanan, Oleh Nyoman Martawan

Subak memiliki falsafah Tri Hita Karana. Tri berarti tiga, hita berarti kebahagiaan dan karana memiliki arti penyebab. Tri hita karana berarti tiga penyebab kebahagiaan. Yang terdiri dari:

  1. Parhyangan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan ,
  2. Pawongan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan
  3. Palemahan yakni hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya.

Secara garis besar subak memiliki fungsi antara lain:

  1. Mengatur pembagian air dgn sistem temuku, temuku sendiri ada bebera jenis antara lain : temuku aya yaitu pembagian air di hulu, temuku gede yakni ukuran pembagian air untuk bagian bagian wilayah persubakan, temuku penasan yaitu ukuran pembagian air yang langsung kepetakan petakan sawah, yang jumlah petani sawah +/- 10 bagian. Dan temuku penyacah yaitu ukuran pembagian air untuk perorangan dimana air yang diatur tersebut melalui : aungan(terowongan), empelan (empangan), telabah(selokan/parit)
  2. Memelihara bangunan bangunan pengairan disertai pengamanannya sehingga dapat dihindari kehilangan air pada saluran saluran air.
  3. Mengatur tata guna tanah dengan sistem terasering sehingga lahan tanah yang tadinya bergunung gunung menjadi hamparan sawah atau sengkedan yang berundak undak yang dapat menopang longsornya tanah.
  4. Mengatur pola tanam yakni kerta masa yaitu wilayah subak ditanami padi semuanya, karena air mencukupi, gegadon yaitu pergiliran tanaman padi dengan palawija karena pergantian pemakaian air sesama subak di sekitarnya.
  5. Menggalang persatuan organisasi subak dengan termufakatinya segala hak dan kewajibannya serta atas pelanggarannya dikenakan upaya pemulihan sesuai dengan hukum adat setempat(perarem, sima, awig awig) sebagai konsekuensi otonomi yang dimiliki oleh subak.
  6. Penata gunaan air tradisional.
  7. Pola tanam, adanya sistem kerta masa yaitu menekan/memutus siklus hidup hama dan penyakit tanaman, sekaligus menghindari bertanam padi secara tulak sumur yakni tidak serempaknya penanaman.
  8. Usaha tani terpadu seperti kolam air deras, mina padi, peternakan itik dan sapi dengan sistem tumpang sari yakni padi di tengah dan mina dipinggir petakan sawah serta sayur mayur di pematang petakan sawah

Organisasi subak terdiri dari:

Anggota subak atau biasa disebut krama subak adalah mereka yang memiliki dan atau menggarap sawah dan mendapatkan air. Krama subak di bagi menjadi 3 macam antara lain:

a. Krama aktif yaitu krama pekaseh, sekaa yeh atau sekaa subak.
b. Krama pasif yakni krama yang mengganti kewajibannya dengan uang atau natura yang disebut pengohot atau pengampel
c. Krama luput yaitu anggota yang tidak aktif dalam segala kegiatan subak karena tugasnya seperti bendesa adat dan atau
kepala desa.

Prajuru/pengurus subak terdiri dari:

  1. Pekaseh/kelian subak (kepala subak)
  2. Pangliman/petajuh (wakil kepala subak)
  3. Peyarikan/juru tulis (sekretaris )
  4. Petengen/juru raksa (bendahara)
  5. Saya/juru arah/juru uduh /juru tibak /kasinoman (urusan pemberitahuan atau pengumuman)
  6. Pemangku (urusan keagamaan)

Sekaa dalam subak:

  • Sekaa numbeg yaitu kelompok dalam hal pengolahan tanah
  • Sekaa jelinjingan kelompok dalam hal pengolahan air
  • Sekaa sambang yaitu kelompok yg memiliki tugas dalam hal pengawasan air, dari pencuriaan, penangkap atau penghalau binatang perusak tanaman seperti burung maupun tikus
  • Sekaa memulih/nandur yaitu kelompok yang bertugas dalam hal penanaman bibit padi
  • Sekaa mejukut yaitu kelompok yang bertugas menyiangi padi
  • Sekaa manyi adalah kelompok yang bertugas menuai/memotong/mengetam padi
  • Sekaa bleseng yaitu kelompok yang memiliki tugas mengangkut ikatan padi yang telah diketam dari sawah kelumbung

