Tag Archive | "pendidikan"

Djik Djawir Menggagas UNACOB: Pesraman Dharmaning Vidya

Tags: , , , , , ,

Djik Djawir Menggagas UNACOB: Pesraman Dharmaning Vidya

Posted on 04 September 2012 by yandi

Tabanan-Kreativitas masyarakat Tabanan kian hari tiada habisnya menelorkan gagasan-gagasan kreatif untuk memberikan sumbangsih bagi kabupaten yang dikenal dengan kota lumbung padi ini. Tidak hanya pemudanya, namun hampir semua elemen turut memberikan sumbangsihnya dalam beragam kemampuan yang dimiliki. Dan kembali semangat gotong-royong dan keguyuban serta kerendah-hatian mendasari pelaksanaannya.

Salah satu yang menjadi trending topic di group Talov adalah digagasnya pilot project UNACOB yang nantinya dipopulerkan dengan istilah Pesraman Dharmaning Vidya dengan rencana mengambil lokasi di desa Sarin Buana. UNACOB – Universal New Age Camp of Bali, suatu konsep yang digagas oleh Bapak Djaya Wirata yang akrab dipanggil Jik Djawir oleh ‘putra-putri’ beliau di group Talov. Djik Djawir adalah seorang arsitek, pengrajin, dan salah satu penerima anugerah Upakarti bidang jasa pengabian dari pemerintah tahun 2010 dalam proses aktivitasnya yang gigih membina para pengrajin. Dengan mengedepankan aktivitas-aktivitas belajar dalam format camp di alam yang indah di Tabanan dan bahkan di seantero Bali. Tidak ada bangunan permanen di dalamnya untuk tetap menjaga keutuhan tata ruang Bali dan lingkungan. Jadi lansekap dan bangunannya benar-benar menerapkan eco-green environment.

Jik Djawir

Jik Djawir dalam kesempatan meninjau bakal lokasi UNACOB di Sarinbuana. (dok.pribadi)

“Dengan konsep ini, semua elemen terutama pemuda dan masyarakat diharapkan memiliki wawasan yang jernih, tidak mudah menjual tanahnya dan sedapat mungkin secara maksimal memberdayakan potensi lokal sehingga mereka bisa diberdayakan secara ekonomi dan semakin lama tumbuh menjadi aktivitas ekonomi dan sosial budaya. Ini yang diharapkan akan mampu membendung luapan urbanisasi dan turut berperan serta menyelamatkan Bali dari gempuran investor yang sekedar mencari untung di Bali,” terang Jik Djawir yang dulunya mengenyam pendidikan di ITB dan hingga kini tetap menekuni profesi sebagai arsitek ini.

Gagasan yang terbersit sejak 3-4 bulan yang lalu sebenarnya merupakan akumulasi dari perjalanan hidup Djik Djawir.  Selepas acara nonton bareng sebuah film dokumenter di Akasa dan aktif dalam diskusi hangat tentang kondisi-kondisi hangat tentang pertanian, kegerahan Djik Djawir terkondisikan untuk lebih semangat menggagas suatu project yang mampu menjadi salah satu jawaban atas problem-problem kemasyarakatan yang ada.

“Bagi saya, hal-hal yang paling indah dalam hidup adalah ketika apa yang saya kerjakan bermanfaat bagi orang lain,” lanjutnya ketika ditanya kesan terindahnya dalam hidup.

Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Djik Djawir tetap menyimpan energi muda yang sangat dikagumi, waktunya banyak dihabiskan untuk membina pengrajin dan para petani di berbagai tempat.  Sebutlah nama seperti Ina Pendit, Bp. Dharma Putra (yang telah menyumbangkan nama pesraman), Bp. Hery Angligan, Wahya Biantara, Djaya Negara, Putra Sedana, Gede Sinu, Way Surya, Wahyudi,  Bp. Made Nurbawa, dan lain-lain yang tergabung dalam group Talov tanpa banyak bicara langsung bergabung untuk mensukseskan pilot project UNACOB ini.

logo UNACOB

Logo UNACOB yang didesain oleh Jaya Negara

Dengan Visi yang telah ditetapkan yaitu menjadikan insan yang lebih berdaya secara mental (karakter), terampil, dan berbudi pekerti yang baik, ditetapkanlah misi yang tentunya selaras untuk mencapai visi tersebut.  Misi yang telah ditetapkan antara lain:

  1. Peserta program akan mendapatkan layanan berupa kursus, rekreasi/hiburan sesuai dengan camp-camp yang disediakan.
  2. Lingkungan dimana program ini dilaksanakan akan dijaga kelestariannya baik oleh pengelola, masyarakat, maupun peserta.
  3. Masyarakat sekitar dapat diberdayakan secara ekonomi dengan melibatkan mereka semaksimal mungkin dalam mengisi berbagai kebutuhan program.
  4. Mencari hubungan dengan lembaga-lembaga yang punya kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat untuk turut ambil bagian di dalamnya.
  5. Usaha ini adalah usaha bersama (dari,oleh, dan untuk kita).

“UNACOB ini akan lebih seperti sekolah alam, ada yang bersifat permanen, tetapi juga akan menyediakan unsur rekreasi/wisata yang bersifat insidentil atau pendamping. Sedikit berbeda dengan Pramuka namun Pramuka pun bisa melakukan kegiatan disini. UNACOB akan menjadi suatu lingkungan yang unik dan berkembang seiring perjalanan waktu dan daya inovasi entitas yang terlibat di dalamnya,” terang Djik Djawir.

Hal ini juga diiyakan oleh Bp. Made Nurbawa yang menginginkan agar anak-anak lebih mengenal alam dan lingkungan dengan kearifan lokal. Jangan sampai pengaruh modernisasi yang tidak diimbangi dengan kearifan lokal justru akan menjadi suatu bom waktu di masa mendatang. Anak-anak masih perlu mengenal dan bisa menyentuh pohon juwet, boni, kepundung, gatep,  memelihara dan memandikan sapi, ngangon sapi dan kerbau, memberi makan ikan, itik , membuat canang, dan lain-lain. Memang hal ini masuk akal dan relevan, sangat menyentuh jika kita melihat agresivitas dalam jaman yang serba modern, anak-anak lebih banyak didera oleh hal-hal modern namun sedikit sekali yang menyentuh area-area sosial mereka.  Dan mengkhawatirkan sekali jika hal ini terus berlanjut dalam generasi mendatang. Kita tidak sedang menciptakan robot masa depan bukan?

Berbagai persiapan sudah mulai dilakukan diantaranya pembuatan website,  logo, sosialisasi juga dilakukan getuk tular (dari mulut ke mulut).  Lalu dimana lokasi dan bagaimana penyediaan lahannya?
Tentu dengan konsep gotong-royong yang disampaikan di atas, dan juga untuk melatih kebersamaan tersebut dibutuhkan sarana. Dan atas inisiatif Djik Djawir lahan yang beliau miliki akan dipinjamkan untuk mendukung terlaksananya pilot project ini.

“UNACOB bukan suatu usaha dengan permodalan tertentu, kita ingin semuanya berjalan ibarat air mengalir, tergantung partisipasi teman-teman. Dukungan berbagai pihak termasuk teman-teman dosen dari Pasca Sarjana UNUD juga tak kurang untuk kesanggupannya memberikan pelatihan-pelatihan. Setiap sumbangsih dari berbagai pihak sangat kami hargai. Ini seperti mewujudkan mimpi saya, gagasan yang muncul dari suatu obsesi sejak 15 tahun lalu untuk mendirikan sentra pengembangan produk melalui sebuah pesraman yang nantinya mampu mendatangkan orang-orang asing untuk mewujudkan idenya menjadi karya yang memiliki nilai jual untuk dipasarkan ke mancanegara. Bali adalah tempat yang tepat, kita siapkan lahan dan SDMnya. Hal ini belum terwujud sepenuhnya, saya baru menyiapkan lahan saja,”kata Djik Djawir menegaskan.

“Dengan konsep ini, semua elemen terutama pemuda dan masyarakat diharapkan memiliki wawasan yang jernih, tidak mudah menjual tanahnya dan sedapat mungkin secara maksimal memberdayakan potensi lokal sehingga mereka bisa diberdayakan secara ekonomi dan semakin lama tumbuh menjadi aktivitas ekonomi dan sosial budaya.

Disini dituntut peran aktif semua entitasnya. Ibarat mendayung perahu naga, dibutuhkan kerjasama dan kekompakan dalam team untuk dapat melaju. Bergerak, diam, melambat, semuanya ibarat suatu mata rantai dalam proses yang harus siap diterima sebagai suatu konsekuensi dalam pembelajaran.

