Archive | Opini

Golput Mengandaskan Pesta Demokrasi?

Golput Mengandaskan Pesta Demokrasi?

Posted on 12 April 2013 by jayaratha

golput1

Seorang teman dalam beberapa kali diskusi lewat media social selalu menekankan agar tidak golput dalam pemilihan kepala daerah provinsi bali yang akan berlangsung sebentar lagi (15 Mei 2013). Dalam beberapa komentarnya kurang lebih ia sebutkan seperti ini:

“Bila jaman dulu memilih Pemimpin lewat Wakil/Dewan , rakyat protes katanya tidak demokratis.. sekarang Rakyat sudah dikasi memilih langsung Pemimpinnya malah Buang suaranya (golput) , itulah Manusia.. kasian Uang Pemilu (uang APBD/APBN dibuang percuma) hnya dgn Golput.. pdh itu uang kita. semoga 1 suara bisa menggugah byk org tdk golput., karena percuma tdk ada yg akomodir suara golput tsb, tetap saja pemenang akan dilantik dan kita semua akan merasakan kepemimpinannya. Jadi Pilihlah yang LUBER (Langsung, Umum , bebas dan Rahasia) sesuai dan lihat apa yg sdh direncanakan programnya.”

“Bila ada pemikiran lain tentangg golongan putih,agar bisa di Obati segera, sblm Golputnya menjadi kronis dan Kanker (menjalar kemana2) sehingga menjadi Pemilih yg tdk lagi membuang suaranya yg sudah diakui / dijamin Undang-Undang, karena ini pesta rakyat , inilah Pesta Demokrasi Pemilu”

Dari komentar tersebut saya jadi berpikir apakah benar golput sama artinya membuang suara? Kalau menurut saya (ini pendapat saya pribadi sebagai orang awam) tidak memilih salah satu calon atau golput artinya tidak sama dengan membuang suara. Mengapa demikian? Karena golput pun merupakan salah satu mekanisme memanfaatkan suara dengan tidak memilih satupun calon yang dimunculkan. Ini juga adalah hak setiap warga Negara dan merupakan bagian dari proses demokrasi.

Continue Reading

Comments (0)

Kiamat, Kaliyuga Berakhir

Kiamat, Kaliyuga Berakhir

Posted on 21 December 2012 by Wahya Biantara

Akhir-akhir ini, kiamat menjadi isu yang menggelitik banyak orang. Ada yang cemas, ada pula yang senang karena punya bahan guyonan baru. Saya pun ikut-ikutan membahas kiamat melalui tulisan ini. Namun, saya mencoba melihat dari perspektif yang konstruktif. Seperti kita ketahui, isu kiamat bersumber dari kalender suku Maya yang berakhir pada tanggal 21 Desember 2012.

1b. Satya Yuga

 

Popularitas penanggalan tradisional itu terkerek naik dan menjadi buah bibir sejagad setelah insan film Holywood menyajikannya di layar lebar. Tak pelak, pemuka adat di Peru pun melontar protes. Mereka mengeluhkan eksploitasi penanggalan itu untuk kepentingan bisnis. Mulai dari film, buku, paket tour, hingga oleh-oleh khas kiamat.

Di negeri kita, ada yang menghubungkan isu itu dengan ramalam almarhum Mama Lauren. Paranormal tenar itu hanya mengatakan bahwa 2012 gelap. Lebih jauh, sang Mama menekankan bahwa akhir 2012 akan terjadi perubahan peradaban dari Kaliyuga ke Kertayuga. Tak jelas, apakah kesimpulan ini buah dari analisa mendalam atau hanya visi keparanormalan belaka.

Sekilas nampak benang merah antara muatan pesan kalender suku Maya dan ramalan Mama Lauren. Terlepas dari warna-warni ramalan itu, Forum Studi Majapahit yang intens mengamati perjalanan sejarah dan peradaban ternyata punya pandangan senada. Dalam berbagai studi dan perjalanan spiritual, juga menarik kesimpulan bahwa akan segera ada perubahan peradaban.

Jaman menurut Hindu

Bila kelompok New Age menandai jaman dengan memakai sifat logam : emas, perak, perunggu, dan besi. Hindu mengenal empat jaman kehidupan. Yakni, Satyayuga, Kertayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Setelah era Kaliyuga, kembali ke Satyayuga, dan seterusnya.

Satyayuga adalah jaman dengan mayoritas manusia punya kesadaran spiritual tinggi. Takut kepada Tuhan, cinta ibu pertiwi. Pada era Kertayuga, kesadaran manusia mulai menurun, lebih berorientasi pada kesejahteraan. Dwaparayuga, serba separuh. Kaliyuga, seperti yang kita alami sekarang. Banyak yang edan, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda. Ibarat besi yang mudah berkarat. Gampang melupakan kemuliaan dan kejujuran. Tidak takut Tuhan. Bahkan ada yang menganggap Tuhan sudah mati. Percaya Tuhan, hanya sebatas ritual atau sembahyang. Ada yang menyebut, manusia Kaliyuga berintelijensia terpayah.

Sudah Masuk Transisi

Mengamati beragam kejadian saat ini, Forum Studi Majapahit membahasakan sebagai suatu narasi besar, sebuah karya agung, perubahan jaman yang penuh misteri. Masa transisi dari Kaliyuga ke Satyayuga. Di masa transisi, dua jaman berjalan bersamaan. Di satu sisi, Kaliyuga sedang mencapai masa puncak akhirnya. Di sisi lain, Satyayuga memasuki tahap persiapan.

Berakhirnya Kaliyuga, bisa diamati dari keedanan yang sebelumnya rekat, mulai terkuak dan tersimpulkan. Tercium aroma kebusukan, sekaligus ganjarannya. Hal itu tampak di semua lembaga negara dan tingkatan pimpinan negara. Juga pada tataran kehidupan keluarga dan masyarakat. Disebutkan di banyak buku suci, bahwa pada akhir jaman nanti akan ada pengadilan yang tegas, tak terhindarkan. Malaikat turun ke bumi mengisi dan memperkuat sinar kesucian manusia.