Sebagai organisasi yang bersifat otonom dalam mengurus rumah tangganya sendiri subak dapat menetapkan aturan yang dikenal dengan istilah awig awig, sima, perarem dan sebagainya. Dalam awig awig dimuat ketentuan ketentuan pokok, isi pokok awig awig mengatur mengenai parhyangan, pawongan dan pelemahan sedangkan ketentuan yang lebih detail dimuat dalam pararem sebagai pelaksana awig awig subak. Awig awig memuat hak dan kewajiban serta sanksi atas pelanggaran hak dan kewajiban. Sanksi merupakan pemulihan terhadap pelanggaran yang terjadi yang berbentuk sistem pamidanda antara lain

Dosa berupa pelanggaran yang dilakukan oleh krama subak oleh karena pengenaanya diakibatkan oleh suatu kewajiban misalnya tidak ngayah(gotong royong), sangkepan subak dsb. Pengecualian terhadap pelanggaran diatas dapat dilakukan dengan ketentuan/alasan sakit, meyadnya/melaksanakan kegiatan keagamaan, bepergian/melakukan tugas negara. Tidak dapat hadir atau melaksanakan kewajiban dimaksud dapat mengganti dengan uang/nosa atau sasalahan yang jumlahnya disesuaikan dengan pararem atau kesepakatan anggota subak.

Denda merupakan kejahatan sebagaimana dalam hukum pidana, yang pada hakekatnya perbuatan tersebut pada awal mulanya sudah dilarang, misalnya, mencuri:peralatan disawah, air, padi dsb, tidak membayar urunan(iuran) tidak mau gotong royong dll, melanggar larangan larangan seperti penanaman secara tulak sumur, serta ketentuan pergiliran tanaman.

Upacara yang diselenggarakan oleh anggota subak:

  1. Mapag toya yaitu upacara saat pemasukan air
  2. Ngendagin yaitu upacara saat mulai melakukan pencangkulan pertama
  3. Pengawiwit yaitu upacara dikala mulai menabur benih
  4. Nandur yaitu upacara saat penanaman padi
  5. Neduh yaitu upacara untuk mencegah timbulnya penyakit tanaman
  6. Mecaru yaitu upacara untuk menolak hama
  7. Nyaetin yaitu upacara menjelang panen yang di lakukan dengan ngadegang dewa nini/dewa padi
  8. Mantenin yaitu upacara dikala padi disimpan di lumbung
  9. Ngusaba merupakan upacara dewa yadnya di pura subak, yang dilakukan secara periodik yakni 6 bulan kalender bali/saka atau setahun sekali
  10. Merainan upacara yang dilakukan tiap hari yang dilakukan oleh pemangku pura subak/bedugul masing masing

Jaringan irigasi dalam subak jika diurut dari sumber air terdiri dari:

  1.  Empelan/empangan
  2. Buka/bungas (in take)
  3. Aungan/terowongan
  4. Telabah aya(gede) : saluran utama
  5. Temuku aya(gede) : bangunan pembagi utama
  6. Telabah tempek (munduk/dahanan/kanca) saluran cabang
  7. Telabah carik : saluran ranting
  8. Telabah panyacah(tali kunda) dibeberapa tempat dikenal dengan istilah
    - Penasan untuk 10 bagian
    - Panca untuk 5 orang
    - Pamijian untuk sendiri/1 orang

Distribusi atau pembagian air dalam subak sampai kepetakan sawah, dibagi sesuai dengan jumlah/ayahan/pembagian benih (wit). Satu ayahan = satu wit tenah yakni bibit seberat +/- 25 kg, memperoleh air satu unit=tektek=kecoran adalah satu satuan pembagian air yang dihitung berdasarkan jumlah ayahan(tenahan). Satu tektek = 4 jari tangan, umumnya diterapkan untuk pembagian air ke petakan sawah.