Tentu sebuah gagasan mulia yang patut mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan pesraman yang akan menelorkan jiwa-jiwa kreatif yang bermental baja, memiliki kecerdasan emosional, spiritual, financial, dan dilandasi budi pekerti yang baik. Diharapkan mereka menjadi garda terdepan pembangunan masyarakat yang lebih baik, santun, dan bertanggung jawab. Dan menutup pembicaraan, Djik Djawir mengajak siapa saja untuk turut bergabung menjadikan UNACOB ini dapat terwujud dan berjalan seperti yang diharapkan. Perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama.

Bagi Anda yang ingin bergabung dalam mensukseskan UNACOB atau bertanya lebih lanjut tentang UNACOB bisa menuliskannya di komentar di bawah.

 

Comments (2)

Genderisme Masa Kini

Tags: , , , ,

Genderisme Masa Kini

Posted on 04 May 2012 by inapendit

Beberapa waktu yang lalu di Rumah Belajar Akasa, ketika tiba waktu untuk belajar anak kelas 5 aku dan salah seorang volunteer asing, Jacky memutuskan untuk menggabungkan mereka semua dalam diskusi kelompok. Dan tau apa yang terjadi? Beberapa anak laki-laki menolak untuk bergabung dengan alasan yang tidak masuk akal. Kalau satu kelompok dengan anak perempuan  nanti dipanggil “banci”, begitu kata mereka.

Ya karena kami tidak memaksakan kehendak, akhirnya 4 anak lelaki yang sebentar lagi menginjak remaja ini kami biarkan lepas dari elompok besar. Aku jadi heran kenapa hanya mereka yang menolak, sedangkan anak lelaki lainnya dengan senang hati bergabung. Ketika ditanya pun aku hanya mendapatkan jawaban yang tidak masuk akal, ya seperti tadi.

Continue Reading

Comments (0)

Mencontek Saat Ujian Harus Dimaklumi

Tags:

Mencontek Saat Ujian Harus Dimaklumi

Posted on 23 April 2012 by esa bhaskara

Mencontek merupakan tindakan yang tidak terpuji. Mencontek adalah cerminan dari rasa tidak percaya diri. Mencontek adalah moral yang tercemar. Mencontek adalah praktek korupsi skala kecil, dan bisa berpengaruh besar jika dilakukan dengan sangat rapi.

Mencontek harus dimaklumi.

Siapa yang mempermasalahkan praktik mencontek? Orang-orang yang memiliki moralitas! Lalu setelah mengetahui mencontek perbuatan tidak terpuji, mengapa dihalalkan? Keadaan untuk menyelamatkan diri adalah penyebabnya! Tak selamanya mencontek salah kan? Bijaksanalah kiranya jika mencontek dimaklumi.

Berbeda dengan praktik korupsi sekala besar, seperti makan uang rakyat misalnya, tidak ada celah untuk dimaklumi.

 

Praktik ini jelas-jelas salah dan bertentangan dengan hukum. Pun mereka melakukannya bukan karena keadaan menyelamatkan diri melainkan untuk memperkaya diri. Korupsi ini memang sebuah pekerjaan sampingan yang sangat menguntungkan.

Kembali pada masalah mencontek. Mencontek yang dilakukan oleh pelajar, baik tingkat SMA, SMP, bahkan SD, ketika ujian nasional (UN) perlu dimaklumi. Mereka dituntut lulus atau meraih nilai bagus ketika ujian. Padahal kemampuan belum memungkinkan untuk itu.

Selama belajar bertahun-tahun di sekolah, para pelajar ini selalu merasa belum siap dalam ujian nasional. Apakah karena siswa yang memang tidak serius dalam belajar selama kurun waktu itu, atau para guru yang mendampingi mereka (siswa) dalam belajar di sekolah tidak becus?

Ini yang sebenarnya harus ditelaah dengan teliti lagi. Jika kedua faktor ini (guru dan siswa) bekerja dengan baik, maka mencontek tak akan dilakukan.

Ketika dua faktor di atas tidak bekerja maksimal harusnya sistem ujian nasional tidak dijadikan acuan lulus dan tidak lulus. Jika ini masih dilakukan, sama astinya ujian nasional tidak berguna. Praktik mencontek akan selalu terjadi. Kecurangan akan terus dihalalkan, ditempuh dengan cara apa pun.