Di saat bersamaan, persiapan Satyayuga semakin kasat mata. Saat ini kehidupan beragama kian marak. Bermunculan fenomena demam spiritualitas, meditasi, yoga dan sebagainya. Pula, terjadi masif di sekitar kita, fakta individu tiba-tiba harus ngiring Ida Betara. Kesurupan massal dan lainnya. Ini jelas, sebagai gejala kebangkitan spiritual. Sedang terjadi transformasi kesadaran kolektif sistimatis – eschatological.

Bencana Bertubi Tanda Transisi

Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa, penasehat Forum Studi Majapahit, menyitir kitab Sasangka mengatakan, bahwa Kaliyuga sudah mencapai 5200 tahunan dan sudah memasuki masa akhir. Dikatakan, “ Wali ikang jagat anyar, meresik ikang buwana, lima kang urip, satus kang tumbal ing pati.“ Sabda ini seirama dengan “ Wong Jowo tinggal separo, wong Chino tinggal sajodo” (penggalan Kutuk Sabdopalon Nayogenggong). Bisa dicurigai mitos kebangkitan Majapahit akan seiring dengan peralihan jaman.

Wali ikang jagat anyar, bumi akan memasuki peradaban baru. Meresik ikang buwana, akan terjadi pembersihan bumi. Sistim alam sedemikian canggihnya, semua ada detail waktu. Menurut para ahli; bumi sedang memasuki cakrawala garis waktu yang disebut photon belt area. Area ini mengandung gelombang elektro magnetik yang lebih padat dari area cakrawala sebelumnya. Sehingga sinar matahari terasa lebih panas. Hal itu bukan semata karena efek rumah kaca.

Sebab faktanya, justru langit yang terekspos polusi karbon akan bersinar lebih redup, tidak sepanas dibandingkan daerah berlangit biru. Para ahli terbelah pro-kontra dalam isu ini. Dipilihnya efek rumah kaca sebagai kambing hitam memang cukup beralasan. Paling tidak, membawa efek baik buat bumi, upaya penghijauan lebih digalakkan. Naiknya suhu yang ektrem ini, mengundang datangnya awan cumulus nimbus yang menjadi biang angin kencang serta hujan amat lebat. Bencana banjir pun tak terhindarkan.

Masuk ke photon belt area, seperti efek microwave oven. Isi perut bumi semakin panas dan kian bergejolak. Akibatnya, meningkatkan frekwensi dan intensitas gempa, tsunami, serta merangsang aktivitas gunung berapi. Jangan lupa, dalam konsep menyatunya buana agung dengan alit; memanasnya perut bumi, membuat amarah manusia mudah tersulut. Belum lagi, badai matahari, dengan coronal mass ejection nya. NASA pun kesulitan menebak dampak yang ditimbulkan. Mereka hanya meramalkan badai matahari kali ini lebih besar dari sebelumnya.

Lima kang urip, satus kang tumbal ing pati ; akan banyak korban berjatuhan saat proses pembersihan alam.

Dalam tulisan ini, saya tidak sedang mencari sensasi, atau mencoba menakut-nakuti. Namun, lebih mengajak mencermati dan mengantisipasi sebuah kejadian mega besar di depan mata, yang kemungkinan akan terjadi dalam waktu yang relatif dekat. Diibaratkan sedang mengamati detik-detik proses matahari terbit. Pada saat itu, diusahakan mata tak berkedip menatap indahnya matahari merangkak perlahan. Selanjutnya, harus cepat sadar, jangan terlena, manakala sang surya telah benderang. Bila cara menatapnya masih sama, niscaya mata kita akan terbakar.

Terlepas dari apa pun pendapat Anda, inti dari tulisan ini adalah saya ingin mengajak pembaca untuk mengambil hikmah dari gonjang-ganjing isu kiamat dan gejolak alam yang tengah berlangsung. Jauh lebih bijak bila kita segera bertobat, siuman dari pingsan moral. Bertekad memuliakan diri dan hidup. Sebagaimana kita yakini bahwa Sanghyang Acintya ada dalam diri kita. Mari kita berucap selamat tinggal keedanan, selamat datang Satyayuga. Kita jalani hidup dengan berkecukupan hati. Kita songsong jaman berbahagia ini dengan limpahan syukur.

Oleh : Made Suryawan – Ketua Forum Studi Majapahit

Comments (1)

Refleksi, Mebakti, Mebukti

Tags: , , , , , , ,

Refleksi, Mebakti, Mebukti

Posted on 14 December 2012 by Rygun

Tabanan 7 Desember 2012. Malam itu kajeng kliwon uwudan, sendirian menanti di Heion, kami berencana melakukan tirtha yatra ke Pura Batukaru Tabanan bersama teman – teman komunitas. Akhirnya berkumpul 4 orang, yaitu Wahya Biantara, bli Putra sedana, Gede Sinu (gede sleeper) dan saya sendiri. Berangkatlah kami menuju ke Pura Batukaru. Sesampainya disana ternyata bli Dek Enjoy telah menanti.

Lengkaplah malam itu kami 5 orang melangkahkan kaki menuju Pura. Kurang lebih waktu pun menunjukkan pukul 22.00 WITA dan perjalanan kami mulai menuju Pura Beji. Terasa suasana yg berbeda malam itu. Kami pun melangkah. Namun sedikit mengejutkan bagi kami, setelah beberapa langkah kami berjalan, seekor ular datang menyambut kami dan berjalan didepan kami semua. Kami pun berjalan agak minggir, seraya memberikan ia ruang. Setibanya di beji, kami pun melukat di sumber mata air sebelum menuju pura untuk persembahyangan.