Comments (0)

Jangan Biarkan Lulu Menyerbu Hulu

Jangan Biarkan Lulu Menyerbu Hulu

Posted on 21 May 2012 by Made Nurbawa

Lulu (sampah) sekarang sudah menjadi masalah yang meresahkan. Terutama sampah plastik. Got, telabah, dan tukad dipastikan tidak bebas lagi dari sampah plastik. Plastik tidak mudah hancur dalam tanah sehingga mencemari tanah dan lingkungan.

foto diambil dari yellowcoconut.multiply.com

Saat ini pola hidup dan konsumsi rumah tangga merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap adanya timbulan sampah plastik. Rumah tangga adalah produsen sampah terbesar. Diperkirakan rata-rata produksi sampah per orang per hari sekitar 1 liter (satu ember kecil). Dan sekitar 10% nya merupakan sampah anorganik seperti plastik, karet, botol, dan lain-lain.

“Jika dicermati akhir-akhir ini aktivitas upacara dan persembahyangan pun sudah berpotensi menimbulkan timbulan sampah plastik. Mulai dari plastik pembungkus dupa, pembungkus canang, makanan, minuman, dan lain sebagainya”

Pemandangan yang lumrah kita temui saat atau sehabis piodalan atau puja wali di beberapa Pura, timbulan dan timbunan sampah plastik pasti terjadi dalam jumlah yang semakin mencemaskan saja. Kondisi ini sudah saatnya menjadi perhatian serius bagi bagi Krama Bali, Pemedek dan atau Pengemong Pura.

Secara spirit dan filosofi sosiologis serta geografis (tata ruang), Pura di Bali merupakan “Hulu” atau “Sumber” atau “Pusat”. Bisa juga bermakna “Guru” atau yang “Tertinggi” (gunung) atau yang “Tersuci”. Jadi Pura atau tempat-tempat suci lainnya merupakan kawasan yang “diyakini suci”. Dengan kata lain, Pura di bangun di kawasan hulu yang diyakini suci oleh orang Bali.

“Jika demikian halnya maka aktivitas yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dikawasan hulu, sudah saatnya harus dikurangi dan dihentikan!” Salah satunya dengan jalan mengurangi penggunaan bahan upakara/persembahyangan dari bahan plastik. Kalaupun terpaksa menggunakan bahan dari plastik, maka setiap pemedek sudah sewajibnya membawa kembali plastik itu pulang ke rumah dan dibuang ditempat yang  benar.

“Prajuru Desa/Pura pun diharapkan selalu memberi petunjuk dan mengingatkan pemedek, kemana, dimana dan bagaimana seharusnya sampah plastik dikelola di kawasan suci dan atau tempat suci”.

“Dumun yening wenten Piodalan krama pemedek di Bali sampun biase makte tipat, entil, saur nyuh mekaput don biyu. Canang lan Gebogan pun mewadah Sok Kasi”. Ternyata dulu perlengkapan upacara dan makanan berasal/dibuat dari bahan-bahan organik (bahan alami yang mudah terurai).  Karenanya timbulan sampah plastik pun tidak terjadi seperti saat ini.

Apa yang dilakukan oleh tetua (leluhur) kita dulu ternyata dilandasi oleh kesadaran dan keyakinan untuk hidup sederhana agar dapat menjaga dan saling hidup menghidupi bersama alam.

Sehingga Hulu tetap memberi spirit kesucian, air dan sungai pun tetap mengalir bersih dan layak minum, flora dan fauna pun hidup saling melengkapi. “Dan tentunya tidak perlu membuang uang rakyat (APBD) untuk mengurus sampah plastik dan atau sibuk membuat Perda. Apalagi harus mengangkat dan menggaji puluhan tenaga kerbersihan untuk melaksanakan peraturan dan aturan yang berlaku”.

Hakekat Upacara, Upakara dan adat Bali sesungguhnya merupakan rangkuman tuntunan hidup bagi umat manusia dalam mengelola alam yang seimbang. Maka, akan sangat disayangkan jika tuntunan itu berubah menjadi “tontonan” belaka, atau “wewalihan” semata hanya demi konsumsi Pariwisata Budaya.

“Menghormati kesucian Hulu sama hartinya hormat kepada Guru. Hilangnya Hulu atau Guru berarti hilangnya tuntunan hidup alias “Paling” (bingung). Yening kenten,  ngiring mangkin sareng-sareng mewali, Eling lan Ngelingan Ngulati Bali yang Wali !”. “Jangan biarkan lulu menyerbu Hulu!”(MN).