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang dirasa cukup tinggi, membuat siswa-siswi cukup terbebani sehingga menghalalkan segara cara untuk mencapai ketuntasan tersebut.

Apa yang didapat ketika kegiatan belajar-mengajar seperti terlupakan ketika menghadapi soal-soal ujian. Seringkali mereka ragu dengan jawaban mereka sehingga mengandalkan ‘contekan’ sebagai upaya agar lulus ujian.

Sebenarnya, bisa saja siswa-siswi mampu mengerjakan soal-soal ujian tanpa mencontek. Rasa takut akan gagalnya ujian menjadi faktor utama mereka mencontek. Jika tidak lulus, apakah pemerintah mau bertanggung jawab?

Seharusnya kebijakan ujian nasional sebagai patokan lulus ini diikuti dengan tanggung jawab. Walaupun ada pendidikan kesetaraan, apa gunanya mereka menghabiskan uang dan biaya jika akhirnya mereka hanya mengantongi ijasah paket.

Sistem peningkatan kualitas yang saling tumpang tindih mengaburkan semua. Bagaimana tujuan pendidikan yang katanya ingin mencerdaskan bangsa bisa tercapai jika masih seperti ini? Jangan tanyakan pada siswa dan guru, karena mereka telah menjalankan swadarma mereka masing-masing dalam rangka memperbaiki kualitas diri.Tanyakan para pembuat kebijakan dan pihak-pihak terkait.

Mendapat nilai murni hasil kerja sendiri, apalagi jika hasilnya bagus pasti sangat menyenangkan. Bagaimana jika mengerjakan soal-soal ujian dengan hasil kerja sendiri tapi malah mengecewakan dan tidak lulus, apakah masih menyenangkan?

Selamat menempuh ujian nasional siswa-siswi di Tabanan, dan seluruh Indonesia. semoga sukses

Comments (0)

Pendidikan di Persimpangan Jalan

Tags:

Pendidikan di Persimpangan Jalan

Posted on 18 April 2012 by dwitanaya

Mungkin ini juga menjadi beban pikiran banyak orang lainnya saat ini. Pendidikan di Indonesia, di tengah pencanangan program wajib belajar, berada di titik persimpangan, kalau boleh saya tulis selebay mungkin, satu jalan mengarah ke jalan terjal tanpa pegangan yang kuat disaat jalan yang lagi satu mengarah ke jalan buntu,kalau kurang sreg disebut jurang kematian.

Lho masak separah itu? Saya sederhana saja berpikirnya. Ada beberapa patokan yang saya gunakan; kualitas pendidik, kurikulum dan biaya tentu.

Kualitas Pendidik

Dalam dunia pendidikan di belahan dunia manapun, kualitas pendidik bagi saya menjadi poin krusial. Masalahnya sebenarnya sederhana tapi rumit.

Di saat melimpahnya lulusan segar dari universitas, sekolah tinggi atau akademi yang pastinya membutuhkan sandaran hidup yang bernama dunia kerja, dunia kerja ternyata tidak cukup menampung semuanya. Sederhana bukan? Tapi solusinya tentu tidak sesederhana membuka facebook. Bekerja di jalur swasta tentu menarik, tapi jumlah yang bisa diserap perusahaan tidaklah sebanyak arus lulusan tiap tahunnya. Selain itu, bekerja di perusahaan swasta memiliki resiko yang jelas untuk sebagian besar orang.

Dipecat ditengah jalan , gaji kecil dan tidak adanya jaminan sosial dan hari tua yang cukup ( walau banyak perusahaan swasta yang sudah memiliki good will soal hal–hal tersebut diatas). Dilema itulah yang akhirnya menjadikan pekerjaan sebagai abdi praja atau kerennya disebut PNS menjadi pilihan yang sangat logis bagi sebagian besar masyarakat.

Selain menjadi PNS biasa, solusi yang menjanjikan adalah menjadi GURU. Bedanya guru dengan PNS biasa apa sih? Beda bos. Menjadi guru berarti peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih dibandingkan PNS lainnya. Tersebutlah sebuah program yang bernama sertifikasi. Guru bersertifikasi mendapatkan penghasilan yang berlipat dibandingkan PNS dengan grade setara pada umumnya. Lho, lulusan Universitas kan tidak bisa menjadi guru?

Continue Reading

Comments (7)