Bagi beberapa teman mungkin merasakan hal yang berbeda saat sembahyang di Pura Beji, dan saya pun merasakannya. Namun kami tetap maturan Pejati dan banten yang sudah dibawa. Suasanayang sangat tenang dan hanya terdengar gemericik air dan jangkrik di suasana malam, menguatkan suasana mistis persembahyangan dan meditasi malam itu. Seusai dari Pura Beji, persembahyangan dilanjutkan ke Pura Utama Batukaru di atas, dan terlihat ada beberapa orang yang telah nangkil sebelum kami datang.

Setelah disiapkan segehan dan banten Pejati, persembahyangan pun dimulai. Perenungan kedalam diri, (refleksi),  berdoa dan bersyukur (mebakti) ,  mengingat apa saja yang sudah kami lakukan selama 2012 sesuai swadarma masing-masing (mebukti) pun tak luput terlintas dari pikiran selama persembahyangan berlangsung.

Setelah nunas tirtha dan bije, terasa segar dalam diri ini, itu yang saya rasakan. Apalagi dengan banyaknya pemikiran tentang kesejajaran planet-planet yang kabarnya akan terjadi pada 21-12-2012 sesuai ramalan Suku Maya di akhir Tahun 2012 ini. Semakin menambah nuansa yang berbeda bahwa semuanya akan mencari titik keseimbangan (Balance). Begitu pun manusia yang sudah mampu menyeimbangkan hubungan secara vertikal (maturan, bakti, yadnya) dan horisontal (membantu sesama, aksi sosial, dana punia) dalam benakku.

Agak lama kami berada di Pura Utama Barukaru, kemudian kami pun menuju ke luar Pura dan melangkahkan kaki menuju Pura Dalem di sisi luar. Kali ini hanya kami berlima, tidak ada siapapun kami temui diperjalanan maupun disana. Banten pun dipersiapkan dan persembahyangan kami mulai. Hening, waktu pun tak terasa sudah pukul 00.00 WITA. Selesainya bersembahyang, kami berlima menuju tempat petugas penjaga Pura Batukaru yang berada dibagian timur parkiran pura, sambil menyantap “prasadham”  banten yang tadi kami bawa. Disini pun mengalir berbagai diskusi dan topik-topik hangat seputar Tabanan maupun topik di grup facebook Talov.

Apa yang sudah dilakukan selama ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Semua saling berbagi tentang pandangannya masing-masing mengenai, apa itu Talov, mengapa harus muncul Talov, mengapa ia tidak berbentuk seperti ada dan tiada, abstrak namun konkrit, walaupun ada di dunia maya namun ada di aksi nyata dan sebagainya.

Ternyata disana lah muncul jawabannya, banyak orang yang ingin membangun Daerah yang dicintainya. Dengan jumlah grup Talov yang sekitar 2489 member (update 8 Des 2012) muncul pula banyak Harapan.

“Membangun desa dari petani adalah dengan membentuk masyarakat agar merasa bangga dengan tugasnya. Bentuklah harapan, buat mereka menjadi pejuang bahkan pahlawan,” saut Dek Enjoy.

“Misalnya kalau nelayan berikanlah ia kail, bukan ikannya. Jika ada dana bantuan pemerintah sebaiknya diperuntukkan membeli hasil panen petani agar masyarakat menjadi benar-benar bergairah. Sehingga tidak akan ada lagi muncul petani yang menjual tanahnya demi bangunan vila, hotel dan lain sebagainya, hanya karena desakan ekonomi dan tidak adanya generasi muda yang mau turun ke sawah untuk mencangkul.” imbuhnya lagi.

Berbagai alasan mesti ditepis. Bayangkan bila semua masyarakat menjadi beralih profesi ke kota semuanya. Siapakah yang akan menanam padi di sawah, apa yang anak cucu kita akan makan nantinya. Bagaimana bila semua orang menganggap pekerjaan kantoran itu bergengsi?
Sepertinya kita harus banyak belajar dari masyarakat desa. Karena merekalah yang benar-benar hidup hemat. Merakalah yang benar-benar kaya. Kita di kota adalah masyarakat miskin sebenarnya. Kita bukanlah siapa-siapa kalau tidak ada masyarakat di pedesaan. Karena beras dan sumber pangan sebagian besar berasal dari sana.\

Hidup memang saling melengkapi, saling membutuhkan. Jadi mari biarkan semuanya berjalan sesuai swadharma masing-masing dan dijaga keseimbangannya jangan sampai ada yang berat sebelah. Misalnya pembangunan perumahan lebih banyak daripada lahan untuk menanam sumber pangan. Bila perlu didukung sepenuhnya untuk menumbuhkan harapan menjadi maju bersama-sama yaitu masyarakat desa dan masyarakat kota.

Semoga Talov bisa memberi secercah harapan bagi banyak pihak sesuai tugas dan kewajibannya semua anggota / member di bidang pekerjaannya masing-masing. Tidak ada kata SIBUK (alasan klasik 5 huruf) karena menurut bli Dek Enjoy justru Orang yang mampu mengurus Orang lain (menolong sesama) memiliki waktu sibuk lebih banyak (karena selain ada waktu untuk dirinya sendiri ia sudah mampu membantu diri orang lain).

Orang yang Sibuk dengan dirinya sendiri maka Semesta Alam Mendukung untuk membuat orang tersebut lupa waktu karena sibuk terus mengurusi dirinya. tidak memiliki waktu untuk orang lain.

Namun apabila niat sudah muncul dalam diri orang tersebut “Bahwa ia tidak SIBUK” , maka sesibuk apapun ia akan mampu mengaturnya karena Alam Semesta akan mendukung mewujudkan Niatnya tersebut. Bahkan Hujan mendung petir sekalipun tidak akan mampu menahan NIAT orang tersebut untuk hadir dalam acara-acara TALOV, karena Alam Semesta akan mendukungnya itulah kekuatan “Alam Bawah Sadar” (pikiran manusia).

Percaya tidak percaya .. Percayalah, dan Perhatikan Apa Yang akan terjadi.