Comments (0)

Bebaskan Lingkungan dari Sampah Visual

Tags: , ,

Bebaskan Lingkungan dari Sampah Visual

Posted on 03 May 2012 by kaliaja

Bebaskan lingkungan kita dari sampah visual

Bebaskan lingkungan kita dari sampah visual

Tidak hanya spanduk pencitraan yang bertebaran di negara kita ini seperti pada tulisan Jaya Ratha sebelumnya yang menyoroti tentang cara-cara komunikasi politik pemerintah Tabanan. Tapi masyarakat kita pun banyak yang belum tahu bagaimana sebenarnya tata cara pemasangan reklame yang benar, sehingga tidak menjadi sampah visual.

Continue Reading

Comments (0)

Pusat Penyelamatan Satwa Tabanan

Pusat Penyelamatan Satwa Tabanan

Posted on 16 April 2012 by widarioka

Minggu, 8 April 2012 saya berkunjung ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Bali. Letaknya hanya 10 menit dari rumah saya, tepatnya di Jl. Teratai No. 49A, Banjar Dukuh, Dauh Peken, Tabanan. Walau dekat rumah, ini adalah kali pertama saya berkunjung ke PPS setelah 13 tahun menetap di Tabanan.

 

Kedatangan saya ke PPS Bali ini awalnya bertujuan untuk menyerahkan ular Phyton Reticulatus yang ditemukan teman saya Jaya Ratha di Petitenget, Badung. Phyton dengan panjang lebih dari 2 meter tersebut ditemukan terjerat jaring yg terdapat di sungai di daerah Petitenget pada hari Sabtu, 7 April 2012. Jadilah saya, Wahya Biantara dan Dony Wismayana turut serta dengan Jaya menuju PPS Bali untuk menyerahkan ular tersebut.

Continue Reading

Comments (0)

Media Komunikasi Tabanan yang “SERASI”

Media Komunikasi Tabanan yang “SERASI”

Posted on 16 April 2012 by jayaratha

Spanduk dan baliho adalah media yang umum digunakan sebagai penyampai informasi bagi khalayak banyak. Media ini biasa dijumpai di sepanjang jalan maupun pusat-pusat keramaian. Tak sekedar digunakan oleh pelaku bisnis untuk memperkenalkan produknya, spanduk dan baliho juga banyak digunakan oleh penyelenggara kegiatan, lembaga pendidikan, kelompok masyarakat, organisasi massa, partai politik, lembaga pemerintahan dan lain-lain.

Termasuk di Tabanan, dengan sangat mudah spanduk dan baliho dijumpai di setiap sudut kota. Meskipun jaman telah dikatakan serba online, pemerintah pun hingga kini tetap menjadikan spanduk dan baliho sebagai pilihan komunikasi dengan berbagai bentuk pengembangannya.

Continue Reading

Comments (17)

Meceburan di Taman Kota Tabanan

Meceburan di Taman Kota Tabanan

Posted on 14 April 2012 by Wahya Biantara

 

Sewaktu kecil dulu, kami bermain air di sungai, atau di Bali disebut tukad. Namun sekarang jaman pun berubah. Anak-anak bermain air di kolam Taman Kota

Matahari sangat terik diseputaran kota Tabanan. Hari itu kami melakukan survei koneksi internet untuk kegiatan kelas menulis di taman belajar Akasa. Setelah selesai dari Akasa, kami melakukan survei ke Taman Kota Tabanan, karena ada rencana dari pihak penyedia layanan koneksi untuk memasang koneksi internet disana.

Dari kejauhan terlihat tiga anak kecil sedang bermain – main disana. Tetapi ada yang terlihat sedikit aneh, karena mereka bermain – main tanpa pakaian sama sekali. Perlahan kami mendekati lokasi sambil mencari tempat berteduh karena saking teriknya matahari Tabanan saat itu.

Setelah kami mendekat, ternyata tiga anak – anak tersebut sedang bermain di kolam Taman Kota. Kolam tersebut airnya terlihat kotor, yang mungkin isinya hanya air hujan saja. Dan alangkah terkejutnya saya ketika saya melihat mereka berenang sambil menyelam dan ketika muncul dipermukaan mereka memegang sebatang bambu yang sudah usang dan masih berisi paku.

Continue Reading

Comments (5)