Dulu pernah berdebat keras dengan Iwan, jaman penggarapan album Kantata Takwa. Iwan ngotot bilang gak nyampe suaranya. Aku ngotot bilang nyampe. Iwan take lagi dan ternyata nyampe. Sehabis rekaman Iwan langsung cabut; masih kesal.
Itulah salah satu kisah yang diceritakan Sawung Jabo, atau biasa kami panggil mas Sawung, seorang seniman kawakan Indonesia di Cleo Studio, Tabanan, Bali kemarin (kamis,19 april 2012) sore. Iwan yang dimaksud tentu Iwan Fals. Topik saat itu adalah tentang ‘maunya lagu’. Maksudnya gini : sebuah lagu pada dasarnya bisa saja kuncinya direndahkan untuk mengakomodir jangkauan vokal penyanyi, atau sebaliknya dinaikkan.
Sering terjadi, sebuah lagu pada dasarnya memang harus dinyanyikan di kunci standarnya. Itulah nada terbaiknya. Mood yang paling pas, sehingga kadang penyanyi harus melawan batasan, atau tepatnya batasan range vokal yang dia yakini.
Kalau masih tidak sampai, ya mungkin sebaiknya ganti vokalis :p. Pada kejadian legendaris tadi, Iwan Fals tidak yakin bisa menjangkau sebuah nada. Sawung memaksa. Dan ternyata bisa. Meski pulang dengan perasaan dongkol, besoknya Iwan datang sambil tersenyum, “ternyata gue bisa ya?”.
Obrolan santai berbau workshop di sore yang sejuk kemarin itu berlangsung seru. Teman-teman Sanggar Anak Angin yang hadir sekitar 12 orang, yang akhirnya menjadi 18 orang ketika malam menjelang. Tidak ada agenda khusus sebenarnya. Mas Sawung datang, ditemani Mbok Ayu Weda, ke Cleo Studio berbagi cerita dan apa yang dia yakini sebagai seniman, seperti biasanya, seperti yang terjadi selama setahun ini.
Tidak ada acara resmi atau seremonial. Santai saja mengalir selancar tawa lepas. Selancar guyonan iseng soal balada superstar, soal hal serius macam pilihan hidup menjadi seniman. Saya pribadi merasakan betapa Mas Sawung telah melepas atau bahkan mungkin tidak pernah memakai status “artis” nya. Berbicara dengannya seperti seorang sahabat yang kebetulan saja lebih tua 30 tahun.
Nama Sawung Jabo mungkin tidak akrab di telinga khalayak masa kini. Maklum, seteleh gegap gempita era Kantata Takwa, Kantata Samsara, Swami, Dalbo atau pun Kantata Revolver (supergrup yang line upnya musisi macam Iwan Fals, Yockie Suryoprayogo, Totok Tewel, Inisisri, Naniel, Nanoe ataupun seniman besar W.S Rendra dan pengusaha pecinta seni Setiawan Djodi), Jabo lebih banyak berkesenian dengan grup yang dia dirikan sejak era 80-an, Sirkus Barock.
Sirkus Barock sebenarnya secara rutin meliris album, walau untuk kalangan terbatas dan jumlah terbatas. Personel Sirkus Barock sebagian besar diisi oleh seniman seniman muda berbakat yang berdedikasi tinggi terhadap keyakinannya, musik dan seni. Ada Joel, seorang gitaris berpenampilan sederhana dari Aceh.
Ada Ucok, pemain biola berwajah garang tapi ternyata ramah dan bercita cita membuka warung kopi. Dan beberapa personil lain yang saya agak lupa namanya karena belum sempat berinteraksi lebih jauh. Mereka adalah sedikit dari sekian banyak kantong kantong seni yang kalau boleh dibilang “dibina”, diajak berinteraksi dan berkarya oleh Sawung di Indonesia.
Di Jawa Timur ada grup Langit, yang sudah menghasilkan karya album bersama Sawung. Di Jogjakarta ada Joglo Jabo, sebuah persembahan untuk sang maestro dari komunitas seni disana. Selain bermusik, Jabo sering diminta menjadi Juri festival musik, ataupun menjadi pembimbing workshop daya olah kreasi di beberapa daerah di Indonesia.
Kami termasuk yang beruntung pernah menjadi bagian dari workshop tersebut. Berlangsung selama seminggu di Tanah Lot pada April 2011 silam, banyak hal yang kami dapatkan. Yang sangat mengesankan tentu saja pengalaman tampil berkolaborasi bersama Jabo, Totok Tewel, Oppie Andaresta dan Ayu Weda di Taman Kota Tabanan sebagai puncak acara workshop membawakan lagu-lagu yang kami kerjakan selama workshop. Sebuah pelajaran hidup yang sangat berarti.
Pertemuan kemarin itu seperti biasa kami jadikan kesempatan untuk jamming (bermain bersamasecara dadakan), mengerjakan materi baru untuk album Anak Angin perdana. Sebelumnya sudah 2 lagu kami selesaikan lewat jamming serupa. Tapi tetap saja kami terkagum kagum melihat dan mengalami proses kreatif bersama Jabo.
Betapa lihainya dia menuntun, memancing kreatifitas dan keyakinan diri kami sehingga satu lagu lagi tergarap. “Balada Padamu Negeri” judulnya. Sebuah balada satir tentang negeri yang koyak tercerai berai, ya Indonesia kita tercinta, dengan aransemen nyeleneh khas Jabo. Sebenarnya, saat itu saya sedang sakit gigi parah. Menyanyikan nada yang tidak familiar dan tidak terduga arahnya, sudah cukup menambah pening.
Namun disitulah letak kerennya. Pada umumnya, siapapun akan terintimidasi oleh kehadiran seniman besar dalam proses kreatifnya, tapi saya tidak terintimidasi. Saya yakin teman yang lain (Iwan, Anang, Andre,Ompong) juga tidak. Kami berkreasi dengan semangat. Saya melupakan rasa sakit.
Lima (5) jam berlalu sungguh tak terasa. Semoga lain kali masih banyak kesempatan berkumpul dalam Lingkaran Aku cinta Padamu.
Salam Bathin, Guru Hidup. ACP (Aku Cinta Padamu)
Tabanan.20042012
Note : Salam Bathin dan ACP adalah salam akrab di lingkaran pergumulan seni Sawung Jabo






Komentar Terakhir