Salam Namaste
“Semoga Pikiran Dan Dukungan Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru”

Rary  Triguntara, SKM
INSOMARI BALI

 

 

Comments (1)

Makna Sebuah Kata “Kelangen”

Makna Sebuah Kata “Kelangen”

Posted on 06 November 2012 by Made Nurbawa

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Seperti malam itu, seorang kawan bercerita makna satu kata yang kini masih menyatu dalam jiwa dan raga ku yaitu: “KELANGEN”.

KELANGEN jika dipandankan bisa bermakna “KEASIKAN”. Keasikan dalam konteks ini, bisa menyimpan sebait ego, lupa diri, lupa waktu, dan mungkin juga lupa umur, bahkan sudah mulai mendekati “Mabuk”.

Namun dalam pemaknaan lain “KeLANGEN” bisa berarti sebuah konsitensi sikap, kesungguhan atau ketekunan. Dibutuhkan keheningan jiwa untuk memaknainya. Perbedaanya sangat dekat tipis namun ekstrim. “Ibarat batas gelap dan terang sebuah bayang-bayang”, hanya keheningan dalam kesadaran lah hal itu bisa dibedakan.

Malam itu dijelaskan, saya dan mungkin juga kita semua, sering KELANGEN dengan posisi dan fungsi tertentu. Karena kita KELANGEN maka, kita tidak sadar lagi akan sebuh kewajiban baru atau sebuah proses baru yang seharusnya sudah kita lakoni.

“Karena KELANGEN, kita menjadi tidak sadar, kita merasa sibuk dan disibukan tentang sesuatu dalam putaran waktu dan tempat yang sesungguhnya sama”, Padahal waktu seharusnya sudah menuntut agar kita berpindah, berubah menuju kesadaran berikutnya.

“Bagi yang sadar”, dalam masa peralihan dari tahapan satu ke tahapan kedua, ketiga dan seterusnya pun akan terjadi sesuatu yang sering kali “sulit” atau bahkan “ekstrim”. Misalnya, contoh yang sederhana, bisakah kita berhenti makan sebelum kenyang? Bisakah kita menjadi atau memilih menjadi orang biasa ditengah karier yang sedang gemilang? Bisahkan kita berhenti hening ketika ajakan menggiurkan datang tiada henti? Bisakah kita mengatakan cukup saat sesuatu sedang dan masih mengasikan? Bisakah kita menjadi ikhlas dan nyaman ketika banyak masalah mendera? dan seterusnya.

Demikian lah malam itu, sebuah diskusi sederhana dengan simpulan yang sangat tidak sederhana. Dan saya jadi menyadari bahwa saya masih sulit melakukan hal-hal yang sederhana itu.

Lalu bagaimana caranya menuju kesadaran dan kesederhanaan itu? Kawan saya memberikan tips yaitu; “MARI BELAJAR MELUPAKAN, IKHLAS, HENING !”. Karena “KELANGEN” hanya bisa diurai dalam jiwa-jiwa rasa-“Pengrasa”. Suksme.

Dipesisi Radius Subak Kuta Pala
1 Nop 2012
Made Nurbawa

Comments (0)

Sekolah Alam Usia Dini di Perkotaan

Tags: , , , , ,

Sekolah Alam Usia Dini di Perkotaan

Posted on 02 September 2012 by Made Nurbawa

Di wilayah perdesaan Tabanan, berada di ruang terbuka hijau seperti : hutan, sungai, tegalan, kebun, dan atau lahan pertanian lainnya bukanlah hal asing bagi murid sekolah. Tapi di kota yang pemukimannya semakin padat, maka lahan/ruang terbuka hijau semakin dirindukan dan dibutuhkan.

Jika kita sebut sekolah, maka proses pembelajaran pun bisa berlangsung sebagai pelajaran tambahan. Akomudasi, Kurikulum, Bahan Ajar dan Tenaga Pengajar pun sangat mungkin disediakan. Ditahap awal bisa melibatkan tenaga relawan secara bergantian. Membuatnya pun tidak mesti di atas lahan sendiri saja. Sepertinya akan lebih bagus dan luas jika bisa dikembangkan secara kolektif bersama para tetangga pemilik lahan lainnya.

Anak-anak bisa diajak mengenal burung, tanaman, dan buah-buahan lokal. Atau kandang kambing, sapi dan ayam. Juga bersama belajar membuat kebun organik, memetik sayur dan juga membaca dan bermain.


“Semoga buah Kepundung, buah Juet, buah Boni, buah Gatep, Buah Sentul dan sebagainya masih diakrabi oleh anak-anak Kota Tabanan di Tabanan”. Tiket masuknya pun dihargakan sepantasnya. Jika dikelola profesional, aman dan nyaman, niscaya berkelanjutan. Ada yang ingin memulai? Saya mendoakan!

Comments (1)

Telusur Kota Tabanan Tempo Doeloe

Tags: , ,

Telusur Kota Tabanan Tempo Doeloe

Posted on 02 July 2012 by yandi

Semingguan ini sampai dengan saat ditulisnya artikel ini, geliat anggota Talov terfokus kepada postingan foto-foto Tabanan tempo doeloe. Sebenarnya penulis sudah memulainya sejak 2011 dan berencana untuk mengadakan pameran foto, dan bahkan rekan lain sudah meminta dan mendapat ijin dengan salah satu museum Belanda untuk merepro foto-foto yang dibutuhkan. Namun karena kendala waktu dan beberapa hal saat itu kami menunda tema acara tersebut.

Dan kini kembali semangat itu merebak. Anggota Talov sangat antusias untuk melakukan napak tilas terhadap Tabanan di masa-masa silam. Dan ini tentu hal yang sangat positif agar generasi muda dan penerus, dapat melihat sisi-sisi lain Tabanan di masa lalu.

Di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta komunitas yang mengkhususkan diri di bidang wisata budaya masa lalu menjadikan kegiatan mereka sebagai media pembelajaran, wisata sejarah, dan tidak jarang memperbaiki informasi yang sudah terlanjur beredar.

Di Surabaya salah satu cagar budaya, bahkan berhasil dikoreksi oleh komunitas ini berbekal hasil reka-reka ilmiah dari hasil menyambung berbagai data-data baru seperti foto, kartupos, surat kuno, dan sebagainya yang serta merta saja muncul dari para anggotanya. Tentu luar biasa menggembirakan, karena generasi penerus menjadi lebih paham tentang kota mereka.

Hari ini kita bisa melihat di postingan group Talov berbagai foto-foto masa silam muncul, dan bukan tidak mungkin dari sana para orang tua yang masih mengenyam kehidupan di masa tersebut bisa saja menjadi referensi untuk membuka ‘rahasia’ masa lalu kota Tabanan melalui ingatan mereka.

Saat ini masih menjadi misteri bagi  kebanyakan warga dimana sebenarnya posisi Catuspatha kota Tabanan mengingat di kota-kota lain Catuspatha-nya tegak berdiri hingga kini. Ada juga misteri seberapa luas sebenarnya Puri Tabanan? Ada juga ‘jalan’ yang hilang di beberapa lokasi.  Atau adakah yang pernah melihat bagaimana wajah Raja Tabanan di masa lalu, atau melihat gambar/foto Sagung Wah? Hal ini tak lain disebabkan karena minimnya informasi tentang sejarah Tabanan disamping juga kurangnya upaya untuk mengangkatnya menjadi sebuah sumber sejarah yang layak.

Adakah yang memiliki foto-foto jaman dulu, tunggu saatnya jika waktu dan tempatnya mengijinkan, Talov akan mengadakan pameran foto-foto jaman dulu, dan mungkin suatu saat bisa dilakukan suatu diskusi santai dengan para pakar sejarah dan penggemar wisata tempo doeloe untuk mengupas suatu sejarah berdasarkan foto-foto atau peninggalan-peninggalan lainnya. Keinginan tersebut diiyakan oleh member Talov, “sekiranya pameran photo bertajuk Tabanan riwayatmoe doeloe……..akan sangat menarik, semoga bisa terwujud……..astungkara“, kata Pak Tos Partha pada salah satu postingannya yang juga mendapat response menarik.

Pendapat lain mengemuka di satu sisi yaitu masalah tempat. “Pameran foto di tabanan utk saat ini permasalahan utamanya hanya satu, tempat yg representatif utk pameran blm ada (mungkin saya blm tahu),” imbuh Nengah Januartha salah satu anggota yang juga penggiat komunitas fotografer Tabanan.

Ingin berkontribusi tentang dimana posisi Catuspatha Tabanan sebenarnya?

Ada ide tentang acara pameran foto Tabanan Tempo Doeloe sebaiknya diadakan dimana?

Postingkan komentar Anda pada kotak komentar di bawah, facebook, atau twitter Talov.

Comments (4)

Sosial Media Sarana Komunikasi Alternatif antar Warga Kelas Menengah

Sosial Media Sarana Komunikasi Alternatif antar Warga Kelas Menengah

Posted on 23 June 2012 by gustulank

Sambil ngopi pagi ini saya iseng baca-baca diskusi di beberapa group FB salah satunya Talov. Topik yang ramai didiskusikan adalah seputar pelayanan publik, fasilitas umum, dan masalah pembangunan.

Media Sosial

Sosial media telah muncul sebagai sarana komunikasi alternatif antar warga kelas menengah. Saya tekankan kelas menengah, karena kelas bawah prioritasnya untuk bertahan hidup dan kelas atas prioritasnya mempertahankan kekuasaan. Suara-suara sumbang dan lantang dalam media sosial ibarat gelembung-gelembung udara dalam minuman bersoda. Melayang dari dasar botol lalu menguap dipermukaan. Ditambah lagi fenomena klik aktivis yang sedang booming lengkap sudah.

Setelah ruang-ruang diskusi alternatif terbuka dengan menipiskan batasan ruang dan waktu tentunya kekayaan arus informasi adalah hal yang patut disyukuri dan dipergunakan dengan bijak. Setiap informasi yang didapat bisa digunakan untuk memperkaya pemahaman suatu fenomena. Apapun fenomenanya.

Saluran semakin lebar terbuka. Kini provinsi Bali sudah memiliki Komisi Informasi yang bertugas melaksanakan UU No 14 tahun 2008 tentang  Keterbukaan Informasi Publik. Di Bali telah terbentuk kantor perwakilan Ombudsman RI untuk menunjang pelaksanaan UU No 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Denpasar sudah memiliki Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk menyelesaikan persoalan sengketa antara konsumen dan produsen/penyedia layanan.

Pertanyaannya sekarang, Apakah diskusi-diskusi alternatif media sosial hanya akan berakhir didalam pixel-pixel layar monitor? Jalur alternatif sudah ada, saluran resmi sudah tersedia. Lalu, alasan apa lagi yang akan menghentikan tindaklanjut dari diskusi-diskusi ini?

Perlu goncangan keras untuk menyatukan gelembung-gelumbung udara dalam minuman bersoda untuk menghasilkan daya dorong yang lebih kuat. Goncangkan. Lebih Keras. Dan lebih keras lagi.

Untuk mereka yang percaya hari esok bisa lebih baik.
gt

Comments (0)

Harapan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Negara

Harapan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Negara

Posted on 22 June 2012 by Made Nurbawa

Harapan masyarakat dalam penyelenggaraan negara adalah adanya pelayanan publik yang nyaman, adil dan mensejahterakan. Nampaknya harapan warga negara tersebut saat ini belum selaras dan dirasakan. Sehingga muncul kritik terhadap penyelengaraan negara oleh aparatur negara yg merujuk pada aturan hukum formalistik. Namun mengapa hal itu belum juga mampu menjawab harapan masyarakat? dan apa pula kaitannya dengan dibentuknya ratusan komisioner di republik ini?

Antre Minyak Tanah

Beberapa tahun lalu, ketika mulai marak dibentuknya Lembaga Negara Independent (KOMISI ini dan komisi itu), dalam sebuah diskusi antara Bapenas, Depdagri, DPR dan lembaga keuangan internasional, dapat saya simpulkan “dengan sembarang” bahwa; kehidupan bernegara saat ini tidak lepas dari dampak globalisasi. Hal itu nampak dari banyaknya kerjasama antara negara dan ratifikasi peraturan international oleh negara kita.

Nampaknya ratusan UU dan peraturan di Indonesia dan di negara lain yg saling bekerjasama sulit diselaraskan dan dipertanggungjawabkan secara konstitusional di dan oleh masing-masing negara. Sehingga ada jebakan aturan yang mempersulit adanya pola kerjasama dan koordinasi dalam implemenasi program (contohnya pencairan dukungan dana sosialisasi pemilu oleh UNDP). Dari kasus itu, banyak gagasan kerjasama program antar negara menjadi sulit dijalankan karena benturan hukum tadi. Terutama dalam kerjasama dukungan dan pertanggungjawaban keuangan. Terlebih lagi adanya ketidak percayaan beberapa negara akibat maraknya kasus “korupsi” di Indonesia.

Nah, mendesaknya kebutuhan penyelarasan pola kerjasama dan koordinasi antar negara ditengah arus reformasi, globalisasi, anti korupsi, demokratisasi, ketidak percayaan asing dan ketergantungan utang luar negeri termasuk dana-dana program negara, nampaknya akan bisa “dijembatani” oleh lembaga negara independent (KOMISI) yg memiliki otoritas/kewenangan dalam proses penyesuain yang di butuhkan oleh dan antar negara (yang terbungkus dalam isu demokratisasi dan transparansi, dan akuntabilitas publiki).

Saya memperkirakan mungkin pilihan ini dilakukan, karena pembentukan dan pembubaran komisi (suatu saat) diangap lebih mudah dan murah secara politik ketimbang “meng-amandemen UU dan departemen” (sekarang kementrian) yg ada saat ini. Apa yang sudah bagus di birokrasi pemerintahan dan yang bagus di tingkat gagasan publik bisa diselaraskan. Dan kebutuhan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di beberapa negara lainya. Nah, benar atau tidak, mari kita verifikasi lagi.

Mudah-mudahan saja pilihan dibentuknya komisioner diberbagai bidang, bisa menjawab kebutuhan publik di negeri ini. Bukan sebaliknya menjadi piranti dominasi kepentingan kelompok/negara yg berkuasa.

Comments (0)

Mengurai Filosifi Air dan Nangluk Merana Para Subak Jagat Tabanan

Mengurai Filosifi Air dan Nangluk Merana Para Subak Jagat Tabanan

Posted on 18 June 2012 by Made Nurbawa

Pembangunan dan penataan wilayah Tabanan dari jaman kejaman, tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dan penataan spiritualitas dari generasi ke generasi. Penataan yang mendekatkan perhatian dan pengertian beragama dengan memandang bahwa jagat Tabanan bagaikan Bhuana Agung yang hidup tak henti-hentinya menganugrahkan kesejahteraan dan kebahagiaan sepanjang zaman. Sebagai bhuana agung dalam pengertian umum dapat di bagi menjadi tiga yaitu; Utama Mandala, Madya Mandala, Kanista Mandala. Ketiganya adalah “Sikut” jagat Tabanan.

Petani di Gunung Batukaru

Petani di Gunung Batukaru

Selanjutnya, keyakinan atas konsepsi spiritualitas bhuana agung oleh masyarakat Tabanan (Bali), kita mengenal adanya “Aktivitas Sanghyang Tumuwuh”, yaitu; aktivitas atau gerakan ritual umat manusia, mewujudkan hidup dan kehidupan yang dilandasi tuntunan nilai-nilai alam atau hukum alam (Rta). Dijalankan dengan selaras dan padu antara keyakinan lokalitas dan global untuk mencapai tujuan hidup.

Dalam penggambaran tersebut, manusia menyadari bahwa manusia hanya dapat merencanakan, mengerjakan dan mengharapkan, Tuhanlah yang menentukan. Kehidupan manusia hanya sebagain kecil saja dari kehidupan dunia, tumbuh-tumbuhan dan  alam semesta. Menyadari kehidupan spiritual seperti itu  maka Para Petani (para Subak) menyungsung Ida Bhatara Sanghyang Tumuwuh, melakukan aktivitas upacara ritual di pura Khayangan Jagat. Di Tabanan tentu di Pura-Pura Khayangan Jagat se-Kuwuban Pura Luhur Watukaru.

Di Tabanan, konsepsi penghormatan Sanghyang Tumuwuh tersebut pasti erat kaitannya dengan upacara penghormatan air, baik sumber/mata air, aliran air, air baku, sungai, danau, laut, air suci (tirta) dan sebagainya. Karena air lah kehidupan menjadi ada.

Upacara tersebut antara lain (Bappeda Tabanan, 2003):

  1. Nanggluk Merana; Upacara ini di lakukan di tepi laut, dengan tujuan memohon kepada Tuhan dalam manefestasinya sebagai penguasa laut (Baruna) agar terhindar dari hama dan penyakit.
  2. Pekelem di Danu-Ngusaba di Ulun Danu. Memohon keselamatan Dewi Danu (Gangga), Tuhan dalam manifestasinya penguasa air tawar. Upacara ngaturang pekelem dilakukan di danau,misalnya danau Beratan, Batur atau Tamblingan.
  3. Magpag Toya atau Mendak Toya (air); dilakukan Para Subak, bertempat di sumber air (bendung), dengan maksud “menjemput” air (memohon air) kepada sang Pecipta, untuk menghidupi Sarwa Prani (semua bentuk kehidupan).

Upacara diatas dilakukan untuk memohon kehadapan Ida Bhatara Sanghyang Tumuwuh agar menganugrahkan keselamatan hidup melalui sarana (SDA) air. Kehidupan tidak akan lestari bila air tidak sempurna. Oleh Para Subak yang bekerja di sektor pertanian, tentu air adalah prasyarat utama untuk mengairi sawah, kebun dan tanaman pertanian lainnya.

Lebih jauh, berangkat dari keyakinan dan konsepsi bhuana agung diatas, jelas pengertian “Para Subak” bukan hanya sebatas petani, sawah dan atau produk pertanian saja, tapi lebih jauh lagi.

“Subak adalah; satu kesatuan mata rantai keyakinan oleh seluruh unsur/profesi masyarakat Tabanan (Bali) akan hakekat hidup dan kehidupan dari Sang Pencipta (Sanghyang Tumuwuh)”.

Dalam prakteknya, sebut saja petani;  petani membutuhkan pengakuan, perlindungan, dan kebijakan yang adil dari penguasa/pemerintah dalam pemanfataan lahan, pajak, dan jaminan sosial lainnya. Petani pun membutuhkan sarana dan prasarana seperti pupuk, peralatan, infrastruktur jalan, transportasi, dan sebagainya yang tentu bukan di buat langsung oleh petani. Pun dalam tata kelola air misalnya; baik “air sumber” maupun “air baku”, petani, masyarakat, dan aparatur pemerintahan yang ada di dalam berbagai struktur sosial dan politik harus bersatu padu dalam satu visi dan misi pemanfaatan yang adil dan seimbang bagi seluruh kehidupan di Jagat Tabanan.

Demikian juga dalam hal pelaksanaan upacara keagamaan, petani, masyarakat, pengemong, pemerintah, dan masyarakat dalam berbagai profesi harus bersatu padu dalam satu pemahaman dan keyakinan yaitu; penghormatan terhadap kemuliaan Tuhan-Ida Bathara Sangyang Tumuwuh.

Berangkat dari pengertian diatas, Subak dan atau Para Subak saya yakini sebagai sebuah tatanan dan segala bentuk profesi yang bersentuhan atau bekaitan langsung maupun tidak langsung dengan pengelolaan alam (tata ruang) yang berke-Tuhan-an.  Dengan kata lain, segala aktivitas atau profesi yang hidup dan menghidupi Sarwa Prani baik dalam swadharmanya sebagai petani, karyawan, guru, undagi, seniman, sarathi, DPRD, bahkan bupati dan sebagainya.

Berikutnya, di Tabanan kita mengenal adanya upacara suci Nangluk Merana, yaitu; salah satu prosesi upacara yang selama ini “dipersepsikan lebih dekat” dengan kehidupan masyarakat pertanian. Sehingga Nangluk Merana lebih dipahami tidak jauh-jauh dari sebatas penanggulangan hama, seperti: wereng, tungro, walang sangit,  tikus dan hama lainnya. Belakangan upacara Nangluk Merana juga dilaksanakan terkait adanya wabah ulat bulu.

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian (Wikipedia).

Namun jika kita kembali kebelakang dengan adanya keyakinan dan konsepsi spiritualitas bhuana agung oleh masyarakat Tabanan (Bali), termasuk adanya “Aktivitas Sanghyang Tumuwuh”, yaitu; aktivitas atau gerakan ritual umat manusia, mewujudkan hidup dan kehidupan yang dilandasi tuntunan nilai-nilai alam atau hukum alam (Rta), termasuk nilai agama dalam mencapai tujuan hidup, maka sudah saatnya “hama (merana)” bukan lagi dipandang sebatas hama di sawah atau dilahan pertanian saja.  Tetapi “hama (merana)” bisa di maknai sebagai segala aktivitas yang bisa merusak ekosistem dan tananan kehidupan masyarakat Tabanan lainnya.  Termasuk pelangaran terhadap hakekat nilai-nilai leluhur (para Resi) yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan (Rta), nilai-nilai pemerintahan (Kebijakan publik) dan nilai-nilai pengelolaan (kegiatan/upacara).

“Jika kita kaitkan dengan kehidupan kekinian, maka hama (merana) boleh dikatakan segala sesuatu yang bisa menimbulkan kesengsaraan, penderitaan, kemiskinan, keterpurukan dan sejenisnya”.

Misalnya dalam nilai-nilai kehidupan, adanya aktivitas pemanfataan ruang yang melanggar bhisama tentang “sikut” jagat Tabanan, jelas dapat menimbulkan hancurnya ekosistem sumber daya alam sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.  Dalam hal pemerintahan pun, adanya kebijakan pemanfataan SDA air yang tidak benar bisa juga akan menimbulkan bencana kekeringan, gagal panen, dan kelaparan.

Termasuk kebijakan lain yang tidak pro rakyat, korupsi, nepotisme dan kebijakan pelayanan publik  lain yang berpotensi menimbulkan penderitaan dan kemiskinan rakyat. Selanjutnya dalam hal upacara/yadnya jika dilakukan tanpa dilandasi pemahaman dan hakekat yang seimbang, maka tidak jarang akan menjadi beban dalam pembiayaan, bahkan tidak sedikit menimbukan keretakan keluarga yang bermotif ekonomi.

Sebagi contoh : mungkin kita pernah mendengar adanya kebijakan pembagian “bibit padi unggul”, setelah ditanam oleh petani ternyata hanya menjadi santapan lezat hama wereng dan tunggro. Tentu tidak bijak jika perhatian kita hanya fokus pada keberadaan dan penanganan hama werengnya saja, tapi dibalik itu bisa jadi ada motif “pragmatisme pribadi” atau kebijakan yang kurang manut atau dilandasi oleh persepsi dan konsepsi “Sanghyang Tumuwuh” yang ikhlas, jujur dan sesungguhnya (saje, seken, dadi). Dan banyak lagi contoh kasus lainnya.

Singkat kata semoga keyakinan, persepsi dan prosesi oleh “Para Subak” di jagat Tabanan, tetap menyeimbangkan antara “filosofi air”  sebagai sumber dan guru kehidupan. Sementara pemahaman tentang “filosofi merana” tetap menyadarkan kita untuk tetap hati-hati, jujur, taat hukum, dan profesional,  sehingga terhindar dari ancaman kehidupan. Kearifan-kearifan Jagat Tabanan semuanya sudah disiapkan dan dititipkan oleh leluhur dalam sebuah struktur, kultur dan konsepsi besar yang terangkum indah dalam keyakinan dan penghormatan terhadap Ida Bhatara Sangyang Tumuwuh. Bahkan sudah dituliskan dalam berbagai sumber.

Mudah-mudahan asal muasal upacara Nangluk Merana terkait dengan pertanian, seperti apa yang disebutkan dalam buku Dharma Pemaculan, tidak dipahami sempit dan sembarang. Sehingga dari Tabanan lahir insan-insan pembangunan yang mensejahterakan dan mendamaikan jagat Tabanan, Bali, Nusantara bahkan Dunia. “Mari kita Bangun Tabanan dari Tabanan, di Tabanan dan untuk Tabanan! Puput (MN).

Tabanan, Minggu, 17 Juni 2012
Oleh:
Made Nurbawa
(Petani, Dari Banjar Dajan Ceking-Desa Belatungan-Pupuan Tabanan).

Comments (0)

Jangan Biarkan Lulu Menyerbu Hulu

Jangan Biarkan Lulu Menyerbu Hulu

Posted on 21 May 2012 by Made Nurbawa

Lulu (sampah) sekarang sudah menjadi masalah yang meresahkan. Terutama sampah plastik. Got, telabah, dan tukad dipastikan tidak bebas lagi dari sampah plastik. Plastik tidak mudah hancur dalam tanah sehingga mencemari tanah dan lingkungan.

foto diambil dari yellowcoconut.multiply.com

Saat ini pola hidup dan konsumsi rumah tangga merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap adanya timbulan sampah plastik. Rumah tangga adalah produsen sampah terbesar. Diperkirakan rata-rata produksi sampah per orang per hari sekitar 1 liter (satu ember kecil). Dan sekitar 10% nya merupakan sampah anorganik seperti plastik, karet, botol, dan lain-lain.

“Jika dicermati akhir-akhir ini aktivitas upacara dan persembahyangan pun sudah berpotensi menimbulkan timbulan sampah plastik. Mulai dari plastik pembungkus dupa, pembungkus canang, makanan, minuman, dan lain sebagainya”

Pemandangan yang lumrah kita temui saat atau sehabis piodalan atau puja wali di beberapa Pura, timbulan dan timbunan sampah plastik pasti terjadi dalam jumlah yang semakin mencemaskan saja. Kondisi ini sudah saatnya menjadi perhatian serius bagi bagi Krama Bali, Pemedek dan atau Pengemong Pura.

Secara spirit dan filosofi sosiologis serta geografis (tata ruang), Pura di Bali merupakan “Hulu” atau “Sumber” atau “Pusat”. Bisa juga bermakna “Guru” atau yang “Tertinggi” (gunung) atau yang “Tersuci”. Jadi Pura atau tempat-tempat suci lainnya merupakan kawasan yang “diyakini suci”. Dengan kata lain, Pura di bangun di kawasan hulu yang diyakini suci oleh orang Bali.

“Jika demikian halnya maka aktivitas yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dikawasan hulu, sudah saatnya harus dikurangi dan dihentikan!” Salah satunya dengan jalan mengurangi penggunaan bahan upakara/persembahyangan dari bahan plastik. Kalaupun terpaksa menggunakan bahan dari plastik, maka setiap pemedek sudah sewajibnya membawa kembali plastik itu pulang ke rumah dan dibuang ditempat yang  benar.

“Prajuru Desa/Pura pun diharapkan selalu memberi petunjuk dan mengingatkan pemedek, kemana, dimana dan bagaimana seharusnya sampah plastik dikelola di kawasan suci dan atau tempat suci”.

“Dumun yening wenten Piodalan krama pemedek di Bali sampun biase makte tipat, entil, saur nyuh mekaput don biyu. Canang lan Gebogan pun mewadah Sok Kasi”. Ternyata dulu perlengkapan upacara dan makanan berasal/dibuat dari bahan-bahan organik (bahan alami yang mudah terurai).  Karenanya timbulan sampah plastik pun tidak terjadi seperti saat ini.

Apa yang dilakukan oleh tetua (leluhur) kita dulu ternyata dilandasi oleh kesadaran dan keyakinan untuk hidup sederhana agar dapat menjaga dan saling hidup menghidupi bersama alam.

Sehingga Hulu tetap memberi spirit kesucian, air dan sungai pun tetap mengalir bersih dan layak minum, flora dan fauna pun hidup saling melengkapi. “Dan tentunya tidak perlu membuang uang rakyat (APBD) untuk mengurus sampah plastik dan atau sibuk membuat Perda. Apalagi harus mengangkat dan menggaji puluhan tenaga kerbersihan untuk melaksanakan peraturan dan aturan yang berlaku”.

Hakekat Upacara, Upakara dan adat Bali sesungguhnya merupakan rangkuman tuntunan hidup bagi umat manusia dalam mengelola alam yang seimbang. Maka, akan sangat disayangkan jika tuntunan itu berubah menjadi “tontonan” belaka, atau “wewalihan” semata hanya demi konsumsi Pariwisata Budaya.

“Menghormati kesucian Hulu sama hartinya hormat kepada Guru. Hilangnya Hulu atau Guru berarti hilangnya tuntunan hidup alias “Paling” (bingung). Yening kenten,  ngiring mangkin sareng-sareng mewali, Eling lan Ngelingan Ngulati Bali yang Wali !”. “Jangan biarkan lulu menyerbu Hulu!”(MN).

Comments (0)